Selasa, 28 Desember 2010

PENGERTIAN SOSIOLOGI

1

A. Pengertian, Karakteristik, dan Ruang Lingkup Sosiologi
Secara terminologi ‘sosilogi’ berasal dari bahasa Latin dan Yunani, yakni kata ‘socius’
dan ‘logos’. ‘Socius’ (Yunani) yang berarti ‘kawan’, ‘berkawan’, ataupun ‘bermasyarakat’.
Sedangkan ‘logos’ berarti ‘ilmu’ atau bisa juga ‘berbicara tentang sesuatu’. Dengan demikian
secara harfiah istilah “sosiologi” dapat diartikan ilmu tentang masyarakat (Spencer dan
Inkeles, 1982:4; Abdulsyani, 1987: 1). Oleh karena itu sosiologi sebagai disiplin ilmu yang
mengkaji tentang masyarakat maka cakupannya sangat luas, dan cukup sulit untuk
merumuskan suatu definisi yang mengemukakan keseluruhan pengertian, sifat dan hakikat
yang dimaksud dalam beberapa kata dan kalimat. Dengan kata lain suatu definisi hanya
dapat dipakai sebagai suatu pegangan sementara saja. Untuk sekedar pegangan sementara
tersebut, di bawah ini diberikan beberapa definisi sosiologi, sebagai berikut:
Pertama; Pitirim Sorokin (1928: 760-761) mengemukakan bahwa sosiologi adalah
suatu ilmu tentang: (a) hubungan dan pengaruh timbal-balik antara aneka macam gejalagejala
sosial (contoh: antara gejala ekonomi dengan non-ekonomi seperti agama, gejala
keluarga dengan moral, hukum dengan ekonomi, dan sebagainya.
Kedua; William Ogburn dan Meyer F Nimkoff (1959: 12-13) berpendapat bahwa
sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu
organisasi sosial. Ketiga; Roucek dan Warren (1962: 3) berpendapat bahwa sosiologi adalah
ilmu tentang hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompoknya. Keempat; J.A.A. van
Doorn dan C.J. Lammers (1964: 24) mengemukakan bahwa sosiologi ilmu tentang strukturstruktur
dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.
Kelima; Meta Spencer dan Alex Inkeles (1982: 4) mengemukakan bahwa sosiologi
ilmu tentang kelompok hidup manusia. Keenam; David Popenoe (1983:107-108)
berpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu tentang interaksi manusia dalam masyarakat
sebagai suatu keseluruhan. Ketujuh; Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi (1982: 14)
menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu tentang struktur sosial dan proses-proses sosial,
termasuk perubahan-perubahan sosial. Selanjutnya menurut mereka bahwa struktur sosial
keseluruhan jalinan abtara unsur-unsur sosial yang pokok yaitu kaidah-kaidah sosial
(norma-norma sosial), lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok serta lapisan sosial.
Sedangkan proses sosial adalah pengaruh timbal-balik antara pelbagai segi kehidupan
bersama, umpamanya pengaruh timbal-balik antara segi kehidupan ekonomi dengan segi
kehidupan politik, kehidupan hukum dengan agama, dan sebagainya.
Dengan demikian dalam buku ini sosiologi dapat didefinisikan sebagai disiplin ilmu
tentang interaksi sosial, kelompok sosial, gejala-gejala sosial, organisasi sosial, struktur
sosial, proses sosial, maupun perubahan sosial.
Pada umumnya sosiologi berkonsentrasi pada pemecahan masalah, tetapi
kemunculan ilmu sosial ini dimaksudkan untuk membuat manusia sebagai mahluk rasional
ikut aktif ambil bagian dalam gerakan sejarah, suatu gerakan yang diyakini memperlihatkan
arah dan logika yang belum diungkapkan oleh manusia. Karena itu sosiologi dapat membuat
manusia merasa seperti di rumah sendiri di dunia yang asing lebih mampu mengendalikan
diri mereka sendiri dan ⎯ secara kolektif dan tidak langsung ⎯ kondisi tempat mereka harus
beraktivitas. Dengan kata lain sosiologi diharapkan akan menemukan kecenderungan
histories dari masyarakat modern, dan memodifikasinya. Sosiologi membantu
perkembangan dan mengatur proses pemahaman yang mendasar dan spontan. Juga sejak
dari awal sosiologi mengasumsikan bahwa tidak semua transformasi modern itu bermanfaat
atau diharapkan. Karena itu sosiologi harus memberi peringatan kepada publik di semua
2
lapisan, khususnya di tingkat pembuat kebijakan, tentang adanya bahaya yang tersembunyi
di balik proses yang tidak terkendali. Sosiologi juga harus memberikan jalan keluar untuk
mencegah terjadinya proses yang tidak diinginkan tersebut, atau mengusulkan cara untuk
memperbaiki kerusakan.
