Rabu, 29 Desember 2010

UPAYA PONDOK PESANTREN UNWANUL FALAH DALAM MENINGKATKAN KELULUSAN SISWA PADA UJIAN AKHIR NASIOANAL DI MTs NW PAO’LOMBOK Desa TEBABAN Kec. SURALAGA LOMBOK TIMUR TAHUN PELAJARAN 2007/2008”.

OLEH: MUH. ZAKARIA. S.Pd.I



BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Kebijakan Depdiknas di bidang pendidikan terutama terkait dengan otonomi daerah, di satu sisi memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para pelaku pendidikan untuk menentukan sendiri kebijakan-kebijakan yang ditempuh dalam kaitannya dengan upaya peningkatan kualitas pendidikan yang berdampak pada tingkat kelulusan para siswanya yang menempuh ujian nasional. Namun disisi lain, para pelaku pendidik disibukkan dengan berbagai macam hambatan dan tantangan. Salah satu contoh kecil yang merupakan hambatan yang dihadapi oleh para pelaku pendidikan adalah masalah sumber daya manusia. (guru) yang relaif belum memadai dalam berbagai aspek, seperti kemampun memilih metode mengajar, kemampun manguasai materi, kemampun merumuskan silabi dan sebagainya. Sementara yang menjadi tantangannya, diantaranya adalah adanya peraturan pemerintah tentang standar minimum kelulusan yang harus dipenuhi oleh peserta didik sehingga yang bersangkutan baru dinyatakan lulus dalam ujian kalau sudah mencapai minimal tersebut. Di samping itu, para pengelola pendidikan terutama dilembaga pendidikan swasta (seperti lembaga pendidikan MTs Unwanul Falah NW Pao’Lombok Desa Tebaban) tempat peneliti mengadakan penelitian, dihadapkan pada berbagai persoalan sebagaimana disebutkan diatas.
Adanya ketentuan pemerintah tentang standar minimum kelulusan, pada hakekatnya merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan tujuan umum pendidikan nasional sebagaimana yang termuat dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan nasioanal Tahun 2003, yaitu “Untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk manusia seutuhnya yaitu manusia yang berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan, keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, keperibadian yang mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”. (UUD. Guru dan Dosen No. 20: 2003)
Untuk merealisasikan tujuan pendidikan nasional tersebut, para pengelola pendidikan dewasa ini telah mulai melakukan berbagai macam terobosan. Terobosan-terobosan yang dimaksud, secara kasad mata menunjukkan adanya perkembangan dan sekaligus terdapat persaingan dalam dunia pendidikan. Dimana terobosan-terobosan tersebut terkandang menemukan dan mengembangkan cara-cara baru untuk meningkatkan prestasi belajar siswa berbagai macam metode dan strategi yang ditemukan maupun pendekatan yang digunakan dalam proses pembelajaran dan selanjutnya diteliti kemudian diterapkan guna untuk menyempurnakan dan peningkatan prestasi dan kemampun siswa dalam memahami pelajaran tersebut. Pendekatan, metode dan berbagai macam media yang digunakan terkadang dikatakan tidak bisa memenuhi kebutuhan peserta didik dalam konteks meningkatkan prestasi belajar siswa dan meningkatkan kelulusanya. Dengan adanya persaingan yang cukup ketat karena ditetapkannya standarisasi nilai evaluasi murni (NEM) yang diharuskan 5,25 yang tidak memenuhi standar kelulusan tersebut dinyatakan tidak lulus namun yang bersangkutan diberikan kesempatan untuk mengikuti ujian paket B, sehingga mengharuskan para guru dan siswa untuk berpikir ekstra dalam melakukan berbagai macam upaya untuk bisa mencapai target nilai tersebut. Para pengelola pendidikan (kepala madrasah dan para guru) secara bersama-sama berusaha mencari terobosan baru yang dianggap paling mantap untuk mempersiapkan para siswanya di kelas III yang mengikuti ujian nasional. Salah satu jurus yang dianggap paling jitu dan bisa dilakukan oleh para siswa adalah dengan membentuk belajar kelompok atau biasa disebut dengan Regu Belajar Bersama (Cooperative Leraning).
(Hersa Krisna Dkk: 2004) mengatakan, Sebenarnya regu belajar Bersama (RBB) ini merupakan salah satu strategi yang digunakan dalam suatu organisasi kemahasiswaan guna memenuhi kebutuhan anggotanya selaku mahasiswa dalam meningkatkan nilai akademisnya peningkatan indeks prestasi (IP) mahasiswa yang menjadi anggotanya. Sebelum metode tersebut diterapkan dalam proses belajar mengajar, terlebih dahulu yang dilakukan menganalisis kondisi kekurangan siswa dalam setiap mata pelajaran, kemudian setelah dewan guru mendapatkan siswa yang lemah dalam suatu mata pelajaran yang tentunya dirasakan sangat sulit oleh siswa yang bersangkutan maka siswa-siswa dikelompokkan pada satu kelompok tertentu. Misalnya si A dan si B beserta tiga orangnya lemah dalam mata pelajaran bahasa arab dan bahasa inggris, maka kelima siswa tersebut dikelompokkan menjadi satu dalam kelas bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Begitu juga dengan siswa yang lainnya yang dianggapa masih kurang atau lemah pada mata pelajaran tertentu akan dkelompokkan kepada siswa lainnya yang dipandang mempunyai kelemahan atau kekurangan pada mata pelajaran yang sama. Untuk melakuakan penelitian dan penilaian terhadap siswa-siswa tersebut, guru menggunakan penilaian acuan norma (PAN) bedanya dengan strategi-strategi yang lain adalah bahwa dalam strategi Regu Belajar Bersama ini satu kelompok siswa kelas III yang lemah dalam mata pelajaran bahasa Arab dan Inggris akan dibimbing, ketika siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal latihan, guru bahasa Arab dan Inggris inilah yang akan membimbing dan memandu mereka untuk mengatasi permasalahan yang dihadapinya.
Berdasarkan observasi awal yang peneliti dapatkan dari kepala Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok, bahwa tingkat kelulusan kelas tiga MTs NW Pao’Lombok Tahun Pelajaran 2006/2007 mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya, kalau pada tahun ajaran 2005/2006 dari 91 seorang siswa yang mengikuti ujian, hanya lulus 30 orang (32,97%), maka pada tahun ajaran 2006/2007 ini dari 102 peserta ujian, yang lulus 99 orang 3 orang siswa tidak lulus dengan perincian 1 orang siswa tidak lulus karena tidak ikut ujian dan yang 2 orang lagi tidak lulus, karena yang bersangkutan memang hasil nilai ujiannya belum bisa mencapai standar minimal yang telah ditetapkan oleh pemerintah. (Observasi 12 Agustus 2007).

Dari observasi awal yang dilakukan peneliti, Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok sedang giat-giatnya berupaya meningkatkan out put pembelajaran, yakni meningkatkan kelulusan siswa dalam pada ujian akhir nasioanl tahun ajaran 2007/2008.
Dari uraian latar belakang masalah di atas peneliti tertarik sekali untuk menelitinya lebih lanjut dengan judul “UPAYA PONDOK PESANTREN UNWANUL FALAH DALAM MENINGKATKAN KELULUSAN SISWA PADA UJIAN AKHIR NASIOANAL DI MTs NW PAO’LOMBOK Desa TEBABAN Kec. SURALAGA LOMBOK TIMUR TAHUN PELAJARAN 2007/2008”.
B.RUMUSAN MASALAH
Dari paparan latar belakang diatas dapat dirumuskan beberapa pokok permasalahan antara lain:
1.Apakah upaya-upaya Pondok Pesantren Unwanul Falah dalam meningkatkan keulusan siswa pada ujian akhir nasioanal di MTs NW Pao’Lombok Desa Tebaban Kec. Suralaga Lombok Timur Tahun Pelajaran 2007/2008.?
2.Apakah hambatan yang dihadapi Pondok Pesantren dalam meningkatkan kelulusan siswa pada ujian akhir nasioanal di MTs NW Pao’Lombok Desa Tebaban Kec. Suralaga Lombok Timur Tahun Pelajaran 2007/2008.?

C.TUJUN PENELITIAN
Terkait dengan rumusan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:
1.Ingin mengetahui upaya-upaya Pondok Pesantren Unwanul Falah dalam meningkatkan kelulusan siswa pada ujian akhir nasioanal di MTs NW Pao’Lombok Desa Tebaban Kec. Suralaga Lombok Timur Tahun Pelajaran 2007/2008
2.Untuk mengetahui hambatan yang dihadapi Pondok Pesantren Unwanul Falah dalam meningkatkan kelulusan siswa pada ujian akhir nasioanal di MTs NW Pao’Lombok Desa Tebaban Kec. Suralaga Lombok Timur Tahun Pelajaran 2007/2008.
D.KEGUNAAN PENELITIAN
Penelitian ini berguna, baik secara teoritis dan praktis, yaitu:
1.Secara Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah pengetahuan dalam rangka memotivasi siswa untuk melakukan berbagai macam cara belajar yang efektif untuk meningkatkan kualitas/hasil belajarnya. Diharapkan juga dapat menambah wawasan keilmuan dalam pendidikan kaitannya dengan pada Ujian Ahir Nasional.
2.Secara Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat:
a)Bagi Pondok Pesantren (Lembaga)
Dapat meningkatkan mutu pendidikan dan kepercayaan masyarakat terhadap apa yang diterapkan kaitannya dengan regu belajar bersama dengan melihat hasil kelulusan siswa.
Bagi para guru dapat mengembangkan konsep-konsep baru yang berkaitan dengan upaya peningkatan tingkat kelulusan siswa, khususnya di lembaga pendidikan Pondok Pesantren Unwanul Falah Pao’Lombok, Lombok Timur. pada umumnya dalam meningkatkan kualitas pendidikan kaitannya dengan penggunaan dan keefektifan Kelompok Belajar Bersama pada siswa kelas III khususnya, siswa MTs Paok’Lombok pada umumya.
b)Bagi Siswa
Hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat dijadikan sebagai motivasi bagi siwa dalam belajar dengan melaksanakan metode kerja kelompok bagi siswa di sekolah maupun di luar sekolah.
Siswa yang mengalami kesulitan merasa tertolong dalam pada Ujian Akhir Nasional, guru dapat memberikan bimbingan terhadap siswa yang mengalami kesulitan.
c)Bagi Masyarakat
Penelitian ini nantinya diharapkan dapat memberikan kesadaran terhadap pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka terutama dalam belajar. Dan dapat menghilangkan kecemasan terhadap anak-anak mereka dalam pada ujian akhir semester.

E.PENEGASAN ISTILAH
Untuk menghindari terjadinya perbedaan pemahaman dari pembaca dalam menginterprestasikan istilah-istilah yang terdapat dalam judul skripsi ini, maka perlu dijelaskan istilah yang dianggap urgen sebagai berikut:
1. Pondok Pesantren
Kata Pesantren itu berasal dari kata santri yang berarti “bahwa tempat tinggal para santri” jadi biasanya ada gedung asrama didalam batasan tembok pesantren yang ditempati para santri. (Dhofier, Zamakhsyari. LP3ES, 2004: 26).
Selanjutnya pondok pesantren yang dimaksudkan oleh peneliti disini adalah pondok pesantren Unwanul Falah Pao’lombok Desa Tebaban Kec. Suralaga Lombok Timur
2. Upaya
Istilah Upaya dalam Kamus Bahasa Lengkap Indonesia Moderen adalah usaha atau syarat untuk menyampaikan suatu maksud, akal, ikhtiar. (Hamzah Samsuri. 2006:12)..
Selanjutnya upaya yang dimaksudkan oleh peneliti disini adalah upaya pondok pesantren Unwanul Falah Pao’lombok Desa Tebaban Kec. Suralaga Lombok Timur
3. UAN
UAN adalah singkatan dari Ujian Akhir Nasinal, yang merupakan evaluasi tahap akhir di setiap jenis dan jenjang pendidikan secara nasional. Selanjutnya UAN (Ujian Akhir Nasional) yang dimaksudkan oleh peneliti disini adalah. Ujian Akhir Nasional di Pondok pesantren Unwanul Falah Pao’lombok Desa Tebaban Kec. Suralaga Lombok Timur
F. KAJIAN PUSTAKA
Untuk lebih fokusnya pembahasan sesuai pokok permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini, maka pada bagian ini secara berurutan akan dipaparkan beberapa pokok bahasan, antara lain: Upaya Pondok Pesantren Unwanul Falah dalam meningkatkan kelulusan siswa pada ujian akhir nasional dan kendala-kendala apa yang dihadapi Pondok Pesantren Unwanul Falah dalam meningkatkan kelulusan siswa pada ujian akhir nasional Di MTs NW Pao’Lombok Desa Tebaban Kec. Suralaga Lombok Timur.
1. Kegiatan Belajar Mengajar
a. Belajar dan Teori Belajar
1. Pengertian Belajar
Hampir semua ahli mencoba merumuskan dan membuat tafsiran tentang belajar. Dalam uraian ini, dalam bukunya Oemar Hamalik (2008: 27), mendefinisikan tentang belajar yakni: belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan.
Menurut pengertian ini belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan.
2. Ciri-ciri Belajar
William Burton (Dalam Bukunya Umar Hamalik Proses Belajar Mengajar 2008: 31) berpendapat tentang prinsip-prinsip belajar sebagai berikut:
a) Proses belajar ialah pengalaman, berbuat, mereaksi, dan melampaui
b) Pengalaman belajar bersumber dari kebutuhan dan tujuan murid sendiri yang mendorong motivasi secara kontinu
c) Proses belajar berlangsung secara efektif apabila pengalaman-pengalaman dan hasil-hasil yang diinginkan disesuaikan dengan kematangan murid
d) Proses itu melalui bermacam-macam ragam pengalaman dan mata pelajaran yang terpusat pada suatu tujuan tertentu
e) Proses belajar berlangsung secara efektif di bawah bimbingan yang merangsang dan membimbing tanpa tekanan dan paksaan.