Para pendiri dan penerus disiplin ilmu yang baru ini setuju dengan pandangan
tersebut di atas, walaupun mungkin mereka berbeda dalam penafsiran tentang ciri-ciri
krusial dan faktor-faktor utama dari trend historis yang harus dipahami. Auguste Comte
(1798-1857) mengidentifikasi kekuatan penggerak sejarah dalam kemajuan pengetahuan
ilmiah dalam “semangat positivisme”. Herbert Spencer (1820-1903) membayangkan
perjalanan masyarakat menuju tahap “industri” yang damai, di mana tersedia banyak hasil
produksi untuk didistribusikan. Ia meramalkan kemajuan yang berkelanjutan menuju
masyarakat yang semakin kompleks, bersamaan dengan bangkitnyaotonomi dan diferensiasi
individu. Karl Marx (1818-1883) memperkirakan pada akhirnya muncul kontrol progresif
terhadap alam di dalam emansipasi penuh dari masyarakat ⎯ untuk menghindari
kesengsaraan dan perselisihan (konflik) yang akan mengakhiri alienasi produk dari
produsennya serta mengakhiri transformasi produk-produk tersebut menjadi modal yang
dipakai untuk memperbudak dan mengambil alih produsen, dan pada akhirnya akan
terselsaikan semua bentuk eksploitasi.
Ferdinand Tonnies (1855-1936) memperkirakan pergantian sejarah, di mana
Gemainschaft ⎯ jaringan ikatan parsial, impersonal, mempunyai tujuan tertentu, dan
kontraktual. Emile Durkheim (1855-1917) memfokuskan analisisnya pada trend historis atas
pembagian progresif dari tenaga kerja, dan karena itu akan bertambahnya kompleksitas
sosial secara keseluruhan. Ia mengajukan sebuah model masyarakat yang diintegrasikan,
pertama melalui solidaritas “mekanik” dari segmen yang sama kemudian melalui solidaritas
“organik” dari kelas dan golongan yang berbeda-beda namun saling ketergantungan satu
sama lain. Max Weber (1864-1920) menghadirkan modernitas terutama dari sudut pandang
rasionalisasi semua bidang kehidupan sosial, pikiran dan kebudayaan. Dan semakin
banyaknya tindakan yang dilakukan berdasarkan kalkulasi rencana serta mengabaikan
tindakan irasional maupun berdasarkan aturan adat-istiadat. George Simmel (1859-1918)
menekankan pergerakan dari hubungan kualitatif dan terdiferensiasi kearah hubungan
kuantitatif yang seragam. Menggarisbawahi peran baru yang semakin meningkat yang
dimainkan oleh kekuatan yang semakin universal dan mandiri. Contohnya yang paling baik
adalah institusi keuangan dan aliran pemikiran kategoris abstrak (Bauman, 2000: 1028).
Apabila dahulu sosiologi terutama berhubungan dengan semua aspek stabilitas,
repoduksi diri dan perulangan, di mana dengan jalan atau cara mengamankan semua aspek
tersebut (perhatian utama dari “teori sistem” Talcot Parsons yang pernah dominan dan
menarik perhatian dari fungsionalisme struktural), maka kini perhatian beralih kepada studi
inovasi. Dipahami bahwa setiap tindakan adalah semacam kerja kreatif, meskipun
pemahaman ini selalu mengambil penjelasan dari pola-pola yang telah ada dan bermakna.
Penekanan juga telah jauh bergeser dari penelitian hukum dan keteraturan lainnya ke
tindakan yang lebih dinamis. Tindakan tidak lagi dianggap sebagai kepastian, tetapi lebih
sebagai kemungkinan, setiap tindakan adalah kreasi yang unik, dan karena itu sebenarnya
tidak dapat diprediksi. Keraguan juga ditujukan kepada nilai prediktif dari statistik. Diakui
bahwa sebagian besar fenomena yang sering terjadi tidak selalu merepresentasikan trend
masa depan. Akibatnya, tampak tidaknya ada kriteria yang jelas untuk mengantisipasi
konsekuensi dari kejadian, dampak dan durabitlitasnya. Oleh karena itu untuk menilai
signifikansinya, hal ini pada gilirannya mengakibatkan erosi obyek atau daerah studi
sosiologi yang pernah menjadi pusat perhatian dan bersifat khusus. Karena sosiologi tidak
lagi berhubungan dengan “konflik dasar”, “hubungan utama”, atau “proses yang
mengarahkan”, maka tidak jelas mengapa beberapa topik tertentu, aktor atau peristiwa harus
diberikan prioritas oleh para sosiolog.
Perhatian para sosiolog bergeser dari ruang kendali (dari isu-isu seperti dampak
negara, dominasi kelas, dan sebagainya), ke interaksi sehari-hari dan mendasar, ke tingkat
akar rumput dari realitas, ke apa yang aktor lakukan satu sama lain dan kepada mereka
sendiri, di dalam konteks interaksi langsung. Di bawah pengaruh argumen Alfred Schutz
3
yang menyatakan bahwa “dunia di dalam jangkauan” memberikan arketip untuk para aktor
suatu model dari semua “kesemestaan makna” yang lain (Schutz, 1982), diasumsikan bahwa
keahlian dan pengetahuan yang esensial secara reflektif atau tidak, yang disebabkan oleh
para aktor di dalam kehidupan sehari-hari mereka, pada akhirnya bertanggung-jawab atas
apa yang dianggap trend global dan impersonal atau bertahannya struktur obyektif (Bauman,
2000:1030).
Kalau saja dahulu ketika para aktor dianggap mempunyai banyak pengetahuan dan
dalam prinsipnya mudah untuk memonitor diri sendiri, maka tugas utama investigasi
sosiologis berubah menjadi rekonstruksi pengetahuan mereka. Hal ini secara dramatis
mengubah peran yang selama ini dianggap masuk akal di dalam diskursus sosiologi, yang
pada awalnya dianggap interpretasi alternatif yang lemah informasinya, dan secara esensial
keliru khususnya terhadap realitas sosial kini menjadi sumber utama bagi interpretasi
sosilogi. Ilmu sosiologi sampai pada derajat yang belum pernah terjadi sebelumnya, kini
menerima pandangan hermeneutika (Gadamer, 1960; Ricoeur: 1981) ⎯ seperti yang digagas
oleh Dilthey dan Weber dengan konsep verstehen-nya ⎯ menekankan bahwa realitas sosial
secara intrinsik adalah bermakna (diberi makna oleh aktor yang memproduksinya), dan
bahwa untuk memahami realitas tersebut maka seseorang harus merekonstruksi makna yang
diberikan oleh aktor tersebut. Hal ini tidak selalu berarti bahwa para sosiolog harus berusaha
sampai empati untuk menemukan apa yang sedang dipikirkan para aktor. Para ahli sosiologi
masih cenderung menyangkal bahwa para aktor selalu merupakan penilai interpretasi
sosiologis yang paling baik. Namun demikian pendekatan hermeneutika bukan berarti bahwa
penjelasan atau penafsiran realitas sosial harus memperlakukan aktor sebagai pengendali
makna dan pencipta makna, daripada sebagai orang yang didorong dan ditarik oleh desakan
dan kekuatan yang secara obyektif dapat digambarkan.
Kecenderungan lain yang berhubungan erat adalah perpindahan dalam keterkaitan
dari koersi dan desakan eksternal ke konstruksi diri dan definisi diri dari aktor. Tindakan
menjadi bermakna, aktor mempunyai pengetahuan secara konstan merefleksikan identitas
dan motif-motif tindakan mereka. Dapat dikatakan bahwa jika manusia dipandang oleh
sosiologi ortodoks terutama dikendalikan oleh kebutuhan dan sasaran dari kekuatan sosial,
maka mereka kini cenderung lebih sering ditafsirkan adanya pengendalian oleh identitas
subyek yang termotivasi dan mempunyai pilihan sendiri.
Trend yang paling umum adalah mengesampingkan organisasi-organisasi sosial
untuk mencari pemicu tindakan sosial yang sebenarnya. Dengan demikian ahli sosiologi
kontemporer lebih memberikan perhatian kepada komunitas (community) dengan
mengorbankan masyarakat (society) demi tujuan praktis, identik dengan negara bangsa.