3. Faktor-Faktor Belajar
Selanjutnya mengenai faktor-faktor belajar, Oemar Hamalik (2008: 32) menyebutkan beberapa faktor belajar diantaranya:
a) Faktor kegiatan, penggunaan dan ulangan. Siswa yang belajar melakukan banyak kegiatan baik kegiatan Neural System , seperti melihat, mendengar, merasakan, berfikir, kegiatan motoris dan sebagainya.
b) Belajar melakukan latihan dengan jalan relearning. recallaing, dan reviewing agar pelajaran yang terlupakan dapat dikuasai kembali dan pelajaran yang belum dikuasai akan lebih mudah dipahami.
c) Faktor asosiasi besar manfaatnya dalam belajar, karena semua pengalaman belajar antara yang lama dengan yang baru secara berurutan diasosiasikan, sehingga menjadi satu kesatuan pengalaman.
d) Pengalaman masa lampau (apersepsi) dan pengertian yang telah dimiliki oleh siswa.
e) Faktor kesiapan belajar murid yang telah siap belajar akan dapat melakukan kegiatan belajar lebih mudah dan berhasil.
f) Faktor minat dan usaha. Belajar dengan minat akan mendorong siswa belajar lebih baik dari pada belajar tanpa minat. Minat ini timbul apabila murid tertarik akan sesuatu, karena sesuai dengan kebutuhannya atau merasa bahwa sesuatu yang akan dipelajari dirasakan bermanfaat bagi dirinya.
g) Faktor fisiologi. Kondisi badan siswa yang belajar sangat berpengaruh dalam proses belajar. Badan yang lemah, lelah akan menyebabkan perhatian belajar tidak sempurna..
h) Faktor intelegeni. Murid yang cerdas akan lebih berhasil dalam kgiatan belajar, karena ia lebih mudah menangkap, memahami pelajaran, dan lebih mudah mengingat pelajarannya.

4. Teori Belajar
Teori Psikologi Gestalet tentang belajar. Menurut aliran ini jiwa manusia adalah satu keseluruhan yang berstruktur suatu keseluruhan bukan terdiri dari bagian-bagian atau unsur-unsur. Unsur-unsur itu berada dalam kseluruhan menurut struktur yang sudah ditentukan dan saling berinterelasi satu sama lain. Contoh kepala manusia bukan merupakan penjumlahan dari batok kepala, telinga, mata, hidung, dagu, dan dahi. Kepala adalah suatu keseluruhan unsur-unsur pada kepala yang terletak pada struktur tertentu.
Teori ini sangat berpengaruh terhadap pengertian belajar, diantaranya:
a) Tingkah laku terjadi berkat interaksi antara individu dan lingkungannya.
b) Bahwa individu berada dalam keseimbangan yang dinamis, adanya gangguan terhadap keseimbangan itu akan mendorong terjadinya tingkah laku.


b. Tehnik belajar Mengajar
1. Strategi Belajar Mengajar
Strategi mengajar adalah tindakan guru melaksanakan rencana mengajar, artinya usaha guru dalam menggunakan beberapa variabel pengajaran agar dapat mempengaruhi para siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Sudjana. 2008: 147).
Sedangkan Syaiful Bahri Djamaah dan Aswan Zain (2006: 5), menyatakan secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru, anak didik dalam terwujudnya kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.
Lebih lanjut Syaiful Bahri Djamaah dan Aswan Zain, menyatakan Ada empat strategi belajar mengajar dasar yang meliputi hal-hal sebagai berikut:
a) Mengidentifikasi serta menetapkan spesipikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan
b) Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.
c) Memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan tehnik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif.
d) Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau kriteria standar keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil kegitan belajar mengajar yang selanjutnya dijadikan umpan balik buat penyempurnaan sistem instruksional yang bersangkutan secara keseluruhan.
2. Ciri-ciri belajar mengajar
Menurut Edi Suardi ( 2006: 39), menyatakan ada beberpa ciri-ciri belajar mengajar diantaranya sebagai berikut:
a) Belajar mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membentuk anak didik dalam suatu perkembangan tertentu.
b) Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
c) Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus. Dalam hal ini materi harus didesain sedemukian rupa sehingga dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
d) Ditandai dengan aktivitas anak didik. Sehingga konsekuensi bahwa anak didik merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.
e) Dalam kegiatan belajar mengajar guru berperan sebagai pembimbing, dalam peranannya sebagai pembimbing guru berusaha menghidupkan motivasi, agar terjadinya interaksi yang kondusif.
f) Ada batas waktu
g) Evaluasi.

Dari seluruh kegiatan diatas dapat diambil garis batasan bahwa dalam proses belajar mengajar tidak telepas dari guru, siswa, sarana prasarana, dan metode yang di gunakan untuk mencpai tujuan.

2. Model-Model Pendekatan Belajar Mengajar
Pendekatan berarti ilmu tentang metode, sedangkan metode berarti cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan (Suparta dan Herry Noer Aly. 2005: 19).
Berbicara tentang pendekatan atau metode yang diterapakan dalam pembelajaran, maka akan di ingat tentang beberpa metode belajar yang ditawarkan kepada ahli. Walaupun antara satu dengan lainnya menggunakan istilah yang berbeda tentang metode tersebut, namun hakekatnya sama. Sudjana (2005) dan Lie (2002: 23-28) misalnya. Lie mengungkapkan bahwa pendekatan belajar dapat dibagi menjadi beberapa macam, yaitu:
a. Pendekatan Kompetisi
Dalam model pendekatan kompetisi, siswa belajar dalam suasana persaingan, tidak jarang pula guru memakai imbalan dan ganjaran sebagai sarana motivasi siswa dalam memenangkan kompetisi dengan sesama temannya. Dampak positif dari metode ini adalah adanya rasa kegelisahan pada diri siswa yang justru bisa memacu siswa yang bersangkutan untuk meningkatkan kegiatan belajarnya. Selain itu, metode ini mempunyai dampak negatif yang kerap kali dapat merugikan siswa, sehingga sangat perlu untuk diwaspadai. Metode pembelajaran kompetisi dapat menciptakan suasana permusuhan dikelas. Untuk bisa berhasil dalam sistim ini, maka seorang anak harus bisa mengalahkan teman-teman kelasnya. Sering siswa/siswi yang berhasil memperoleh nilai yang tinggi yang di musuhi karena dianggap menaikkan rata-rata kelas dan menjatuhkan siswa yang lainnya. Sehingga kekalahan “label” dalam persaingan ini bisa menjadi stigma atau menjadi luka batin yang terus-menerus membekas dan menggangggu dalam kehidupan seseorang.
b. Pendekatan Individual
Metode atau pendekatan individu adalah salah satu metode yang di terapkan di amerika yang dianggap bisa memotivasi siswa dalam menjalankan tugas belajar. “Dalam metode ini, siswa belajar dengan kecepatan yang sesuai dengan kemampun mereka sendiri sehingga seorang siswa tidak bermusuhan dengan sisswa lainnya akan tetapi mereka bersaing dengan diri sendiri” (Lei, 2002: 24).
Pendapat yang mendasari pembelajaran individual ini adalah suatu kesatuan yang masing-masing memiliki ciri dan khas tersendiri, karena itu tidak ada dua individu yang boleh sama, menurut (Hamalik 2001: 180).
Dan asumsi yang lain menyatakan bahwa setiap siswa mampu belajar sendiri dengan sedikit bantun pengajar. Dalam prakteknya anak didik masih tetap membutuhkan seorang pendidik yang akan membimbingnya dalam melakukan belajar dan memberikan jalan keluar (solusi)
Dari pendapat diatas sejalan dengan Sudjana (2005: 79), menyatakan bahwa metode atau pendekatan belajar dapat diklasipikaskan sebagai berikut, yaitu:
1. Metode Diskusi
Diskusi adalah tukar menukar informasi, pendapat, dan unsur-unsur pengalaman secara teratur untuk mendapatkan pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti atau untuk mempersiapkan keputusan bersama. Dalam diskusi tiap orang diharapkan memberikan sumbangan sehingga seluruh kelompok kembali dengan faham yang dibina bersama.

Metode diskusi merupakan tukar menukar informasi, pendapat dan unsur-unsur pengalaman secara teratur dengan maksud untuk mendapatkan pengertian bersama yang lebih jelas dan teliti tentang sesuatu yang menjadi pokok bahasan. Dan biasanya diskusi digunakan untuk merampungkan keputusan bersama. Oleh karena itu diskusi bukan debat, bukan tempat mencari kesalahan secara subyektif untuk memenangkan faham sendiri. Dalam penerapan metode ini diharapkan kepada setiap orang atau kelompok untuk menyumbangkan segenap pemikiranya sehingga tiap orang atau kelompok kembali dengan memahami bersama.
Lebih lanjut Sudjana (2005: 80) menyatakan:
a) Tentang penerapan atau persiapan diskusi
1) Dalam tujuan diskusi itu harus jelas, untuk pengarah dan pembimbing diskusi lebih terjamin.
2) Anak didik harus memenuhi persyaratan khusus, dari jumlahnya disesuaikan dengan kondisi diskusi tersebut.
3) Penetapan suatu masalah dan rumusan masalah yang akan dibawa dalam forum diskusi tersebut harus jelas
4) Waktu dan tempat dalam melaksanakan diskusi harus tepat, sehingga diskusi tersebut tidak berlarut-larut
b) Tentang pelaksanaan diskusi
1) Membagi tugas dalam diskusi tersebut
2) Mencatat ide-ide atau saran dan pendapat yang penting
3) Membuat struktur kelompok dalam diskusi
4) Memberi motivasi seluruh peserta sehingga dapat termotivasi dan terangsang pemikirannya
5) Menghargai dan menjunjung tinggi pendapat dan masukan yang diajukan oleh peserta lain.
6) Menciptakan situasi dan kondisi diskusi yang menyenangkan
c) Tentang tindak lanjut diskusi
1) Membacakan kembali hasil dari pemaparan peserta untuk diadakan korelasi seperluya.
2) Membuat penilain terhadap pelaksanaan hasil diskusi tersebut guna memperbaiki pelaksanaan diskusi selanjutnya
3) Membuat kesimpulan hasil diskusi

2. Metode Kerja Kelompok
Menurut Sudjana (2005. 82). Yang melandaskan pemikiran pendekatan belajar kelompok ini adalah
a. Pendekatan perorangan dalam kemampuan belajar
b. Perbedaan sifat dan minat siswa
c. Pengelompokan berdasarkan jenis tugas atau permaslahan yang akan kita berikan
d. Pengelompokan atas dasar wilayah

Pendekatan atau metode kerja kelompok merupakan suatu metode yang mengandung kerja kelompok yang mempunyai pengertian bahwa siswa dalam satu kelas dipandang sebagai suatu kesatuan (kelompok) tersendiri maupun dibagi atas kelompok-kelompok kecil atau besar.
Namun demikian, sebaliknya dalam melaksanakan metode kelompok lebih menggambarkan yang hetrogen (kesatun). Hal ini dimaksudkan agar kelompok-kelompok tersebut tidak saling memberatkan.
Sedangkan menurut Oemar Hamalik menyebutkan bahwa jenis kelompok tersebut dibagi menjadi dua bagian yaitu jangka panjang dan jangka pendek
a) Jangka panjang, artinya proses kerja dalam kelompok itu bukan hanya pada waktu itu saja, bukan berlaku untuk periode yang akan datang sesuai dengan tugas/ masalah yang akan di selesaikan
b) Jangka pendek, berarti jangka waktu untuk bekerja dalam kelompok tersebut hanya pada saat itu saja berlakunya jadi sifatnya idental.

3. Metode Demonstrasi dan Eksperimen
Metode Demontrasi dan ekperimen merupakan metode atau pendekatan mengajar yang sangat efektif, sebab dapat membantu siswa dalam mencari solusi atau jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan fakta (kenyatan yang ada). Demontrasi yang dimaksudkan adalah suatu metode belajar yang mengarah kepada bagaimana proses terjadinya sesuatu. Sudjana (2005: 84), menegaskan bahwa kedua metode ini digunakan tetap dalam petunujuk yang telah ditentukan yaitu:
a. Persiapan atau perencanaan
1) Menetapkan tujuan demonstrasi dan eksperimen
2) Menetapkan langkah-langkah pokok eksperimen dan demonstrasi
b. Pelaksanaan Demontrasi dan Eksperimen
1) Usahakan demontrasi dan eksperimen tersebut dapat diamati oleh setiap peserta diskusi
2) Siswa diberikan kesempatan untuk mencoba sehingga siswa merasa yakin tentang kebenaran suatu peroses.
3) Tumbuhkan sikap kritis pada siswa sehingga terjadi tanya jawab antara siswa.
4) Membuat penilaian dari kegiatan siswa dalam eksperimen tersebut.
a) Tindak lanjut dalam demonstrasi dan eksperimen
Setelah demonstrasi dan eksperimen sudah selesai, selanjutnya memberikan tugas kepada siswa baik secara tertulis maupun secara lisan.

c. Pendekatan Regu Belajar Bersama
1. Pengertian Regu Belajar Bersama
Belajar bersama pada dasarnya adalah memecahkan masalah atau persoalan secara bersama-sama, artinya setiap orang menyumbangkan pemikirannya atau gagasan sehingga dapat memperoleh hasil yang baik (Sudjana. 2005: 168).
Pemikiran dari berbagai orang biasanya senantiasa akan memberikan hasil yang maksimal dan dapat menambah pengetahuan yang akan dapat memajuakan tingkat pemahaman siswa dalam belajarnya. Kelomok belajar seringkali di inflementasikan dalam bentuk diskusi dan praktek bersama
Belajar bersama merupakan bentuk saling mengisi dari kekurangan-kekurangan yang dialalmi oleh siswa dalam permasalahan materi-materi pelajarannya atau hal-hal yang membutuhkan adanya sebuah pemecahan terhadap suatu problem dengan dipandu oleh seorang guru yang dianggap kompeten dalam persoalan materi yang menjadi kekurangan siswa dalam belajarnya Freire (1999: 189). Dari beberapa paparan tersebut diatas maka (Hersa, Suharsimi dkk. 2004: 54) dalam “Kurikulum Pendidikan FMN”, mengatakan bahwa regu belajar bersama merupakan kelompok belajar yang sistimatis dengan menggunakan fasilitator atau pembimbing untuk tercapainya tujuan belajar yang dinginkan. Regu belajar bersama merupakan pendekatan yang membutuhkan adanya penyempurnaan atau penambahan terhadap kekurangan siswa dalam hal memahami mata pelajarannya.
2. Landasan teori pendekatan regu belajar bersama
Fieri (1999: 172) mengatakan bahwa Mengetahui adalah sebuah proses, maka mengetahui menurut komunikasi dealektis bukan hanya menuntut seorang saja namun sebaliknya menuntut banyak orang.
Jika pengetahuan itu statis dan tidak melibatkan kesadaran siswa sehingga dapat diletakkan di bagian tubuh manusia yang masih kosong, maka praktek pendidikan seperti ini dapat dibenarkan, akan tetapi pengetahuan itu tidak seperti itu, pegetahuan bukan sesuatu yang dibuat kemudian selesai. Sedangkan kesadaran merupakan kemauan terhadap sesuatu.
Tidaklah seorang guru menyadari bahwa pendidikan itu membelenggu atau tidak, karena intinya tersebut terletak pada manipulasi atau rekayasa kedudukan guru dan siswa, dimana siswa dibuat mejadi objek pasif dari tindakan guru. Sebagai pihak yang pasif siswa tidak dituntut untuk bersikap pasif dalam proses pembelajaran. Seharusnya seorang guru mempelajari kecenderungan-kecenderungan siswa-siawa dan mengetahui sifat dari keperibadian murid-muridnya, sehingga seorang guru akan dapat mengetahui kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan muridnya. Dengan demikian hubungan pribadi akan semaki erat dan dapat mendorong kepada proses belajar mengajar yang lebih efektif selain dari itu juga guru dapat mempersiapkan kegiatan yang serasi dengan keadaan masing-masing siswanya untuk dapat mendorong dan memotivasi mereka (Hamalik, 2004: 105).
Dengan adanya prinsip bahwa tidak ada individu yang sama baik dari segi pemikiran maupun dari segi sisi tubuh. Kemampun manusia sebagai individu berbeda satu dengan yang lainnya, perbedaan itu juga muncul pada minat, perhatian, sikap, cara belajar, kebiasaan belajar, motivasi belajar, dan cara memhami pelajaran. Dengan demikian kegiatan atau proses belajar dan hasil belajar yang sama dari setiap siswa pada hakekatnya mengingkari adanya perbedaan individu. Prinsip individual tidak menjamin terhadap pelayanan secara perorangan, akan tetapi menyesuaikan dengan rata-rata kemampun setiap siswa, memberikan bantun dan bimbingan kepada siswa yang membutuhkan, memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk melakukan cara belajar yang sesuai dengan kemampun siswa (Sudjana, 1989: 164).
Dengan adanya perbedaan pada diri setiap siswa tersebut, itu akan membantu guru dalam berfikir untuk melengkapi berbagai macam kebutuhan-kebutuhan siswanya, sehingga berbagai macam pendekatan-pendekatan belajar yang digunakan, diantara macam-macam pendekatan tersebut sebagai berikut:
a) Pendekatan inquri, pendekatan ini bertolak dari pandangan bahwa siswa sebagai subyek dan obyek dalam belajar, mempunyai kemampuan dasar untuk berkembang secara optimal sesuai dengan kemampauan yang dimiliki. Proses pembelajran harus dikaji sebagai stimulus yang dapat merangsang siswa untuk melakukan kegiatan belajar, guru berperan lebih banyak dalam menempatkan diri sebagai pembimbing belajar dan fasilitator belajar. Dengan demikian siswa lebih mandiri atau dalam bentuk kelompok dalam melakukan dan memecahkan suatu masalah dengan bimbingan guru ( Sudjana, 2005: 154).
Asumsi yang mendasari metode atau pendekatan inquiri adalah:
1) Keterampilan berfikir deduktif yang dipderlukan yang berekaitan dengan pengumpulan data yang berkaitan dengan kelompok hipotesis.
2) Keuntungan bagi siswa dari pengalaman kelompok dimana mereka mampu berkomunikasi, dapat betangggung jawab dan bersama-sama mencari pengetahuan (kebenaran).
3) Kegiatan-kegiatan belajar dapat disajikan berbagai inquiri dan diskoveri dan menambah motivasi dan memajukan partisipasi (Hamalik, 2001220 ).