Dalam selang waktu yang cukup lama, para sosiolog percaya bahwa komunitas adalah
peninggalan dari masa pramodern, yang ditakdirkan lenyap seiring dengan berjalannya
modernisasi. Kini posisinya dikembalikan ke posisi utama dalam analisis sosiologis, dan
dianggap sebagai sumber tertinggi dari makna yang dipunyai aktor serta dari realitas sosial
sendiri. Komunitas tersebut dianggap sebagai penyangga tradisi yang dipertahankan dan
diciptakan kembali oleh tindakan-tindakan dari para anggotanya; menjadi sumber utama
dari semua komunitas umum (commonality) yang dijumpai dalam makna para aktor. Di
mana mereka menjadi point referensi dalam proses para aktor mendefinisikan diri mereka
sendiri serta membentuk identitasnya. Berbeda dengan “masyarakat” yang diidentikan
dengan negara-bangsa, komunitas tidak memiliki batas-batas obyektif ⎯ batas-batas yang
dijaga oleh kekuatan koersif. Sebab komunitas adalah cair, begitu-pun kekuatan yang
mencengkram para anggotanya mungkin juga beragam bentuknya (cengkraman itu tidak lain
adalah intensitas dari identifikasi emosional para aktor dengan apa yang mereka rasakan,
atau bayangkan, sebagai komunitas).
Sebaliknya, para sosiolog beranggapan bahwa komunitas adalah imagined (yang
dibayangakan). Sebagaimana pandangan dalam sosiolog kontemporer, komunitas adalah
seauatu yang dipostulatkan ⎯ postulat tersebut menjadi kenyataan ketika tindakan
dilakukan seolah-olah tindakan tersebut adalah realitas. Karena itu ada sifat saling
mempengaruhi yang konstan antara aktor dan komunitas “mereka” yang tidak diberi
prioritas di dalam analisis sosiologi (Bauman, 2000: 1030).
4
Sebagai obyek kajian sosiologi adalah masyarakat dan perilaku sosial manusia dengan
meneliti kelompok-kelompoknya. Kelompok tersebut mencakup; keluarga, etnis /suku
bangsa, komunitas pemerintahan, dan berbagai organisasi sosial, agama, politik, budaya,
bisnis dan organisasi lainnya (Ogburn dan Nimkoff, 1959: 13; Horton dan Hunt, 1991: 4).
Sosiologi juga mempelajari perilaku dan interaksi kelompok, menelusuri asal-usul
pertumbuhannya serta menganalisis pengaruh kegiatan kelompok terhadap para
anggotanya. Dengan demikian sebagai obyek kajian sosiologi adalah masyarakat manusia
yang dilihat dari sudut hubungan antar manusia, dan proses-proses yang timbul dari
hubungan manusia dalam masyarakat.
Kemudian jika ditelaah lebih lanjut, tentang karakteristik sosiologi itu menurut
Soekanto (1986: 17) mencakup: Pertama; sosiologi merupakan bagian dari ilmu sosial,
bukan merupakan bagian ilmu pengetahuan alam maupun ilmu kerokhanian. Pembedaan
tersebut bukan semata-mata perbedaan metode, namun menyangkut pembedaan substansi,
yang kegunaannya untuk membedakan ilmu-ilmu pengetahuan yang bersangkut-paut
dengan gejala-gejala alam dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan gejalagejala
kemasyarakatan. Khususnya, pembedaan tersebut di atas membedakan sosiologi dari
astronomi, fisika, geologi, biologi dan lain-lain ilmu pengetahuan alam yang kita kenal.
Selain itu juga dapat dipahami karena kajian sosiologi sangat luas yakni tentang masyarakat
(interaksi sosial, gejala-gejala sosial, organisasi sosial, struktur sosial, proses sosial, maupun
perubahan sosial).
Kedua; sosiologi bukan merupakan disiplin yang normatif, melainkan suatu disiplin
yang bersifat kategoris; artinya sosiologi membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini,
dan bukan mengenai apa yang semestinya terjadi atau seharusnya terjadi. Dengan demikian
sosiologi dapat dikategorikan sebagai ”ilmu murni” (pure science), dan bukan merupakan
ilmu terapan (applied science). Sebagai ”ilmu murni” (pure science) sosiologi bukan disiplin
yang normatif. Artinya sosiologi membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini, serta
bukan mengenai apa yang terjadi seharusnya terjadi. Di sini berarti sosiiologi tidak
menetapkan kearah mana sesuatu seharusnya berkembang, dalam arti memberikan
petunjuk-petunjuk yang menyangkut kebijaksanaan kemasyarakatan dari proses kehidupan
bersama tersebut. Dengan demikian dalam sosiologi tidak menilai apa yang buruk dan apa
yang baik, apa yang benar dan apa yang salah. Tentu saja berbeda dengan ”ilmu terapan”
(applied science) yang bertujuan untuk mempergunakan dan menetapkan ilmu pengetahuan
tersebut dalam masyarakat dengan maksud membantu kehidupan masyarakat, contohnya
ilmu pendidikan.
Ketiga; sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola
umum (nomotetik). Berbeda dengan sejarah misalnya (lebih banyak meneliti dan mencari
pola-pola khusus atau ideografik) yang menekankan tentang keunikan sesuatu yang dikaji.
Dalam arti bahwa sosiologi mencari apa yang menjadi prinsip-prinsip atau hukum-hukum
umum dari interaksi antar manusia individu maupun kelompok dan perihal sifat hakikat,
bentuk, isi serta struktur maupun proses dari masyarakat manusia, dan; Keempat: Sosiologi
merupakan ilmu sosial yang empiris, faktual, dan rasional. Dakam istilah Spencer dan
Inkeles (1982: 4) dan Popenoe (1983: 5) mereka menyebutnya “the science of the obvious”
atau “jelas nyata”.
Kelima; sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak, bukan tentang ilmu
pengetahuan yang konkrit. Artinya bahwa bahan kajian yang diperhatikan dalam sosiologi
adalah bentuk-bentuk dan pola-pola peristiwa-peristiwa dalam masyarakat, dan bukan
wujudnya tentang masyarakat yang konkrit.
Keenam; sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang menghasilkan pengertianpengertian
dan pola-pola umum. Karena dalam sosiologi meneliti dan mencari apa yang
menjadi prinsip-prinsip atau hukum-hukum umum daripada interaksi antar manusia dan
juga perihal sifat hakikat, bentuk, isi dan struktur dari masyarakat. Sebagai ilmu
pengetahuan yang umum, dan bukan merupakan ilmu pengetahuan yang khusus, maka
dalam sosiologi mempelajari gejala umum yang ada pada interaksi manusia.
Sosiologi sebagai ilmu yang memfokuskan pada kajian pola-pola interaksi manusia,
dalam perkembangannya seringkali lebih banyak dihubungkan dengan kebangkitan
5
modernitas. Menurut Zygmunt Bauman (2000: 1023) keterkaitan tersebut didasarkan
beberapa alasan:
Pertama, mungkin satu-satunya denominator umum dari sejumlah besar mazhab
pemikiran dan strategi riset yang mengklaim mengandung sumber sosiologis adalah
fokusnya pada masyarakat. Fokus tersebut dapat mengambil salah satu dari dua bentuk.
Beberapa sosilog mengambil pembahasan mengenai struktur dan proses yang dapat
dianggap sebagai atribut “totalitas”. Sarjana lainnya lebih menitikberatkan perbedaan yang
dibuat untuk kondisi dan perilaku individu dan kelompok individu berdasarkan fakta bahwa
mereka ini membentuk bagian dari totalitas tersebut yang dinamakan “masyarakat”. Tetapi
masyarakat yang dipahami sebagai wadah supra-individu dan mendorong atau membatasi
tindakan individu yang dapat dilihat secara langsung, merupakan ciptaan zaman modern
yang berbeda dengan mayrakat masa lalu. Di dalam masyarakat modern, tindakan
cenderung mengambil bentuk mode perilaku yang terkondisikan dan karena itu ada
kemungkinan untuk diprediksi. Tetapi karena masyarakat adalah the rule of nobody, tanpa
alamat yang pasti, maka mekanisme-mekanisme yang mendasari pengkondisian ini menjadi
sulit untuk dibuktikan Mekanisme-mekanisme tersebut tidak terwakili dalam kesadaran
aktor yang perilakunya dibentuk oleh mekanisme itu sendiri. Untuk memahaminya maka
mekanisme tersebut harus ditemukan terlebih dahulu. Baru setelah statistika berkembang
dalam sosiologi, hal ini dimungkinkan untuk memisahkan masyarakat sebagai obyek studi
otonom, sebagai entitas yang berbeda dari individu, tindakan yang termotivasi, karena
statistik dapat memberikan represntasi tunggal dari tindakan massa (Bauman, 2000: 1025).