b) Pendekatan eksposetri atau pendekatan informasi merupakan pendekatan atau metode yang bertolak belakang dari pandangan bahwa tingkah laku siswa dikelas dikontrol dan ditentukan oleh guru/pendidik. Hakekat mengajar menurut pandangan pendekatan ini adalah proses pemindahan ilmu kepada siswa. Sebab siswa dipandang sebagai obyek yang hanya menerima apa saja yang akan diberikan oleh seorang guru.
c) Pendektan interaksi sosial merupkan metode yang hampir memiliki persamaan dengan pendekatan inquiri. Pendekatan ini lebih menekankan terhadap terbentuknya keperibadian siswa dengan siswa yang lainnya sehingga dalam konteks yang lebih luas terjadi hubungan individu siswa dengan masyarakat. Oleh sebab itu proses belajar mengajar hendaknya mengembangkan kemampun dan kesiapan siswa untuk melakukan hubungan dengan masyarakat.
d) Pendekatan tingkah laku ( Behavioural Model) model ini merupakn pendekatan yang menekankan kepada teori tingkah laku, sebagai bentuk aplikasi dari teori belajar behaviorisme. Tingkah laku siswa pada dasarnya di kendalikan oleh stimulus dan respon yang diberikan individu, dalam model pendekatan ini guru disarankan melakukan langkah-langkah dalam pegajaran diantara langkah-langkah tersebut adalah:
1) Guru memberikan stimulus belajar kepada siswa
2) Mengawasi tingkah laku siswa terhadap respon yang diterima dari guru
3) Menyediakan atau memberikan latihan-latihan kepada siswa dalam memberikan respon terhadap stimulus.
4) Memperkuat respon siswa yang dianggap paling baik dan tepat sebagai respon terhadap stimulus (Sudjana, 2005: 156)

Pendekatan tersbut di atas secara teori dan prakteknya tentunya terdapat kelemahan-kelemahan dalam konteks peningkatan nilai hasil belajar siswa. Sehingga dengan dilakukannya pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas maka terlahirlah suatu pendekatan belajar yang dinamakan pendekatan Regu Belajar Bersama.
3. Penerapan Pendekaatan Regu Belajar Bersama
a) Tahap Seleksi
Seblum proses belajar mengajar dimulai seorang guru harus melakukan pendekatan Regu belajar bersama ada beberapa hal yang akan menjadi acuan dan menjadi kebutuhan seorang guru yaitu:
1) Tahap evaluasi pada tahap ini seorang guru menentukan di mana tempat kekurangan siswa dalam memahami atau menerima suatu pelajaran yang akan menjadi tujuan yang sudah ditetapkan (seperti mata pelajaran yang di UAN-kan, ada tiga mata pelajaran yang diujikan yang harus mendapatkan nilai yang maksimal atau lulus yaitu. Matemaika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris).
2) Tahap pembentukan kelompok. Pada tahap ini digunakan pada saat seorang guru sudah mengetahui dimana saja letak kelemahan yang dimiliki oleh siswa dalam pemahamannya terhadap materi pelajaran. Misalkan si A, E dan si M lemahnya dalam salah satu mata pelajaran seperti pelajaran bahasa inggris maka A, E dan M dimasukkan kedalam kelomopk regu belajar bahasa inggris, demikian juga terhadap siswa-siswa yang lainnya yang lemah dalam mata pelajaran yang masih dianggap kurang. (Lie 2002: 28)

b) Proses pelaksananaan dan penerapan Regu Belajar Bersama
Dalam tahap ini juga menurut Hersa (2004: 29) dalam peroses pelaksanaan pembelajaran seorang guru sudah selesai menentukan kelompok siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan kelemahan dan mata pelajaran yang menjadi kekurangannya, setalah itu proses selanjutnya menentukan guru yang sesuai dengan bidangnya dalam mata pelajaran itu yang bertujun untuk membimbing siswa dalam memahami pelajaran tersebut. Dalam hal ini seorang guru peranannya bukan sebagai pendidik yang menetapkan keaktifan siswanya dalam belajar, sehingga guru adalah seorang fasilitator yang senantiasa mengarahkan siswa dalam belajarnya.
Pada saat pendekatan ini terdapat panduan belajar yang berupa kisi-kisi materi yang akan di pelajari oleh anak didik. Siswa di berikan beberapa pokok permasalahan yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya, kemudian setelah mendapatkan adanya seorang siswa yang merasa kesulitan dalam memahami materi, maka seorang guru bertanggung jawab sebagai fasilitator akan membantu dan membimbing siswa tersebut sampai kesulitan yang di alami oleh siswa tersebut teratasi.
4. Hasil Yang Dicapai Dengan Pendekatan Regu Belajar Bersama
Hasil belajar merupakan suatu usaha atau fikiran yang ditempuh oleh siswa sehingga mampu mencapai apa yang di cita-citakan. Yang dinyatakan dalam bentuk pernyataan penggunaan dan penilaian terhadap sikap, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan, sehingga nampak pada diri siswa perubahan tingkah laku secara kuntitatif setelah yang bersangkutan memperoleh pengetahuan tertentu pada waktu tertentu pula.
Bahwa dengan pendekatan regu belajar bersama akan memberikan keluasan kepada siswa untuk bertanya kepada fasilitator, sebab seorang siswa sangat diharapkan menjadi aktif dalam proses belajar sehingga sedikit tidak akan berdampak pada keperibadian dan memberikan peluang bertanya kepada guru selaku fasilitator terhadap masalah materi pelajaran apa saja yang belum dimengerti dalam belajarnya. Dan hasil yang dicapai adalah dengan menggunkan pendekatan ini sebab akan tertutupi kelemahan siswa akan ketidak pahaman dan ketidak tahuan siswa terhadap materi pelajaran yang dianggap sulit dan apalagi pelajaran tersebut dianggap sangat pokok untuk ditentukan lulus atau tidaknya siswa dalam melakukan belajar.


3. Hasil Belajar
Dalam proses belajar mengajar, tipe hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai siswa, penting diketahui oleh guru, agar guru dapat merancang/mefndesain pengajaran secara tepat dan penuh arti. Setiap proses belajar mengajar keberhasilannya diukur dari seberapa jauh hasil belajar yang dicapai siswa, disamping diukur dari segi prosesnya.
Jadi dari uraian diatas Tipe hasil belajar harus nampak dalam tujuan pengajaran (Tujuan Intuksional), karena tujuan itulah yang akan dicapai oleh proses belajar-mengajar.
a. Bentuk Hasil Belajar
Bahwa belajar dapat dilihat dari segi proses dan dapat pula dilihat dari segi hasil. Dari segi proses, menurut Gegne ada delapan tipe perbuatan belajar:
1) Belajar signal, bentuk belajar ini paling sederhana yaitu memberikan reaksi terhadap perangsang.
2) Belajar mereaksi perangsang melalui penguatan, yaitu memberikan reaksi beulang-ulang manakala menjadi Renfor Cement atau penguatan.
3) Belajar membentuk rangkaian, yaitu belajar menghubungkan gejala atau faktor yang satu dengan yang lain,sehingga menjadi satu kesatuan[rangkaian} yang berarti
4) Belajar asosiasi verbal, yaitu memberikan reaksi dalam bentuk kata- kata, bahasa, trhadap perangsang yang di terima.
5) Belajar membedakan hal yang majemuk,yaitu memberikan reaksi yang berbeda terhadap prangsang yang hampir sama sifatnya
6) Belajar konsep, yaitu menempatkan objek menjadi satu klasi
7) Belajar kaidah atau belajar frinsif, yaitu menghubungkan beberapa konsep
8) Belajar memecah kan masalah, yaitu menggabungkan beberapa kaidah atau prinsif, untuk memecahkan persoalan (Gegne, 2008: 47)
Kedelapan tipe di atas disusun mulai dari yang sederhana sampai kepada yang kompleks.dengan kata lain mempunyai hubungan hirarki.beljar di tinjau dari proses,seperti di kemukakandi atas memberi petunjuk bagaimana perbuatan belajar itu di lakukan, atau bagaimana terjadinya perbuatan belajar, bukan petunjuk mengenai hasil belajar yang harus dicapai oleh siswa.
Lebih lanjut, Gegne mengemukakan ada lima jenis hasil belajar, yakni:
1) Belajar Kemahiran Intlektual (Cognitif)
Dalam tipe ini termasuk belajar deskriminasi belajar konsep dan belajar kaidah. Belajar deskriminasi yakni kesanggupan membedakan kebeberapa obbjek berdasarkan ciri tertentu. Untuk ini diperlukan pengamatan yang cermat dari ciri-ciri objek tersebut seperti bentuknya, ukuran, warna, dan lain-lain. Kemampuan membedakan objek dipengaruhi oleh kematangan, pertumbuhan dan pendidikan.
Belajar konsep yakni, kesanggupan menempatkan objek yang mempunyai ciri sama menjadi sau kelompok (Klasifikasi) tertentu. Konsep diperoleh melalui interaksi dengan linngkungan dan bnyak terjadi dalam realitas kehidupan.
Belajar kaidah pada dasarnya menghasilkan beberapa konsep, misalnya konsep keluarga terdiri dari konsep ayah, ibu dan anak. Belajar kaidah melalui simbol bahasa baik lisan mmaupun tulisan.
2) Belajar Informasi Verbal
Pada umumnya belajar, berlangsung melalui informasi verbal, apalagi belajar diseklah, seperti membaca, mengarang, bercerita, mendengarkan uraian guru, kesanggupan menyatakan pendapat dalam bahasa lisan/tulisan, berkomunikasi, dan memberi arti dari setiap kata/kalimat.
3) Belajar Mengatur Kegiatan Intlektual
Kalau belajar kemahiran intlektual ditekankan pada belajar diskriminasi, belajar konsep dan kaidah, maka dalam belajar mengatur kegiatan intlektual yang ditekankan ialah kesanggupan dalam memecahkan masalah melalui konsep dan kaidah yang dimilikinya.
4) Belajar Sikap
Sikap merupakan kesiapan dan kesediaan seseorang untuk menerima tau menolak suatu objek berdasarkan penilaian terhadap objek itu, apakah berarti atau tidak terhadap dirinya objek itu.
5) Belajar keterampilan motorik banyak berhubungan dengan kesanggupan menggunakan gerakan anggota badan, sehingga memiliki rangkaian urutan gerak yang teratur, luwes, tepat, cepat dan lancar, seperti beljar menjahit, mengetik, bermain basket dan lain-lain.


b. Tipe Hasil Belajar
Tujuan pendidikan yang ingin dicapai dapat dikategorikan menjadi tiga bidang yakni bidang kognitif (penguasaan), bidang efektif (berhubungan dengan sikap dan nilai), serta bidang Psikomotorik. Berikut ini dikemukakan oleh Benyamin Bloom (2008: 49), unsur-unsur yang terdapat dalam tiga aspek hasil belajar, yakni:
1) Tipe hasil belajar bidang Kognitif
a) Tipe hasil belajar pengetahuan hafalan
Pengetahuan hapalan dimaksudkan sebagai terjemahan dari kata “knowledge” daari Bloom.
b) Tipe hasil belajar Pemahaman
Tipe pemahaman lebih tinggi satu tingkat dari tipe hasil belajar pengetahuan hafalan. Kemampuan memerlukan menangkap makna arti dari sesuatu konsep.
c) Tipe hasil belajar Penerapan (Aplikasi)
Aplikasi adalah kesanggupan menerapkan, dan mengabtraksi suatu konsep, ide, rumus, hukum dalam situasi yang baru. Misalnya memecahkan persoalan dengan menggunakan rumus tertentu.
d) Tipe hasil belajar analisis
Analisis adalah kesanggupan memecah, mengurai suatu integritas (kesatuan yang utuh) menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian yang mempunyai arti, atau mempunyai tingkatan/hirarki
e) Tipe hasil belajar sintetis
Sintesis merupakan lawan dari analisis. Bila pada analisis tekanan pada kesanggupan menguraikan suatu intrgritas menjadi bagian yang bermakna, pada sinetesis adalah kesanggupan menyatukan unsur atau bagian menjadi satu integritas
f) Tipe hasil belajar Evaluasi
Evaluasi adalah kesanggupan memberikan keputusan tentang nilai sesuatu berdasarkan judgement yang dimilikinya, dan kriteria yang dipakainya.