Kedua, fenomena modern lainnya yang khas adalah ketegangan konstan antar
manusia yang muncul dari latar belakang tradisional dan komunal, yang berubah menjadi
“individu: dan menjadi subyek tindakan otonom, serta “masyarakat” yang dialami sebagai
batasan sehari-hari terhadap tindakan dari keinginan individu. Paradoksnya adalah bahwa
individu modern tidak dapat sepenuhnya merasa nyaman dan betah tinggal dengan
masyarakat, sedangkan ia sebagai individu juga tidak dapat berada di luar masyarakat.
Akibatnya studi tentang masyarakat dan ketegangan antar kapasitasnya, baik itu untuk
menghalangi atau memberdayakan, telah didorong oleh dua kepentingan yang meskipun
berkaitan namun berbeda satu sama lain, dan pada prinsipnya bertentangan satu sama lain
dalam aplikasi praktis serta konsekuensinya. Di satu pihak ia ada kepentingan untuk
memanipulasi kondisi sosial sedemikian rupa guna mendapatkan perilaku yang lebih
seragam seperti yang dinginkan oleh pihak yang berkuasa. Persoalan utama di sini adalah
masalah “disiplin”, yaitu memaksa agar berperilaku dalam cara tertentu meskipun mereka
tidak sepakat, atau bahkan menolak terhadap pihak-pihak pemegang kendali. Di pihak lain,
ia ada kepentingan untuk memahami mekanaisme regulasi sosial sehingga secara ideal,
kapasitas pemberdayaan mereka dapat digunakan maupun ditolak dalam upaya
penyeragaman tersebut.
Ambivalensi yang melekat dalam kondisi manusia modern, kondisi ini bisa
membatasi atau memberdayakan secara simultan, direfleksikan dalam definisi diri sosiologi
sebagai studi ilmiah tentang masyarakat dan tentang aspek kehidupan manusia yang diambil
dari “kehidupan di dalam masyarakat”. Model teoretis dari masyarakat yang dibentuk oleh
sosiologi seringkali menghadirkan pandangan dari atas, seolah-olah sosiologi berada di
ruang kendali. Masyarakat dianggap sebagai obyek rekayasa sosial sedangkan “problem
sosial” digambarkan sebagai masalah administrasi belaka, yang mesti diselesaikan dengan
aturan hukum dan penyebaran kembali sumber-sumber daya. Di pihak lain, sosiologi mau
tak mau harus merespon ”kemarahan” karena penindasan yang terkandung di dalam
rekayasa sosial. Inilah mengapa di sepanjang sejarahnya sosiologi telah menimbulkan kritik
dari kedua belah pihak yang bertentangan dalam politik. Pemegang kekuasaan akan
menuduh sosiologi merelatifkan tatanan yang mereka janjikan akan ditingkatkan dan
dipertahankan, dan karena itu melemahkan kekuasaan mereka serta memicu kerusuhan dan
subversi. Sedangkan rakyat yang mempertahankan cara hidup mereka atau cita-cita mereka,
akan menuduh bahwa sosiologi bertindak sebagai penasihat dari lawan mereka. Intensitas
dari tuduhan-tuduhan tersebut tidak banyak merefleksikan pernyataan-pernyataan sosiologi
sebagai pernyataan konflik sosial di mana berdasarkan hakikat kerjanya sosiologi tidak
mungkin lepas dari masalah tersebut.
6
Dapat dipahami jika pertentangan semacam itu dapat menjatuhkan legitimasi
validitas pengetahuan sosiologi dan menolak otoritas ilmiahnya. Tuduhan semacam ini
membuat para sosiolog sangat sensitif mengenai status ilmiah mereka. Karena itulah mereka
mencoba memperbaharui usaha mereka, meskipun tidak pernah sempurna, untuk
meyakinkan baik itu opini akademik maupun publik, bahwa pengetahuan yang diberikan
oleh sosiolog lebih unggul daripada opini popular publik yang tanpa bantuan metode
pengetahuan ilmiah (Bauman, 2000: 1025).
Sosiologi merupakan disiplin ilmu yang memiliki cakupan luas dan banyak cabang
yang dipersatukan meskipun tidak terlalu kuat oleh strategi hermeneutika dan ambisi untuk
mengoreksi kepercayaan umum. Garis batas bidang tersebut mengikuti divisi fungsional
serta melembaga di dalam organisasi masyarakat yang menjawab tuntutan efektif dari
bidang manajemen yang telah mapan.
Jadi spesialisasi bentuk pengetahuan terakumulasi dengan fokus pada
penyimpangan dan kebijakan korektif atau hukuman, politik dan istitusi
politik, tentara dan perang, ras dan etnis, perkawinan dan keluarga,
pendidikan dan media kultural, teknologi informasi, agama dan institusi
agama, industri dan pekerjaan, kehidupan urban dan persoalanpersoalannya,
kesehatan dan kedokteran (Bauman, 2000: 1032).