2) Tipe Hasil Belajar Bidang Efektif
Bidang afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Beberapa ahli mengatakan, bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya, bila seseorang telah menguasai bidang kognitif tingkat tinggi. Hasil belajar bidang afektif kurang mendapat perhatian dari guru. Para guru lebih banyak memberi tekanan pada bidang kognitif semata-mata. Tipe belajar hasil afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku sperti atensi/perhatian terhadap pelajaran, disiplin, motivasi, belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar, dan lain-lain. Sekalipun bahan pelajaran berisikan bidang kognitif, namun bidang afektif harus menjadi bagian integral dari bahan tersebut, dan harus nampak dalam proses belajar dan hasil belajar yang dicapai siswa.













BAB II
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Desain penelitian merupakan rencana tentang cara mengumpulkan data dan Menganalisis data (Nasution. 2003: 100), sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa desain mrupakan “ rancangan dalam penelitian merupakan keseluruhan proses pemikiran dan penemun matang tentang hal-hal yang akan dilaukan ”(Margono. 2003: 100).
Berdasarkan pendapat diatas dapat dipahami bahwa, perencanaan penelitian merupakan awal dari sebuah penelitian dimulai. Perencanaan yang baik dan matang mempermudah berlangsungnya kegiatan penelitian.
Pendekatan ini dipergunakan Untuk memperoleh data-data baik yang bersifat informatif, aplikatif maupun temun-temun lainnya yang erat kaitannya dengan penelitian ini, maka dalam hal tersebut peneliti mempergunakan salah satu desain atau pendekatan penelitian. Pendekatan yang dimaksud adalah pendekatan Kualitatif. karena ingin mengetahui tentang persoalan “ Upaya pondok pesantren Unwanul falah dalam meningkatkan siswa dan kendala-kendala yang dihadapi Pondok Pesantren dalam menigkatkan kelulusan siswa dalam pada ujian akhir nasioanl di MTs NW Pao’Lombok” .
Pendekatan Kualitatif adalah “suatu pendekatan penelitian yang memusatkan perhatiannya pada perisip-perinsip umum yang mendasari terwujudnya satuan-satuan gejala yang ada dalam kehidupan manusia, atau pola-pola yang dianalisis, gejala-gejala sosial budaya dengan menggunakan kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan untuk memperoleh gambaran mengenai pola-pola yang berlaku ” (Koent Coroningrat. 1982 :20).
Jadi pendekatan kualitatif adalah sebenarya merupakan tata cara penelitian yang menghasilkan data deskriftif, yaitu apa yang dinyatakan oleh responden baik secara tertulis atau lisan dari pelaku-pelaku nyata.dan yang diteliti, diamati dan dipelajari adalah obyek penelitian yang utuh. Dengan demikian, dipergunakannya pendekatan kualitatif dalam penelitian ini didasarkan atas beberapa pertimbangan, antara lain karena memperhatikan tujuan dan obyek penelitian ditinjau dari segi tujun pendidikan, bahwa penelitian ini di maksudkan “Upaya pondok pesantren Unwanul falah dalam meningkatkan siswa dan kendala-kendala yang dihadapi Pondok Pesantren dalam menigkatkan kelulusan siswa dalam pada ujian akhir nasioanl di MTs NW Pao’Lombok”, termasuk didalamnya tentang pelaksanaan belajar kelompok yang dibentuk oleh pimpinan madrasah, bekerjasama dengan para guru dan orang tua siswa. Sedangkan ditinjau dari obyek penelitian, penelitian ini dimaksudkan untuk melihat dari dekat pelaksanaan belajar kelompok yang berlangsung dari madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok, berikut berbagai macam kendala serta upaya yang ditempuh oleh para penentu kebijaksanaan.
Jadi alasan peneliti memilih penelitian kualitatif ini adalah Sebagaimna diketahui bahwa pendekatan kualitatif ini dalam aplikasinya langsung menunjuk pada setting (lokasi) dan individu-individu yang terdapat dalam setting ini dan termasuk pula di dalamnya subyek atau pranata keagamaan maupun pranata sosial yang akan menjadi obyek maupun subyek penelitian. Oleh karenanya keseluruhan hal tersebut diatas tidak dipisahkan menjadi satu pariabel yang terpisah-pisah atau suatu hipotesis yang terpisah-pisah, melainkan dipandang sebagai bagian dari suatu keseluruhan.
B. Metode Pengumpulan Data
1. Observasi
Observasi adalah suatu tehnik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti serta pengamatan secara sistematis (Arikunto. 1993: 27). observasi yakni penggunaan kepada tingkah laku pada suatu situasi tertentu (Sudjana. 2002 : 114).
Jadi, metode observasi dalam pengumpulan data adalah cara pengumpulan data dengan melakukan pengamatan yang cermat untuk memperoleh tujuan yang diteliti.
Metode observasi ini digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data tentang berupa data tentang bagaimana kegiatan belajar mengajar dan sarana prasarana di MTs NW Pao’Lombok, yang bersumber pada pengamatan sarana prasarana, siswa, dan guru. di Pondok Pesantren Unwanul Falah khususnya Pada MTs Kelas III Pao’Lombok Desa Tebaban Kec. Suralaga Lombok Timur.


2. Wawancara
Dalam pengumpulan data disamping menggunakan metode observasi, dalam penelitian ini peneliti juga menggunakan metode/pendekatan wawancara. Yang dimaksud dengan metode Wawancara adalah suatu tehnik komunikasi verbal, semacam perekaman yang bertujun memperoleh informasi (S. Nasution. 1996:113).
Metode wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah selain terpimpin juga mendalam dan terbuka. Wawancara terpimpin karena dalam melakukan wawancara dengan responden (dalam hal ini kepala madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok dan wakil kepala bidang kurikulum), harus mengikuti norma yang berlaku dari responden. Sedangkan mendalam dan terbuka dimaksudkan dalam rangka menggali data sesuai dengan yang diharapkan dari responden dengan sedetil-detilnya dengan cara tanya jawab, yang mana pada waktu wawancara berlangsung responden sadar bahwa Ia sedang diwawancarai dan sekaligus mengetahui tujuan wawancara tersebut.
Wawancara terbuka (opened intervieu) merupakan salah satu jenis wawancara yang dikembangkan oleh Guba dan Lincoln (Sanhadji. 2003:75). Dijelaskan bahwa dalam menjaring data pada penelitian kualitatif sebaiknya menggunakan wawancara terbuka yang para obyeknya tahu bahwa mereka sedang diwawancarai dan mengetahui pula apa maksud wawancara itu.
Jadi yang digunakan dalam penelitian ini disamping peneliti menggunakan metode wawancara terbuka juga menggunakan metode wawancara terpimpin, karena untuk mendapatkan data yang valid dan benar-benar diyakini oleh peneliti. data-data yang terkumpul dan yang akan diperoleh selanjutnya.
Penerapan metode wawancara dalam penelitian ini digunakan untuk menjaring data tentang bagaimana pelaksanaan kegiatan belajar kelompok, dan regu belajar bersama dan keadaan sarana prasarana di MTs NW Pao’Lombok, yang bersumber dari bapak kepala sekolah H. Busyairi Rosyidi di lokaasi penelitian. Pondok Pesantren Unwanul Falah Khususnya Pada MTs Kelas III Pao’Lombok. Desa. Tebaban Kec. Suralaga Lombok Timur.
3. Dokumentasi
Dokumentasi asal katanya dokumen yang artinya barang-barang tertulis. Didalam melaksnakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat catatan harian dan sebagainya. (Arikunto, 2002. 135).
Sebagai mana yang telah di kutip oleh (Burhan Bugin, 2002: 143) berpendapat bahawa dokumentasi adalah rekaman peristiwa yang lebih dekat dengan percakapan menyangkut persoalan pribadi dan memerlukan interprestasi yang berhubungan sangat dekat dengan konteks rekaaman peristiwa tersebut.
Selain kedua tehnik tersebut, Untuk lebih sempurnanya data yang diperlukan dalam penelitian ini peneliti juga menggunakan tehnik dokumentasi. Cara ini digunakan dengan maksud Untuk mendapatkan data tentang Upaya pondok pesantren Unwanul falah dalam meningkatkan siswa dalam pada ujian akhir nasioanl dan kendala-kendala yang dihadapi Pondok Pesantren dalam menigkatkan kelulusan siswa dalam pada ujian akhir nasioanl di MTs NW Pao’Lombok.
Jadi kesimpulan bisa diambil oleh penulis bahwa yang dimaksud dengan metode dokumentasi adalah metode yang diperaktekkan oleh peneliti dalam pengumpulan data tentang sejarah berdirinya, letak geografis, keadaan sarana-prasarana, keadaan guru, siswa di Pondok Pesantren Unwanul Falah dalam meningkatkan Kelulusan siswa pada ujian akhir nasioanl.
Yang berbentuk dokumen-dokumen seperti Buku, Notulen, hasil belajar siswa (Raport) dan Papan Struktur di Pondok Pesantren Unwanul Falah Khususnya Pada MTs Kelas III Pao’Lombok Desa. Tebaban Kec. Suralaga Lombok Timur.
C. Tehnik Analisis Data
Tehnik analisis data merupakan suatu cara yang digunakan untuk mengolah data, pemecahan atau mengolah hasil data untuk memperoleh suatu kesimpulan. Mengingat daya yang di analisis adalah data-data kualitatif, maka yang dimaksud dengan analisis data adalah proses pengorganisasian dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.
Proses analisis data dilakukan secara induktif. Penelitian kualitatif tidak dimulai dari deduksi teori, tetapi dimulai dari fakta empiris. Peneliti terjun langsung ke lapangan, mempelajari, menganalisis, dan menarik kesimpulan dari fenomena yang ada di lapangan. Penelitian kualitatif dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data, dengan demikian temuan penelitian di lapangan kemudian dibentuk ke dalam bangunan teori, hukum, bukan dari teori yang telah ada, melainkan dikembangkan dari data lapangan .
Data yang diperoleh melalui tehnik observasi, wawancara dan dokumentasi tersebut kemudian diperoses dalam bentuk diskripsi data yang berisi uraian data dan pernyataan-pernyataan reflektif. Pada tahap pertama data yang terkumpul reduksi dengan jalan membuat abstraksi. Pada tahap ini peneliti membuat rangkuman inti dengan segala proses yang ada di dalamnya. Kemudian data yang memiliki kesamaan diorganisir yakni kategorisasi data berdasarkan kesamaan-kesamaan yang dimilikinya. Dari data yang terkumpul, kemudian diseleksi mana data yang berkatagori sama dan mana yang tidak berkategori sama. Selanjutnya dari kategori awal ini kemudian dilakukan cross check pada tahap ini data dipresentasikan dalam bentuk yang lebih verbal untuk diarahkan pada verifikasi dan konklusi, yaitu menginterprestasikan data dengan perspektif teori yang dipergunakan sehingga diperoleh hasil pinal peneliti.
Dari uraian diatas penulis mengambil garis batasan bahwa yang dimaksud dengan analisis data adalah cara mengelola dan memaparkan data secara terorganisir dan sistematis untuk memperoleh hasil yang memuaskan.








































BAB III
PAPARAN DATA

A. Gambaran Umum Pondok Pesantren Unwanul Falah NW Pao’Lombok Desa Tebaban Kec. Suralaga. Lomnok Timur.
Dalam pembahasan ini, tentang beberapa data yang didapatkan baik data yang dihasilkan dalam wawancara (interviw) maupun data yang berhasil penulis kumpulkan berupa dokumen-dokumen tentang sejarah dan yang melatar belakangi berdirinya Pondok Pesantren MTs Pao’Lombok Lombok Timur pada umumnya.
1. Sejarah Singkat Berdirinya Pondok Pesantren Unwanul Falah NW Pao’lombok
Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok didirikan pada tanggal 18 Maret 1962 oleh dua orang bersaudara, yaitu Tuan Guru Haji Muhsin Makbul, Lc ( yang sampai saat ini beliau masih hidup dan tinggal di Makkah Saudi Arabia dan Haji Muhammad Rosyidi (almarhum). Pada waktu itu, di wilayah kecamatan Sukamulia atau lebih dikenal dengan istilah “Timuk Kokok Belimbing” lembaga pendidikan keagamaan tingkat lanjutan (Madrasah Tsanawiyah) belum ada. Yang ada hanya Madrasah Ibtidaiyah (MI). Keadaan seperti ini mengharuskan anak didik yang menamatkan pendidikannya di MI pergi ke Pancor untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi ( MTs). Melihat kenyataan seperti ini dan dibarengi oleh keinginan anak-anak untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi tersebut semakin banyak, maka dengan berbagai macam pertimbangan, masyarakat Pao’Lombok dan dusun-dusun lainnya yang ada di sekitar Pao’Lombok mengadakan musyawarah di rumah Tuan Guru Haji Muhsin Makbul pada tanggal 3 Pebruari 1962. Dalam musyawarah tersebut banyak hal yang dibicarakan. Dan salah satu hasilnya adalah masyarakat menginginkan didirikannya Madrasah Tsanawiyah sebagai tempat putra-putri mereka melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Dan alhamdulillah, berkat izin Allah SWT dan kerjasama yang baik dari seluruh warga Pao’Lombok dan sekitarnya, pada tanggal 18 Maret 1962 MTs NW Pao’Lombok berhasil didirikan walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana.
Lebih lanjut Kepala Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok menuturkan bahwa tujuan berdirinya madrasah ini adalah:
a. Sebagai tempat pengembangan potensi dan wawasan bagi anak-anak yang berkaitan dengan masalah keislaman agar mampu memecahkan masalah yang berkembang dalam masyarakat
b. Sebagai tempat membina akhlak-akhlak anak-anak dan juga sebagai tempat melanjutkan pelajaran agama yang sudah diperoleh di Madrasah Ibtidaiyah
c. Untuk mempersiapkan calon-calon generasi muda Islam yang akan menerima estapet kepemimpinan bangsa dan agama
Yang paling esensial sekali dalam tujuan ini adalah agar anak didik bertakwa kepada Allah SWT (wawancara, Drs. Zainur 10 januari 2008).
2. Letak Geografis
Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok berada di wilayah Dusun Pao’Lombok Barat, dengan batas-batas sebagai berikut:
a) Sebelah Barat berbatasan dengan jalan Pasar Baru
b) Sebelah Utara berbatasan dengan jalan menuju Pao’Lombok Timur
c) Sebelah Timur berbatasan dengan perumahan penduduk
d) Sebelah Selatan berbatasan dengan perumahan penduduk ( Observasi dan Dokumentasi, 10 Oktober 2007)
Berdasarkan hasil observasi peneliti, bahwa letak Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok cukup strategis, karena berada di dekat jalan raya dan mudah dijangkau dari semua penjuru oleh semua siswa dan guru karena selalu dilalui oleh arus lalu lintas.
3. Sarana-Prasarana Madrasah Tsanawiyah pao’Lombok Kec. Suralaga Lombok Timur
Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok dibangun di atas tanah seluas 4.400 m2 dengan status tanah milik sendiri, yang mana dalam tanah seluas ini dibangun gedung dengan jumlah lokal sebanyak 25 ruang, dengan rincian sebagaimana nampak pada tabel berikut:


Tabel 1
Keadaan Sarana dan Prasarana Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok Tahun Pelajaran 2007/2008

No Nama Ruang Jumlah Keterangan
1 Ruang Belajar 9 Baik
2 Ruang Kepala Sekolah 1 Baik
3 Ruang wakil Kepala Sekolah 1 Baik
4 Ruang Guru 1 Baik
5 Ruang tata Usaha 1 Baik
6 Ruang Komputer 1 Baik
7 Ruang Koperasi Sekolah 1 Baik
8 Ruang Perpustakaan 1 Baik
9 Ruang Osis/BP3 1 Baik
10 Ruang BP/BK 1 Baik
11 Ruang Musholla 1 Baik
12 Ruang Laboratorium 1 Baik
13 Kamar Mandi/WC 5 Baik
(Sumber: Dokumen Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok, dikutip Tgl 19 Januari 2008)
Memperhatikan keadaan sarana dan prasarana yang dimiliki Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok dapat dikatakan cukup dan memenuhi persyaratan. Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya ruang belajar yang dimiliki yang berarti dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar dapat berlajan dengan lancar karena fasilitas gedung yang memadai.
Sarana dan prasarana lainnya yang menunjang kelancaran pelaksanaan peroses belajar mengajar di Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok dapat dipaparkan sesuai yang dikutip dari dokumentasi madrasah seperti yang tertera pada tabel berikut:
Tabel 2
Keadaan Fasilitas (kelengkapan) Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok
No Nama Fasilitas Jumlah
1 Perlengkapan Kantor/kelas:
1. Meja/kursi Kepala Sekolah
2. Meja/kursi guru
3. Meja /kursi TU
4. Meja/kursi tamu
5. Meja/ kursi siswa
6. Papan tulis
7. Papan absen siswa
8. Almari kantor
9. Rak buku
10. Pilling Kabinet
11. Komputer
12. Mesin Ketik
1 buah
7 buah
3 buah
1 unit
170 buah
9 buah
9 buah
4 bauh
3 buah
8 buah
1 buah
2 buah
2 Alat Peraga Pendidikan dan olahraga
1. Globe
2. Peta Indonesia
3. Peta Dunia
4. Rangka Manusia
5. Bola kaki
6. Bola voli
7. Tenis meja
8. Bola basket
9. Lembing
10. Cakram
11. Tolak Peluru
12. Bola takrow
1 buah
1 buah
1 buah
5 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
2 buah
3


Alat dan Sarana Yang Lainnya
1. Perpustakaan
2. Ruang laboratorium
3. Leb komputer
1 ruang
1 ruang
1 ruang
(Sumber: Dokumen Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok, dikutip Tgl 20 Januari 2008)
Bila dilihat dari fasilitas yang dimiliki Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok seperti yang tertera pada tabel di atas, bisa dikatakan cukup sehingga dapat menunjang proses belajar mengajar. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan Kepala TU yang mengatakan bahwa “ dengan adanya fasilitas di Madrasah ini menunjang proses belajar mengajar. Sebab berhasil tidaknya proses belajar mengajar salah satunya ditentukan oleh fasilitas yang tersedia di madrasah. ( Observasi dan Wawancara, 20 Januari 2008).
4. Struktur Madrasah Tsanawiyah Pao’Lombok Kec. Suralaga Lombok Timur
Dalam suatu lembaga pendidikan diperlukan adanya suatu organisasi atau yayasan yang baik dan teratur dalam rangka membantu kelangsungan proses belajar mengajar. Organisasi/yayasan tersebut sangat menunjang maju mundurnya proses belajar mengajar pada suatu lembaga pendidikan
Adapun semua susunan yang berada di madrasah Tsnawiyah Pao’Lombok dapat dilihat dalam bagan dibawah Adalah organisani yang ada di sekolah. 2007/2008


















STRUKTUR ORGANISASI MADRASAH TSANAWIYAH PAO’LOMBOK DESA TEBABAN KEC. SURALAGA




















5. Kurikulum Pendidikan Madrasah Tsanawiyah Pao’Lombok Kec. Suralaga Lombok Timur
Kurikulum merupakan bagia n terpenting dalam proses belajar mengajar, karena dengan kurikulum tersebut pendidikan akan lebh terarah dan dapat disesuaikan dengan target pembelajaran, karena kurikulum berisi aturan-aturan materi pembelajaran yang menyangkut silabus satuan pembelajaran, target pendidikan dan yang lainnya.
Dengan demkian dari hasil penelitian, penulis temukan bahwa kurikulum pendidikan yang digunakan di MTs Pao’Lombok sudah mengalami perubahan mulai dari kurikulum tahun 2002, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), hingga KTSP dan yang lebih mendominasi adalah kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada mata pelajaran agama maupun umum.
Ibu Zuharo’ (Guru wali) menegaskan bahwa sebagian guru tidak terpaku pada satu kurikulum saja, sehingga kurikulum tahun 2002 sampai KBK dipadukan. Hal itu digunakan sebagai penunjang keberhasilan siswa dalam belajar, karena dalam belajar dua hal yang dituntut yaitu bisa menjawab so’al pada saat ujian dan yang takalah pentingnya adalah siswa mampu mengamalkan materi-materi pelajaran yang diajarkan dalam kehidupan sehari-hari siswa (Zuharo’ S.Ag, Wawancara, 10 januari 2008).



6. Keadaan Guru Dan Siswa Madrasah Tsanawiyah Pao’Lombok Kec. Suralaga Lombok Timur
a. Keadaan Guru
Proses belajar mengajar yang berlangsung di Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok didukung oleh 28 orang tenaga pengajar, kedua puluh delapan tenaga pengajar tersebut dipimpin oleh seorang kepala madrasah.
Kepala madrasah dan wakil kepala madrasah merupakan unsur terpenting dalam sebuah lembaga pendidikan yang akan menentukan apakah pendidikan tersebut akan maju atau mundur, kepala madrasah merupakan pemimpin yang senantiasa berfikir dan mengerjakan bagaimana supaya lembaga pendidikan tepat dia ditugaskan menjadi maju dan mampu bersaing dengan lembaga-lembaga lainnya. Dengan demikian disebut lembaga atau yayasan pendidikan sangat membutuhkan seorang propesional yang bukan hanya cerdas akan tetapi kepala madrasah menjadi pelopor ide dan kretif serta bertanggung jawab segala amanat masyarakat yaitu memajukan pendidikan di madrasah tersebut ( H. Busyairi Rosidi, wawancara 12, januari, 2008).




Tabel 3
Keadaan Guru Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok Tahun Ajaran 2007/2008
No Nama Jabatan Pendidikan Mapel
1 H. Busyairi Rosyidi Kepsek MDQH Nahu/Shorf
2 Wakasek
Wakamad
4 Waka Humas
3 Hanifah Asmuni, BA Guru IAIN PPKN
3 Abdul Jadid,S.Ag Guru STAIN Qur’an H
4 HM. Makki Guru Sholatiah Fikih
5 Habibah,S.Ag Guru STAIN Akidah Akh
6 Zuhroni, S,Ag Guru STAIN SKI
7 HM. Kutbi Guru Solatiah Bhs. Arab
8 Munawar Hadi,S.S Guru UNAWA Bhs. Indo
9 Hilmi Fatmawati, S.Pd Guru UNRAM Matematika
10 Drs. Ahlul Fadli Guru IAIN Bhs. Inggris
11 Mukaddison, S.Pd Guru STKIP Fisika
12 L.Ahmad Riadi, S.Pt Guru UNRAM Penjaskes
13 Bq. Ridaeni, S.Pd Guru STKIP Biologi
14 Hj. Rohidah, S.Pd Guru STKIP Sejarah
15 Bq. Isnaeni, SH Guru UNRAM Ekonomi
16 Fahrurrozi, S.Pd.I Guru STAIN Ekonomi
17 M. Dahlan Shanip, S.Ag Guru IAIN Geografi
18 Zuharok,S.Ag Guru STAIN Keterampilan
19 Abdul Hanas, S.Pd Guru UNRAM Fisika
20 Rinep, S.Pd Guru STKIP Kesenian
21 Sai’dah,S.Pd Guru STKIP Biologi
22 Nur Aini, S.Pt Guru UNRAM Bhs. Indo
23 H. Izzuddin Guru MAN Qur’an H
24 Nizamuddin Guru STKIP Matematika
25 Muhasiyan,AH Guru STKIP Akidah Akh
26 Tohriah,QH Guru Ma’hadah Fikih
27 M. Thahir, S.Pd.I Guru IAIN Sejarah
28 Drs. Zainur TU IKIP Administrasi
Sumber: Dokumen MTs. NW Pao’Lombok, dikutip 20 januari 08)
Dari data di atas dapat dikatakan bahwa guru-guru yang mengajar di Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok sudah kualitas. Ini dilihat dari latar belakang pendidikan yang cukup representatif. Artinya, guru-guru yang mengajar di Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok sudah sesuai dengan keahlian dan bidangnya masing-masing. Di samping itu, guru-guru yang mengajar pada Madrasah Tsanawiyah tersebut sebagian besar sarjana, baik umum maupun agama. Dari 28 orang tenaga pengajar yang ada, 1 orang yang berpendidikan Madrasah Aliah Negeri (MAN). Namun sekalipun demikian kemampuannya untuk mengasuh mata pelajaran yang diampunya sudah tidak diragukan lagi. Hal ini dikarenakan yang bersangkutan disamping sudah lama mengajar, juga berpengalaman di bidang al-Qur’an terutama dalam hal bacaan.
b. Keadaan Siswa
Jumlah siswa Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok tahun pelajaran 2007/2008 sebanyak 312 orang, yang terdiri dari 151 orang laki-laki dan 161 orang perempuan, dan terbagi menjadi 9 kelas mulai dari kelas I sampai dengan kelas III. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4
No Kelas Laki-laki Perempuan Jumlah
1 IA 22 13 35
2 IB 20 17 37
3 IC 16 20 36
4 IIA 19 18 37
5 IIB 10 25 35
6 IIC 18 19 37
7 IIIA 16 20 36
8 IIIB 15 14 29
9 IIIC 15 15 30
Jumlah 9 kelas 151 161 312
Sumber: ( Papan data keadaan siswa MTs. NW Pao’Lombok tahun pelajaran 2007/2008, Dikutip, 02-01-08)
Dari tabel tersebut di atas, nampak bahwa siswa kelas I berjumlah 108 orang, kelas II berjumlah 109 orang dan kelas III berjumlah 95 orang sehingga total keseluruhan siswa pada Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok pada tahun pelajaran 2007/2008 sebanyak 312 orang.
Siswa Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dalam bentuk jumlah. Namun pada tiga tahun terakhir ini, penambahan siswa tersebut tidak mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini disebabkan karena keadaan masyarakat Pao’Lombok sendiri yang tadinya aman/ akur, namun karena keadaan organisasi NW sendiri yang pecah menjadi dua bagian (satu bagian menetap di Pao’Lombok dan satu bagian lagi berhijrah ke Anjani sebagai pusat NW kubu Raihanun). Keadaan tersebut memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap perkembangan peserta didik. Karenanya, seperti dikatakan sebelumnya bahwa dari sejak itu, jumlah siswa yang masuk di Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok mengalami sedikit penurunan. Karena sebagian dari masyarakat Pao’Lombok sudah hijrah ke Anjani bersama putra-putrinya yang sedang dan atau akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Dilihat dari segi organisasi orang tua siswa, siswa Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok terdiri dari berbagai tingkatan/ golongan organisasi maupun kelompok, namun sebagian orang tua yang terlalu panatik terhadap organisasi sehingga tidak mau memasukkan anak-anaknya di Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok, karena dianggap masih berkiblat ke Pancor. (wawancara, Waka Kesiswaan, Nizamuddin, 02 Februari 2008 )
Siswa Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok sebagian besar berasal dari kampung Pao’Lombok dan sekitar Desa Tebaban. Hanya beberapa orang saja yang berasal dari luar desa atau luar Kecamatan Suralaga. Siswa yang berasal dari luar Kecamatan Suralaga ini masuk di Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok dikarenakan mereka mempunyai keluarga atau sahabat yang tinggal di dusun Pao’Lombok dan sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa siswa siswi Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok tidak terlalu beragam, sehingga dalam proses interaksi belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar atau dengan kata lain tidak mendapatkan hambatan yang berarti. Lebih-lebih bahasa yang mereka pergunakan sehari-hari terutama di luar jam pelajaran selalu menggunakan bahasa daerah setempat yang memiliki corak dan dialek yang jauh berbeda dengan kebanyakan dusun atau kampung yang ada di pulau Lombok.
Secara intelektual, tingkat intelektualitas siswa-siswi Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok relatif memadai, artinya tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi. Hal ini terbukti dengan telah diadakannya standarisasi kelulusan tiga tahun terakhir ini. Dari seluruh siswa kelas III yang mengikuti ujian Akhir Nasional yang berhasil lulus 85 %. Hanya 15 % saja yang tidak lulus. Dan untuk dimaklumi bahwa pada Ujian Nasional Tahun Ajaran 2007/2008 tingkat kelulusan siswa kelas III hampir mencapai 100 %. Dari 66 siswa yang terdaptar ujian, hanya dua orang yang tidak lulus. Satu orang tidak ikut ujian dan 1 orang lagi ikut ujian dan tidak lulus. (Dokumen kelulusan siswa 2007, dikutip 02 Februari 2008)
Yang lebih menonjol lagi adalah prestasi siswa Madrasah tsanawiyah NW Pao’Lombok di bidang agama, seperti bahasa arab, al-Qur’an Hadits, Fikih, Akidah Akhlak, dan sebagainya. Hal ini didukung oleh sarana penunjang yang cukup memadai baik berupa buku atau kitab dan lingkungan keluarga dan amsyarakat Pao’Lombok sudah menjadi tradisi mendalami ilmu agama Islam mulai dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Hal inilah yang membuat siswa-siswi Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok lebih mudah mempelajari mata pelajaran agama daripada mata pelajaran umum lainnya.