Walaupun demikian tidak semua penelitian spesifik tersebut dapat dilakukan tanpa
ambiguitas yang dihubungkan tuntutan administratif. Ambiguitas yang selalu ada dalam
sosiologi yang dapat dilacak dari respons ambivalen para sosiolog terdahulu terhadap proyek
rasionalitas modernitas. Hal ini mengejawantahkan dirinya sendiri dalam kelangsungan
bidang studi yang tidak mengandung aplikasi administrasi langsung. Jelasnya perbedaan
antara stabilisasi dan destabilisasi, tujuan yang tampak maupun tersembunyi, melintasi
divisi tematik dan tak satupun dari bidang studi spesialisasi tersebut dapat terbebas dari
ambivalensi. Namun beberapa bidang pemikiran sosiologi tertentu membahas tentang
penolakan individu terhadap manipulasi manajerial dan usaha-usaha untuk mengendalikan
kehidupan mereka dengan lebih jelas daripada pemikiran lainnya. Bidang studi yang relevan
di antaranya adalah kesenjangan sosial (baik berdasarkan kelas, gender, maupun ras),
pembentukan identitas, interaksi dalam kehidupan sehari-hari, keintiman dan
depersonalisasi, dan lain-lain. Berlawanan dengan bidang studi yang berorientasi
manajemen, ada kecenderungan yang jelas ke arah percampuran, meminjam pandangan,
dan membongkar batas-batas antara bidang keahlian. Hal ini sesuai dengan tujuan strategis
keseluruhan dari pemulihan keutuhan kepribadian dan kehidupan, yang terpisah dan
terfragmentasi oleh pembagian yang dilembagakan (Bauman, 2000: 1032).
Secara tematis ruang lingkup, sosilogi dapat dibedakan menjadi beberapa subdisiplin
sosiologi, seperti: (1) soiologi pedesaan (rural sociology); (2) sosilogi industri
(industrial sociology); (3) sosiologi perkotaan (urban sociology); (4) sosiologi medis
(medical socilogy); (5) sosiologi perempaun (woman sociology); (6) sosiologi militer
(military socilogy); (7) sosiologi keluarga (family socilogy); (8) sosiologi pendidikan
(educational sociology); (9) sosilogi medis (medical sociology), (10) sosiologi seni (sociology
of art).
Pertama, Sosiologi Pedesaan (Rural Ssocilogy): Jurusan yang pertama kali
menghususkan Sosilogi Pedesaan muncul di Amerika Serikat tahun 19-30-an, kemudian
muncul beberapa Akademi Land Grant yang dibentuk dalam wilayah kewenangan
Departemen Pertanian Amerika Serikat untuk meneliti masalah pedesaan dan melatih ahli
sosiologi serta ekstensionis pedesaan untuk kerjasama lembaga-lembaga pemerintah beserta
organisasi petani (Hightower, 1973). Adapun kerangka yang paling sering digunakan untuk
mengenali berbagai temuan empiris adalah gagasan entang suatu ”kontinum pedesaanperkotaan”,
yang berusaha menjelaskan berbagai pendekatan pola sosial dan kultural
dengan mengacu kepada tempatmasyarakat tersebut disepanjang kontinum yang bergerak
dari tipe pemukiman yang paling kota (the most urban) hinga yang paling desa (the most
rural). Selanjutnya model penelitiannya terfokus pada masalah-masalah seperti penyebaran
inovasi teknologi, kesenjangan antara gaya hidup masyarakat kota dan desa, pola mobilitas
pendidikan dan pekerjaan, dampak program pembangunan masyarakat. Berbagai dimensi
7
tersebut dikaji dengan menggunakan metodologi yang berdasarkan kuesioner, teknik
wawancara formal, dan analisis kuantitatif (Long, 2000: 941).
Pada mulanya, terutama sejak tahun 1950-an dan 1960-an, terdapat begitu banyak
penelitian sosiologi pedesaan yang dilaksanakan menurut skema konseptual tersebut
demikian suksesnya sehingga diadaptasi oleh berbagai negara. Di Eropa masuk dalam
bentuk ”Mental Marshall Aid”, kemudian penelitian menyebar ke Amerika Latin dan Asia
(Hofstee, 1963). Bahkan pendiri berbagai asosiasi internasional yang menghususkan pada
sosilogi pedesaan, seperti International Rural Sociological Association(IRSA),
menyelenggarakan konres dunia setiap empat tahun skali, yang sangat berjasa dalam
membangkitkan antusiasme dan sumber daya institusional para anggotanya.
Namun sejak tahun 1960-an, terminologi ”kontinum pedesaan-perkotaan”
mengalami kemandekan teoretis. Beberapa kajian membuktikan bahwa kesenjangan pola
sosial dan kultural tersebut, tidak dengan sendirinya sama dengan lingkungan spasial atau
ekologi sebagaimana dikatakan Pahl dalam tulisannya The Rural-Urban Continum (1966).
Selain juga kajian ini gagal memecahkan persoalan kondisi struktur yang lebih luas, yang
mempengaruhi kecenderungan para petani merespons kesempatan-kesempatan baru; di
samping itu juga tidak ada analisis struktur dan isi jaringan sosial yang di antara petani dan
ekstensionis yang mungkin mempengaruhi pola adopsi (Rogers dan Shoemaker, 1971).
Akibat berbagai keterbatasannya tersebut, ditambah dengan diabaikannya karya
perbandingan mengenai bentuk berbagai produksi pertanian, dampak berbagai kebijakan
pemerintah terhadap pertanian, dan masalah ketidakserasian regional, merupakan disiplin
ilmu ini menjadi lamban perkembangannya (Long, 2000_941-942). Salah aspek aspek yang
paling mengganggu dalam sejarah sosiologi pedesaan ni adalah kegagalan ilmu ini
mengembangkan analsis sistematis tentang produksi pertanian, pada tingkat perusahaan
maupun struktur agraria (Newby, 1980). Sehingga nasib sosiologi pedesaan saatini
terperangkap dalam sejumlah kontroversi dan harapan. Sepanjang sejarahnya , sosiologi
pedesaan tidak pernah dapat secara efektif menyatakan statusnya sebagai disiplin ilmu
tersndiri yang memiliki obyek penyelidikan dan metode penjelasan yang khusus. Jika tradisi
awal mengasumsikan bahwa ada perbedaan menyolok antar lokasi pedesaan yang membuat
lokasi-lokasi itu mempunyai perbedaan dalam hal sosial dan budaya dibandingkan dengan
bentuk-bentuk kehidupan sosial perkotaan. Namun akhirnya makin banyak peneliti yang
berpandangan bahwa lokasi pedesaan hanya sekedar entitas empiris atau geografis tempat
seseorang bekerja. Keadaan desa tidak mensyaratkan teori atau implikasi metodologis
khusus untuk penelitian, tetapi sangat tergantung pada jenis masalah teoretis dan
metodologis yang dikandungnya, dan tidak semata-mata didasarkan pada kenyataan yang
sama-sama memiliki pengalaman pedesaan (Long, 2000: 942).
Kedua, Sosiologi Idustri: Kelahiran bidang ini mendapat inspirasi dari pemikiranpemikaran
Marx, Durkheim, dan Weber, walaupun secara formal siologi industri lahir pada
kurun waktu antara Perang Dunia-I dan II, serta secara matang tahun 1960-an dan awal
tahun 1970-an (Grint, 2000: 488). Dari pemikiran Marx setidaknya teori revolusi proletariat
dari tumbuhnya alienasi serta eksploitasi ekonomi, pengaruhnya sanga dirasakan pada
periode antara Perang Dunia I dan II, manakala terjadi lonjakan pengangguran dan krisis
ekonomi dunia, walaupun realitanya pengaruh ini kurang dominan. Kemudian gagasan
Durkheim yang ditulis dalam buku Division of Labour (1933), memberikan kontribusi yang
berarti dalam sosiologi industri terutama dengan konsep dan teorinya tentang norma dan
bentuk solidaritas soaial organik dan mekanik-nya. Sedangkan dari pemikiran Weber,
merupakan jantung dalam pembentukan sosilogi industri Dengan menentang penjelasan
materialis Marx mengenai kemunculan kapitalisme, Weber (1948) berpandangan bahwa
gagasan-gagasan juga memainkan peran penting, khususnya yang berkaitan dengan etka
kerja Protestan. Namun, yang paling banyak dibicarakan analisis Weber tersebut adalah
tentang birokrasi, dan signifikansi dari dominannya bentuk-bentuk otoritas ”legal-formal”,
yakni otoritas yang legitimasinya berakar pada aturan-