B. Upaya Pondok Pesantren Unwanul Falah Dalam Meningkatkan Kelulusan Siswa Meghadapi Ujian Akhir Nasional Di MTs NW Pao’Lombok Desa Tebaban Kec. Suralaga. Lombok Timur.
Berbagai bentuk kegiatan yang dilakukan dalam mempersiapkan siswa-siswinya dalam pada ujian akhir nasonal salah satunya dengan menerapkan regu belajar kelompok, disamping itu juga pondok pesantren di Pao’Lombok ini melakukan berbagai upaya yang lain agar para siswa benar-benar siap dalam pada ujian dan mendapatkan hasil yang memuaskan diantara bentuk kegioatan yang dilakukan adlah sebagai berikut:
1. Menerapkan Diskusi Kelompok Belajar
Selain pendekatan les juga dilakukan diskusi-diskusi kelompok, karena dengan melakukan diskusi kelompok siswa akan bebas
berpendapat dan berekspresi akan tidak takut mengemukakan pendapatnya, diskusi-diskusi ini biasanya dilakukan setelah sholat magrib megingat kondisi masyarakat yang sebagian besar berpropesi sebagai petani sehingga siswa tidak mungkin melakukan diskusi, dan juga idak semua siswa diasramakan, materi diskusi tersebut adalah materi-materi keagamaan dan materi yang berkaitan dengan pelajaran yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Dengan memberikan keluasan untuk bertanya kepada penyaji yang bertugas (uztadz/uztazah).
2. Perpustakaan
Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membangun tempat membaca (maktab) dengan tujuan supaya dengan adanya perpustakan tersebut minat dan kesadaran para siswa terhadap membaca lebih meningkat dan dapat meningkatkan tingkat kelulusan siswa pada ulangan dan ujicoba dalam pada ujian nasional.
Peran perpustakaan ini sangat sangat berperaan terhadap kreatifitas para siswa, karena dengan adanya perpustakaan siswa-siswi dengan mudah mendapatkan buku terutama dalam mata pelajaran yang di UAN-kan dan terhadap siswa-siswi yang tergolong ekonominya lemah dapat meminjam buku yang diperlukannya (wawancara, H.Izzuddin, QH).
3. Laboratorium
Laboratorium bahasa adalah suatu ruangan sebagai tempat pembinaan dan melatih keterampilan berbahasa siswa yang meliputi keterampilan menyimak, keterampilan berbicara dan keterampilan menulis dengan menggunakan alat pembelajaran sperti earphon, tape recorde dan untuk instruktur berada didepan para siswa. Kapasitas laboratorium bahasa yang ada di MTs Pao’Lombok sebanyah 20 orang siswa (Interviu dengan Ust. H. Busyari Rosyidi).
Leb komputer adalah Salah satu sarana yang mendukung proses belajar mengajar diman dengan pengadaan leb komputer ini siswa-siswi merasa tertolong dalam mengisi lembar jawaban pada ujian akhir nasional.
Menurut salah satu guru di MTs pao’lombok mengatakan bahwa dengan adanya leb komputer ini siswa merasa tertolong dan memberikan wawasan mengenai tata cara mengisi lembar jawaban pada ujian akhir nasional. (wawancara, Fahrurrozi)
Selain adanya leb komputer juga terdapat laboratorium IPA yang digunakan sebagai tempat praktek para siswa.
4. Pembelajaran Dirasah
Menurut uztaz selaku pembina asrama madrasah Tsanawiyah dan sekaligus sebagai mobilisator utama yang dibantu oleh seksi-seksi dari kalangan asatiz yang lain dipilih setiap harinya bahwa efektifitas terhadap program ini memiliki dampak yang sanagat besar dalam mengasah dan melatih siswa dalam meningkatkan pemahaman dan belajar siswa.
Pembelajaran dirasah dilakukan pada sore hari khusus terhadap para siswa yang diasramakan, adapun mata pelajaran yang dipelajari ketika beljar dirasah seperti muhaddasah, inggris dan mata pelajaran yang lainnya yang dipelajari di sekolah pada jam pormalnya, berhubung sistem asrama yang mewajibkan siswa kelas III MTs tinggal di asrama sampai siswa/siswi tersebut lulus dalam pada ujian akhir nasional di pondok pesantren Unwanul Falah.(Wawancara, salah satu guru Zuharo’ SA.g)
5. Membentuk Regu Belajar Bersama
Salah satu upaya yang dilakukannya adalah melalui pendekatan regu belajar bersama. Pendekatan dalam belajar sangat mendukung untuk terciptanya suasana belajar yang kondusif, karena dengan kondisi belajar yang kondusif akan mampu mengantar siswa kepada pemahaman akan suatu materi pembelajran, tentunya pendekatan sesperti dilakukan untuk menunjang keberhasilan siswa dalam melakukan belajar, keberhasilan siswa tersebut terbukti dengan nilai kelulusan yang didapatkannya atau tidak lulusnya siswa dalam melaksanakan ujian akhir nasional dari proses pendidikan.
Dengan hal tersebut berbagai macam media, strategi dan pendekatan yang digunakan terhadap siswa yang belajar, disamping mengunakan pendektan juga menggunakan strategi dan media pembelajaran yang diterapakan di Madrasah Tsanawiyah Pao’lombok, dengan berbagai macam pendekatan maupun pola belajar tersebut guna memeuhi kebutuhan siswa akan pembelajaran khususnya siswa kelas III MTs yang akan melakukan ujian akhir nasioal (UAN) ( observasi 23 januari 2008).
6. Asrama
Asrama yang dimiliki Pondok Pesantren Unwanul Falah Pao’Lombok yaitu, asrama terdiri dari 8 ruang untuk para santri, 1 ruang untuk pembina asrama sekaligus guru, dan satu ruang sebagai tempat memasak para siswa (santri), dan sisanya lagi satu ruang dijadikan sebagai ruang belajar, diskusi, dan pengajian kitab kuning bagi santri yang dilengkapi dengan empat ruang mandi dan WC. Disamping itu juga terdapat dua buah sumur satu buah di lengkapi dengan mesin air sedangkan yang satunya lagi menggunakan timbaan.
Salah satu fungsi dari pada asrama yang ditempati oleh siswa adalah untuk mengidentifikasikan pembinaan dalam belajar baik belajar yang bersifat umum seperti pelajaran formal di sekolah, dan mengidentifikasi siswa dalam memperdalam pelajaran agama seperti Nahu-Sorofnya, Fiqih, Tahfiz, dan Kitab Kuning.( Observasi 10-04-2008)
7. Musholla
Mushollah yang terdapat di MTs Tsanawiyah Pao’Lombok pada saat peneliti mengadakan penelitian adalah satu buah musholla yang berada di sebelah utara madrasah, pemampaatan musholla disamping sebagai tempat sholat lima waktu secara berjamaah, juga digunkan sebagai tempat tutorial, dan tempat latihan pidato, selain itu musholla juga dipergunakan sebagai tempat pemberian mufradat atau kosa kata baru baik Arab maupun Inggris setiap menunaikan sholat subuh (observasi 05-01-2008).
8. Televisi
Pengadaan telivisi merupakan suatu need, mengapa dikatakan begitu, karena dengan pesawat televisi disamping siswa dapat menikmati hiburan-hiburan menarik dan menyerap informasi-informasi aktual baik dalam negeri maupun manca negara, juga digunakan sebagai salah satu media pengajaran dengan memutar video kaset yang menayangkan film-film bahasa arab, bahasa inggris, mata pelajaran biologi, mata pelajaran fikih, dan mata pelajaran yang lainnya yang dapat menngunakan televisi sebagai media belajar. (Fahrurrozi, S.Pd.I, Wawancara, 09-02- 2008)
9. Bangun Malam berdo’a kepada Allah (Tahajjut Bersama )
Adalah sombong yang beranggapan bahwa keberhasilan kita semata-mata usaha dan kerja keras kita sendiri tanpa keikutsertaan Sang Pencipta. Untuk itu dengan segala kerendahan diri dan hati di hadapan-Nya, kita panjatkan doa agar diberi kelulusan, kesehatan dan kemudahan dalam pada ujian nanti. Allah Maha Tahu dan tentu akan mendengarkan dan mengabulkan doa hamba-hamba-NYA.
Kegiatan seperti ini dilakukan di pondok pesantren untuk melatih para siswa supaya terbiasa bangun pada tengah malam hari, waktu yang ditetapkan untuk melakukan bangun malam ini sekitar jam 04.00 setiap malam, adapun kegunaan bangun malam ini selain melakukan ibadah juga dipergunakan untuk melatih membaca kitab kuning dengan membentuk kelompok-kelompok yang dibimbing oleh seorang pembina atau guru, dan juga membentuk kelompok belajar untuk menyiapkan mereka dalam pada ulangan dan ujian nasional nantinya.
Adapun sanksi yang dikenakan terhadap siswa yang tidak mentaati peraturan ini di berikan hukuan seperti disiram beserta pakaian yang dikenakannya, disuruh menghapal ayat-ayat pendek (juz ‘amma), sanksi ini bertujuan supaya siswa jera dan mentaati praturan demi kebaikan dan masa depannya dan untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. (Zuharo’ S.Ag, Wawancara, 10-01-2008).
Adapun hasil yang dapat dicapai sangat dirasakan oleh para siswa mereka merasa seanag, karena dengan di berlakukannya kegiatan bangun malam ini hasil ulangan dan tingkat kelulusan siswa meningkat dari sebelumnya, dan juga mereka lebih taat dalam melakukan ibadah terutama pada shalat subuh berjamaah.

C. Kendala-Kendala Yang Dihadapi Pondok Pesantren Unwanul Falah Dalam Meningkatkan Kelulusan Siswa Pada Ujian Akhir Nasioanl Di MTs NW Pao’Lombok Desa Tebaban. Kec. Suralaga Lombok Timur.
1. Kendala Pada Guru
Pada dasarnya tugas seorang guru adalah tidak terlepas dari tanggung jawabnya sebagai pendidik, di mana dalam syarat menjadi seorang pendidik yang cakap dan trampil (Profesional), yakni mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai guru baik dilingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Dalam proses belajar mengajar adalah salah satu tugas yang wajib di embannya, tapi tidak terlepas dari hal tersebut yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana peranan guru dalam memonitoring siswa melaksanakan belajar kelompok. (Wawancara, Munawar Hadi, S.S. 07-03-2008)
Jadi dengan paparan diatas telah dijelaskan, bahwa jabatan guru adalah suatu jabatan yang fropesional, dimana seorang guru melaksanakan fungsinya di sekolah, baik di luar sekolah dalam hal ini membimbing siswa dalam belajar dalam pada Ujian Akhir nantinya.
2. Kendala Pada Orang Tua Siswa
Ditinjau dari segi mata pencaharian orang tua siswa, siswa madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok rata-rata hidup sebagai petani penggarap. Hampir 75 % dari keseluruhan siswa Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok hidup sebagai petani. Sisanya 25 % bermata pencaharian campuran, seperti pegawai negeri, pengusaha, tukang, buruh bangunan, buruh tani, dan sebagainya. Karena kondisi yang demikian itulah, maka dalam hal pembayaran uang SPP, uang bangunan dan sumbangan lainnya sering terlambat, bahkan kadang-kadang tidak dikeluarkan/ dibayar sama sekali. Demikian juga halnya dengan kesadaran orang tua untuk membelikan buku-buku paket atau buku bacaan yang dibutuhkan oleh anak-anaknya tidak bisa dipenuhi. Namun, alhamdulillah setelah adanya bantuan dari pemerintah baik berupa bantuan seperti bantuan Operasional Sekolah (BOS) secara bertahap sedikit demi sedikit kebutuhan siswa sudah mulai bisa terpenuhi.
Kepala Madrasah juga menuturkan bahwa karena sebagian besar dari mereka anak-anak petani, maka tidak jarang mereka setelah pulang dari sekolah banyak yang membantu para orang tuanya bekerja di sawah dan bahkan lebih dari itu, tidak sedikit dari mereka bekerja mkembantu orang tuanya untuk jadi buruh tani dengan harapan agar mereka bisa bertahan hidup dan ada biaya untuk bayar sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sekalipun berasal dari kalangan keluarga yang kurang mampu, namun semangat mereka untuk sekolah patut diacungi jempol. Terbukti, bahwa sejak madrasah ini didirikan sudah banyak menelorkan alumni dari kalangan keluarga yang kurang mampu dan alhamdulillah mereka sekarang sudah berhasil menjadi orang. Di antara mereka ada yang menjadi pegawai pengadilan, tenaga pengajar baik di sekolah maupun di perguruan tinggi negeri maupun swasta.(wawancara, Drs. Zainur)
Kita maklumi bahwa sebagian besar dari sekian orang tua siswa bermata pencaharian sebagai petani, dengan demikian tingkat perekonomian orang tua siswa yang ada di Pao’Lombok dibawah rata-rata, dan kebanyakan orang tua siswa berasal dari keluarga yang kurang mampu. Dengan hal tersebut orang tua siswa membutuhkan tenaga anak-anaknya untuk membantunya bekerja. Dengan demikian siswa yang tadinya harus belajar bersama teman-temannya akan tertinggal dalam mengikuti belajar kelompoknya., walapun siswa mampu mengikuti belajar kelompoknya hasilnya tidak akan maksimal seperti siswa lainnya yang ekonomi orang tuanya yang lebih tinggi, karena sepulang dari membantu orang tuanya akan merasa kelelahan sehingga tidak akan merasa fokus terhadap materi yang dibahas. (wawancara H. Izuddin Rosyidi)

3. Kendala Pada pendanaan
Setiap sekolah membutuhkan peralatan sebgai penunjang tujuan belajar mengajar yang memadai dan mencukupi, pihak sekolah mengupayakan berbagai dana bantuan baik kepada orang tua siswa yang ekonominya di katakan mampu (berada) dan bantuan pemerintah seperti bantuan pengadaan buku-buku bacaan atau paket untuk melengkapi buku-bukuyang ada di perpustakaan.
Masalah sarana prasarana tidak terlepas dari masalah dana, karena dengan prasarana yang memadai dan mencukupi maka proses belajar mengajar akan terlaksana dengan tujuan yang dinginkan. Dan terkait masalah dana dalam pelaksanaan belajar kelompok siswa membutuhkan petugas monitoring sekaligus guru, dalam hal ini kepala sekolah menunjuk wali kelas sebagai peugas monitoring sekaligus sebagai pembimbing siswa dalam belajar kelompoknya. Tapi tidak terlepas tugas dan tanggung jawabnya sebagai guru dalam hal ini sekolah meminta wali kelas sebagai pemonitoring diminta keihlasan tampa honor sepeserpun klarena terbentur dengan masalah dana yang sangat minim bahkan kadang-kadang tidaka ada. (wawancara, H. Izuddin Rosyidi)




















BAB IV
PEMBAHASAN

Sebagai langkah nyata dalam membahas permasalahan yang telah tercantum dalam BAB ini. Maka sangat perlu disajikan data-data yang diperoleh di lapangan. Untuk memudahkan penganalisaan data tersebut, maka penulis membaginya menjadi dua Variabel yaitu upaya pondok pesantren dalam pendekatan regu belajar bersama dan ingkat kelulusan siswa.

A. Upaya Pondok Pesantren Unwanul Falah Dalam Meningkatkan Kelulusan Siswa Meghadapi Ujian Akhir Nasional Di MTs NW Pao’Lombok Desa Tebaban Kec. Suralaga. Lombok Timur.
Pada abad ini sangat diperlukan untuk menelaah kembali praktik-praktik pendidikan dan pembelajaran didunia pendidikan. Peran yang harus diperankan oleh dunia pendidikan dalam mempersiapkan anak didik untuk berpartisifasi secara utuh dalam memajukan dunia pendidikan ada suatu persepri yang dipakai dalam masyarakat bahwa pendidikan sudah mengakar dan dijadikan sebagai suatu harapan masyarakat guna meningkatkan sumberdaya manusia indonesia, suatu persepsi umum ini menganggap bahwa sudah menjadi tugas guru mengajar dan mendidik siswa dengan segala muatan informasi dan berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan. Dalam dunia pendidikan sangat perlu mengambil keputusan atau sikap tegas bahwa dengan pendidikan manusia tidak termajinalkan, dengan pendidikan seseorang akan akan terangkat derajatnya baik di dunia mapun di mata Tuhan. Namun sangat perlu untuk dimengerti bahwa dunia pendidikan kadang memberikan rasa takut kepada siswa sebagai obyek pendidikan, rasa takut tersebut lahir diakibatkan dengan diharuskannya siswa memiliki nilai dan NEM yang tinggi, dengan demikian untuk mendapatkan nilai yang tinggi siswa harus belajar dengan mati-matian sehingga mendapatkan kata lulus, dengan merubah paradigma pendidikan nasional yang awalnya masih bersifat Tradisional menjadi paradigma yang tidak sulit untuk dicerna oleh siswa dan siswi antara siswa lainnya sudah sangat pantas jika guru mempertimbangkan bagaimana menciptakan kondisi proses belajar mengajar yang tidak membosankan, tidak membuat siswa pusing, ngantuk dll. untuk terciptanya hal tersebut di atas guru harus berfikir keras memilih berbagai macam pendekatan.
Berdasarkan observasi peneliti Di MTs Pao’Lombok menggunakan berbagai macam upaya untuk menunjang segala aktifitas belajar siswa dan uapaya dilakukan yang lebih menonjol digunakan adalah pendekatan regu belajar bersama tidak terlepas dari pendekatan yang dilakukan juga di Pondok ini mengadakan prasana yang memadai seperti peralatan-peralatan pembeljaran yang dapat mendukung proses belajar mengajar. Dari berbagai macam sarana-prasarana dan pendekatan regu belajar inilah yang lebih tepat atau bisa dikatakan berhasil dalam rangka meningkatkan kelulusan siswa pada ujian akhir nasional. Berangkat dari pemikiran para ahli bahwa pendekatan dalam proses belajar mengajar sangat dibutuhkan guna pemenuhan kebutuhan belajar siswa dan menciptakan suasana belajar yang kondusif guna memenuhi target pendidikan di MTs Pao’Lombok dengan nilai yang memuaskan dan dinyatakan lulus.
Dari paparan diatas, Donal Abligh (92: 2005), menyatakan bahwa bentuk-bentuk kerja kelompok dapat berupa tutorial, seminar, diskusi kelompok, kelompok-kelompok sindikat dan kelompok proyek. Tehnik diskusi ini dinamakan juga teknik konferensi, di dalamnya termasuk kegiatan untuk membangun aktivitas pikiran, di utarakan topik tertentu untuk dibicarakan dan di tarik suatu kesimpulan.
Adanya kebijakan pemerintah tersebut, membuat para pelaku pendidikan (termasuk Kepala Sekolah bersama dengan wakil kepala dan semua guru berpikir ekstra keras bagaimana caranya mempersiapkan peserta didiknya yang kelas III dalam pada ujian nasional dimaksud. Karenanya Kepala sekolah bersama para wakil dan guru-guru yang ada mengadakan musyawarah, hasilnya adalah dengan membentuk kelompok belajar bagi para siswa-siswi kelas III.
Dalam pembentukan kelompok belajar ini, terjadi urun rembuk dari semua pihak. Dan akhirnya disepakati bahwa pembentukan belajar kelompok tersebut didasarkan pada tempat tinggal siswa/sisiwi yang bersangkutan. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah berkumpulnya dan sekaligus pemantauan oleh wali kelasnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Wakasek bidang Kurikulum, bahwa dasar yang menjadi pertimbangan pembentukan kelompok belajar ini adalah dengan melihat asal-usul atau alamat siswa yang bersangkutan. Maing-masing kelompok terdiri dari 4-5 orang siswa. Jika siswa kelas III dalam satu dusun itu terdapat lebih dari 10 orang, maka akan dibentuk menjadi dua kelompok. Hal ini dimaksudkan untuk lebih mengefektifkan jalannya proses belajar kelompok dan sekaligus dimaksudkan menghindari terdapat sisiwa yang tidak serius dalam belajar alias banyak bermain dan akhirnya mengganggu konsentrasi teman-temannya yang lain.
Sementara itu, wakasek bidang Humas menuturkan bahwa “dalam rangka mempersiapkan siswa kelas III pada Ujian Nasional, pihaknya bersurat kepada para orang tua/wali murid yang bersangkutan untuk bekerjasama dalam mempersiapkan putra-putrinya pada Ujian Nasional yang akan datang. Salah satu bentuk kerjasama dimaksud adalah dengan memantau dan memotivasi anak-anaknya untuk selalu mengikuti belajar kelompok yang diadakan pihak madrasah. Disamping itu, kepada para orang tua diharapkan untuk tidak banyak mengganggu waktu belajar anak baik ketika anaknya sedang belajar sendiri di rumah maupun ketika anak pergi ke rumah temannya untuk belajar kelompok. Seperti dimaklumi bahwa sebagian besar anak-anak yang sekolah di sini adalah berasal dari keturunan petani dan atau bahkan buruh tani. Sehingga dengan demikian tidak jarang para orang tua siswa yang masih membutuhkan tenaga anak-anaknya untuk membantunya bekerja di sawah atau berburuh di sawah guna menghidupi keluarganya.
Terkait dengan harapan wakil kepala madrasah bidang humas yang mengharapkan kepada para orang tua/ wali murid untuk tidak menyita waktu belajar putra-putri mereka ini, mengingat waktu belajar kelompok tersebut dilaksanakan pada sore hari mulai setelah sholat ashar sampai menjelang waktu maghrib. Dipilihny awaktu belajar pada sore hari karenakan beberapa pertimbangan, antara lain:
1) Tempat tinggal siswa yang berjauhan walupun masih dalam satu kampung. Terutama bagi siswi (anak perempuan) sangat dikhawatirkan keselamatannya oleh para orang tuanya kalau mereka keluar rumah pada malam hari. Karena kondisi perkampungan setempat yang akhir-akhir ini tersebar berita tentang adanya makhluk jadi-jadian yang sering mengganggu anak-anak yang sedang berjalan sendirian. Hal tersebut membuat para orang tua khawatir akan keselamatan anak-anaknya terutama anak perempuan mereka.
2) Pertimbangan yang kedua adalah masalah alat penerang (lampu listrik) yang akhir-akhir ini setelah Koperasi Listrik Pedesaan (KLP) Sinar Rinjadi tidak lagi beroperasi, listrik di kampung Paok Lombok dan sekitarnya sering mengalami kemacetan. Kalau belajar kelompok itu dilakukan pada malam hari, maka dengan kondisi alat penerang tersebut sangat tidak dimungkinkan belajar kelompok akan bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
3) Pertimbangan yang ketiga, bahwa belajar kelompok yang dilaksanakan pada sore hari akan lebih memudahkan monitoring oleh pihak-pihak yang telah ditugaskan oleh kepala sekolah, dalam hal ini adalah wali kelas.
Sementara itu, guru bahasa Inggris menuturkan bahwa pelaksanaan belajar kelompok itu dimaksudkan untuk mempersiapkan para siswa pada ujian nasional yang akan datang. Karena masing-masing siswa mempunyai kelebihan dan kekurangan, maka diharapkan melalui belajar kelompok ini mereka bisa saling mengisi satu sama lain. Dalam belajar kelompok, materi-materi yang mereka bahas adalah berkisar pada materi yang termuat dalam soal ujian pada tahun-tahun sebelumnya. Soal-soal tersebut mereka bahas satu persatu. Jika soal tersebut berbentuk multipul Cois (pilihan ganda), maka disamping mereka memilih salah satu jawaban yang dianggap paling benar, mereka juga berusaha untuk mencari kemungkinan jawaban terhadap pilihan-pilihan yang relepan dengan pilihan yang lainnya yang terdapat pada soal nomor yang sama. Sehingga dengan demikian, maka wawasan mereka semakin luas atau dengan kata lain, wawasan mereka tidak hanya terbatas pada memilih salah satu jawaban yang benar dari pertanyaan yang bersangkutan. Ketika siswa-siswi menemukan masalah dalam belajar kelompok, maka salah seorang diantara mereka menghubungi guru yang bersangkutan untuk diminta datang ke kelompok mereka guna bersama-sama siswa memecahkan masalah tersebut.
Langkah yang sama juga dilakukan oleh guru bidang studi matematika. Jika dalam belajar kelompok siswa-siswi mendapatkan keslutian, maka salah seorang di antara mereka menghubungi gurunya untuk diminta datang ke tempat belajar kelompok mereka. Kedatangan guru matematika tersebut diharapkan dapat membantu para siswa-siswi yang sedang pada kesulitan untuk memecahkan permasalahan yang mereka hadapi. Dan tehnik yang diterapkan oleh guru matematika tersebut sama dengan yang diterapkan oleh guru bahasa Inggris dan guru bahasa Indonesia, yaitu memberikan kesempatan kepada masing-masing kelompok untuk membahas soal-soal ujian tahun sebelumnya. Jika mereka mendapatkan keslutin, maka barulah salah seorang di antara mereka menghubungi guru bidang studi yang bersangkutan untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi.
Dan yang lebih menarik penulis rasakan adalah ketika penulis mengobservasi pelaksanaan dari regu belajar bersama yang diterapkan dimadrasah tersebut. Berdasarkan tinjaun penulis bahwa dalam pembentukan regu ini tidak langsung siswa tersebut dimasukkan kedalam pengelompokan, akan tetapi terlebih dahulu guru-guru tersebut mengamati kekuranga-kekurangan siswa dalam belajar dan penguasaan terhadap materi pelajaran. Terelebih dahulu guru melihat hasil ujian semster dan melihat kekurangan-kekurangan siswa secra individual. Dan menyebarkan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa yang menjurus kepada kekurangan-kekurangan dan kesulitan-kesulitan apa saja yang dialami oleh siswa.khusunya siswa kelas iii mts pao’lombok, kemudian dilakukan pengelompokan-pengelompokan seperti siswa yang kurang menguasai bahasa inggris dan ada siswa/siswi yang menguasai mata pelajaran bahasa inggris, maka siswa/siswi tersebut diregukan kedalam regu bahasa inggris dan begitu juga terhadap siswa/siswi yang tidak menguasai mata pelajaran yang lainnya. Pendekatan ini sangat dirasakan epektif dan biasanya pelajaran-pelajaran yang diregukan adalah pelajaran yang di UAN-kan.
Hal tersebut dilakukan untuk memperbaikai beberapa kekuranga-kekurangan siswa untuk pada ujian akhir nasional (UAN) yang distandarisasikan. Yang mengidentifikasikan meningkatnya kelulusan siswa tersebut adalah berbagai pendekatan-pendekatan yang digunakan dan lebih menonjol adalah pendekatan regu belajar bersama tersebut (Observasi).
Untuk mengetgahui uapaya yang dilakukan lembaga pendidikan khususnya pondok pesantren unwanul falah pao’lombok lombok, melalui pendekatan regu belajar bersama terhadap ingkat kelulusan siswa, peneliti pada saat penelitian melakukan wawancara, observasi, dengan salah satu guru di mts pao’lombok yang sudah selesai melakukan aktifitas belajar mengajar pada saat dimadrasah tersebut, dan juga poenulis pada saat penelitian tersebut melakukan dokumentasi terhadap hasil ujian kelulusan siswa pada tahun sebelumnya (2005/2006).
Adapun hasil wawancara dengan guru di mts pao’lombok, sebelum proses belaja mengajar dimulai siswa diwajibkan berbaris bersama dilapangan madrasah, kemudian berdoa bersama baru setelah itu proses beljaar-mengajar dimulai, dalam proses pengayaan materi dan pengulangan materi pelajaran yang telah lalu guna dapat mengikuti ujian nasional dengan hasil yang memuaskan, di butuhkan berbagai macam strategi atau upaya yang ditempuh tentunya digerakkan oleh madrasah untuk memudahkan siswa pada saat melakukan ujian akhir nasional, sehingga pendekatan-pendekatan belajar dilakukan untuk menunjang hal tersebut, dengan demikian pendekatan regu belajar bersama menjadi salah satu pilihan solusi guna memenuhi kebutuhan siswa akan belajar untuk pada ujian akhir nasional (UAN).
Lebih tegasnya dikatakan bahwa pendekatan regu belajar bersama ini disamping pendekatan yang efektif untuk saling mengisi antar siswa, dan juga ada proses tersebut guru dijadikan sebagai fasilitator, sehingga untuk terjadinya kesalahan-kesalahan sangat kecil sekali.
Dengan memahami hal tersebut diatas sangat jelas bahwa upaya yang dilakukan pondok pesantren melalui pendekatan regu belajar bersama sangat meningkatkan kelulusan siswa di MTs Pao’Lombok desa tebaban kec. Suralaga. Penulis selaku peneliti telah mengambil langkah-langkah dengan menggunakan tehnik dokumentasi dan wawancara. Hasil yang didapatkan tersebut dapat dilihat pada hasil analisa data. Dengan penggunaan tehnik-tehnik ini bertujun untuk mengetahui data tentang upaya pondok pesantren meningkatkan kelulusan siswa pada ujian akhir nasional.
(Freire,1999:189) mengatakan bahwa belajar bersama merupakan bentuk saling mengisi dari kekurangan-kekurangan yang dialami pleh siswa dalam permasalahan materi-materi pelajarannya atau hal-hal lain yang membutuhkan adanya sebuah pemecahan terhadap suatu permaslaahan dengan dipandu oleh seseorang guru yang dianggap kompeten dalam persoalan materi yang menjadi kekurangan siswa dalam mempelajarinya.
Dari beberapa paparan tersebut di atas, Hersa (2004:55) menyatakan bahwa regu belajar bersama merupakan kelompok belajar sistematis yang menggunakan fasilitator atau pengarah untuk tercapainya tujuan belajar yang diinginkan. Regu belajar bersama merupakan pendekatan yang menghendaki adanya penyempurnaan atau pengisian terhadap kekurangn-kekurangan siswa dalam hal memahami mata pelajarannya.

B. Kendala-Kendala Yang Dihadapi Pondok Pesantren Unwanul Falah Dalam Meningkatkan Kelulusan Siswa Pada Ujian Akhir Nasional Di MTs NW Pao’Lombok Desa Tebaban. Kec. Suralaga Lombok Timur.
Sesungguhnya semua orang menginginkan kesuksesan yang luar biasa dalam meraih cita-citanya. Namun, sangat disayangkan bahwa harapan itu tidak selamanya bisa berjalan dengan mulus. Demikian pula halnya dengan Madrasah Tsanawiyah NW Pao’Lombok, dimana semua pihak, mulai dari Kepala Madrasah, wakil kepala madrasah, para guru, para orang tua siswa dan bahkan siswa sekalipun semua menginginkan kelulusan dalam ujian nasional. Namun kenyataannya bahwa dari sekian banyak peserta ujian tidak menutup kemungkinan ada saja di antara para siswa yang tidak lulus dalam ujian. Untuk itu kepala madrasah beserta semua pihak yang terkait berusaha membekali siswa pada ujian nasional dengan berbagai jenis kegiatan. Salah satu di antaranya adalah dengan mengadakan kegiatan belajar kelompok. namun sangat disayangkan bahwa dalam belajar kelompok tidak bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini disebabkan oleh beberapa kendala, di antaranya adalah:
Dari pihak orang tua siswa. Seperti dimaklumi bahwa sebagian besar siswa berasal dari keluarga yang kurang mampu dan berasal dari kalangan petani. Para orang tua selalu membutuhkan tenaga anak-anaknya untuk membantunya menggarap sawah maupun bekerja sebagai buruh tani. Anak-anak tersebut, secara tidak langsung sangat tersita waktunya untuk mengulangi pelajaran atau untuk mengikuti kegiatan belajar kelompok
Sebagai solusinya, pihak sekolah menghubungi para orang tua siswa dan memberikan pengertian kepada mereka bahwa anak-anaknya sebentar lagi akan pada ujian nasional. Dimana ujian nasional kali ini ketentuan sangat berat. Karena itu, mohon kepada bapak selaku orang tua untuk mengijinkan putra-putrinya mengikuti program belajar kelompok yang telah dibentuk oleh pihak madrasah.
Dari segi pendanaan, bahwa dalam memenuhi kebutuhan siswa terutama penggandaan soal-soal ujian tahun sebelumnya untuk dijadikan pegangan oleh masing-masing siswa kemudioan dibahas bersama antar sesama anggota kelompoknya, tidak dapat dipenuhi oleh semua siswa. Artinya, sebagian siswa merasa dan memang benar tidak mampu untuk menggandakan sendiri bekas soal-soal ujian nasional dimaksud. Sebagai solusinya, pihak madrasah mengharapkan kepada siswa lainnya untuk bersedia bergabung dengan teman-temannya yang kurang mampu demi kesuksesan bersama.
Dari segi petugas yang memonitoring. Dalam hal pemonitoringan, pihak madrasah telah menunjuk wali kelas yang bersangkutan untuk memantau jalannya proses belajar kelompok siswa-siswi kelas III. Namun karena keterbatasan waktu dan kesibukan guru yang bersangkutan mengakibatkan kerjanya tidak maksimal. Terkadang guru yang ditugaskan untuk memantau jalannya proses belajar siswa sering tidak dilaksanakan, karena yang bersangkutan sibuk dengan pekerjaan atau urusan keluarganya sendiri. Maklum dalam hal pemonitoringan ini, pihak madrasah tidak bisa memberikan imbalan/ honor kepada petugas/ guru yang telah ditunjuk. Dengan kata lain, mereka yang telah ditunjuk itu bekerja atas dasar tanggung jawab, bukan karena ada imbalan atau honor. Namun tidak bisa dilupakan bahwa mereka juga punya tanggungan terhadap kebutuhan keluarganya. Karenanya, mereka tidak bisa kita tekan/ paksa untuk tetap memonitoring siswa dalam belajar kelompok. Solusinya, pihak madrasah menunjuk guru bidang studi yang bersangkutan untuk mendampingi petugas monitoring yang telah ditunjuk





BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan dari paparan data pada bab-bab diatas sebelumnya, dapat ditarik beberapa kesimpulan, antara lain:

1. Upaya-Upaya Yang Dilakukan Pondok Peantren Unwanul Falah Dalam Meningkatkan Kelulusan Siswa Pada Ujian Akhir Nasional di NW Unwanul Falah Apao’Lombok. Desa Tebaban Kec. Suralaga. Lombok Timur.
a. Pembentukan regu belajar bersama
Bahwa dalam rangka meningkatkan kelulusan para siswanya yang kelas III pada ujian nasional, pihak madrasah telah melakukan berbagai macam kegiatan, salah satu di anatarnya adalah dengan membentuk kelompok regu belajar bersama. Kelompok. belajar ini dibentuk berdasarkan asal/alamat siswa yang bersangkutan, tanpa melihat kemampuan atau kelemahan intelektualitas masing-masing siswa. Dalam sistem regu tersebut, siswa didampingi/ dimonitoring oleh wali kelasnya sendiri. Kebijakan kepalas madrasah menunjuk wali kelas untuk memonitoring siswa-siswi yang sedang belajar kelompok adalah berdasarkan emosional. Artinya wali kelas menurut hemat kepala madrasah secara emosional lebih dekat hubungannya dengan siswa dibanding dengan guru yang lain. Karena itu diharapkan siswa yang pada masalah, akan secara bebas dan terbuka menyampaikan permasalahannya kepada wali kelasnya.
b. Pembentukan diskusi kelompok
Berbagai upaya yang dilakukan dalam meningkatkankan kelulusan siswa selain dengan membentuk sistem regu belajar bersama juga menerapkan diskusi-diskusi kelompok. Seperti dipaparkan pada bagian latar belakang permasalahan pada bab I terdahulu, bahwa belajar kelompok bagi siswa kelas III Madrasah Tsanawiyah NW Pao’ Lombok dimaksudkan untuk mempersiapkan siswa/siswi pada Ujian Nasional tahun pelajaran 2007/2008. Dimana Ujian Nasional dimaksud oleh Pemerintah telah menetapkan kebijakan tentang standar minimum nilai yang harus dicapai oleh peserta ujian sehingga yang bersangkutan baru dinyatakan lulus dalam ujian. Standar minimum nilai yang harus diperoleh oleh peserta Ujian Nasional dimaksud adalah 4,31 untuk masing-masing mata Ujian dari tiga mata pelajaran yang diujikan (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika).
c. Belajar dirasah
Sebagiamana yang telah dipaparkan dibagian bab IV dalam penyajian data bahawa belajar dirasah adalah bagian yang dilkakukan Pondok pesantren dalam mengupayakan kelulusan siswa. Dalam hal ini guru yang bertindak sebagai pengajar adalah guru bidang studi yang bersangkutan, yang dilaksanakan pada sore hari.
Masih terdapat siswa yang datang ke sekolah dan hadir di kelas dengan alakadarnya atau sekadar hadir, tidak mengoptimalisasikan semua potensi dirinya untuk meraih hasil terbaik dalam daya serap materi maupun prestasinya. Padahal jika dimaksimalkan, niscaya hasilnya akan lebih bagus kalaupun tidak ditambah dengan les-les yang lain di luar jam sekolah. Pada umumnya, para siswa kurang menggunakan kemampuan nalarnya dalam belajar, baru sebatas menghafal. Siswa juga masih kurang untuk bertanya, berdialog bahkan berdebat dengan gurunya. Padahal kemampuan bertanya salah satu upaya untuk memperkuat pemahamaman atau pengertian dan keterampilan belajar.
d. Menerapkan tahajjut bersama
Salah satu kegiatan yang diterapkan di Pondok pesantren sebagai usaha yang berdampak positif yaitu; bangun malam dengan kegiatan shalat tahajjut, belajar kelompok, ngaji kitab kuning sampai tiba waktu subuh.
e. Sarana dan prasarana
Adapun dalam upaya peningkatan kelulusan para siswa tidak kan lepar dari kebutuhan siswa dalam suksesnya tujuan belajar mengajar dengan demikian pihak sekolah/lembaga mengadakan berbagai perlengkapan dan sarana-prasarana diantara sarana dan prasarana yang diadakan seperti: membangun ruang Perpustakaan, mengadakan Laboraorium (bahasa, komputer, dan IPA), yang bertujuan untuk membangkitkan dan mempermudah para siswa dalam proses belajar-mengajar.

2. Kendala-Kendala Yang Dihadapi Pondok Peantren Unwanul Falah Dalam Meningkatkan Kelulusan Siswa Pada Ujian Akhir Nasional Di NW Unwanul Falah Pao’Lombok. Desa Tebaban Kec. Suralaga. Lombok Timur.
Belajar kelompok yang telah di bentuk oleh pihak madrasah sesungguhnya tidak bisa lepas dari kendala atau hambatan. Hambatan-hambatan tersebut berdatangan dari berbagai pihak, di antaranya adalah:
a. Paktor eksternal
1) Dari orang Tua siswa. Karena sebagian besar siswa berasal dari keluarga kurang mampu, maka oleh para orang tua masih membutuhkan tenaga anak-anaknya untuk membantunya bekerja di sawah dan sebagainya. Sehingga tidak jarang sesudah anak pulang sekolah, para orang tua langsung menyuruh anaknya pergi ke sawah untuk bekerja. Sehingga dengan demikian secara tidak langsung akan megganggu konsentrasi belajar anak. Kemudian dari segi waktu, karena sehabis pulang dari sekolah anak disuruh langsung pergi ke sawah untuk bekerja, maka banyak waktu belajar anak yang tersita oleh pekerjaan tersebut. Sehingga dengan demikian terkadang anak sering tidak dapat mengikuti kegiatan belajar kelompok.
2) Dari segi tenaga pendamping. Dalam hal ini yang bertugas memonitoring siswa belajar kelompok adalah para wali murid. Padahal dalam belajar kelompok tersebut, sangat mungkin anak-anak pada kesulitan/ masalah yang memerlukan penanganan serius oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan.
3) Dari segi pendanaan. Karena sebagian besar anak berasal dari keluarga kurang mampu, maka untuk pengadaan materi yang akan dijadikan bahan pelajaran untuk dibahas pada saat belajar kelompok sering tidak dapat dilaksanakan sesuai harapan. Artinya, tidak semua siswa bisa menggandakan sendiri materi yang akan dibahas itu karena keterbatasan dana yang mereka miliki.
b. Internal internal
1) Pihak madrasah telah banyak menempuh upaya untuk mengatasi hambatana-hambatan tersebut, sesuai dengan jenis dan ragam hambatan itu sendiri. Yang terkait dengan orang tua, pihak madrasah melalui waka humasnya telah menginformasikan kepada orang tua mereka agar para siswa diberikan kesempatan yang luas untuk mengikuti pelajaran (baik di sekolah maupun di luar sekolah) termasuk dalam belajar kelompok itu sendiri. Yang terkait dengan keterbatasan dana untuk menggandakan materi pelajaran yang akan dibahass, pihak madrasah telah meminta kepada siswa yang mempunyai materi untuk bersedia bergabung dengan teman-temannya yang belum memiliki materi tersebut. Kemudian yang terkait dengan meonitoring atau pendaping, pihak madrasah telah menunjuk guru-guru mata pelajaran yang bersangkutan mendatangi kelompok belajar siswa yang pada masalah guna memberikan bimbingan kepada siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.
B. Saran-Saran dan Solusi
Sesungguhnya kemauan pihak madrasah membentuk kelompok belajar dan pengadaan sarana-parasarana ini merupakan salah satu upaya membantu siswa dalam mempersiapkan dirinya pada ujian nasional yang akan datang. Namun demikian, berangkat dari berbagai macam informasi dan data sebagaimana yang dipaparkan pada bagian paparan data pada bab sebelumnya, maka dipandang perlu memberikan beberapa saran sebagai berikut:
1. Kepada Kepala Madrasah, hendaknya dalam pembentukan kelompok belajar tersebut perlu diadakan evaluasi atau paling tidak berangkat dari nilai atau kemampuan masing-masing siswa. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan bimbingan kepada siswa yang bersangkutan. Sebab kalau bimbingan itu diberikan kepada siswa secara klasikal/ merata antara siswa yang pintar dengan yang kurang pintar, maka hasilnya tidak akan maksimal. Artinya, kalau materi bimbingan itu terlalu mudah, maka akan membuat siswa yang pintar merasa jenuh dan kurang perhatian. Sebaliknya jika materi yang bimbingan itu agak sukar, kasihan siswa yang berkemampuan rendah. Materi yang diberikan itu tidak akan pernah mereka pahami, demikian seterusnya. Untuk itu, sekali lagi, sebaiknya sebelum kelompok belajar itu dibentuk terlebih dahulu mempertimbangkan tingkat kemampuan masing-masing siswa yang akan digunakan sebagai acuan dalam membentuk kelompok belajar. Demikian juga tentang penunjukan guru pendaming yang akan mendampingi siswa dalam belajar kelompok, hendaknya kepala madrasah menunjuk orang yang betul-betul ahli dalam bidangnya, atau paling tidak kepala madrasah menunjuk guru mata pelajaran yang bersangkutan untuk mendampingi siswa. Sebab, menurut hemat peneliti bahwa guru mata pelajaran yang bersangkutan lebih paham terhadap permasalahan yang dihadapi siswa daripada wali kelasnya. Karena fungsi pembimbing ini adalah membantu siswa memecahkan masalah yang dihadapinya dalam belajar kelompok.
2. Kepada para orang tua/ wali murid, hendaknya memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada putra-putrinya untuk belajar, baik belajar di rumah sendiri maupun belajar kelompok. Jangan sampai para orang tua selalu menyuruh anak-anaknya pergi bekerja di sawah atau ditempat manapun. Karena mereka (para siswa sedang membutuhkan konsentrasi mempersiapkan diri pada ujian nasional)
3. Kepada para siswa, ujian nasional ini beda dengan ujian semester. Kalau pada ujian semester kenaikan kelas bisa dipertimbangkan dari berbagai segi. Seperti kerajianan, ketaatan, kemampuan, dan sebagainya. Tapi kalau pada ujian nasional, yang menjadi patokan kelulusan adalah hasil ujian itu sendiri, tanpa mempertimbangkan segi yang lainnya. Jika siswa sudah bisa mencapai standar minimal dari nilai masing-masing mata pelajaran yang telah ditentukan, maka siswa tersebut dinyatakan lulus dalam ujian nasional. Tapi sebaliknya, bagaimanapun pintarnya seorang siswa, jika hasil ujian nasionalnya tidak bisa mencapai standar minimal, maka yang bersangkutan dinyatakan tidak lulus dalam ujian. Karena itu, hendaknya kelompok belajar yang telah dibentuk pihak madrasah betul-betul dimanfaatkan sebaik mungkin sehingga apa yang diharapkan bisa tercapai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar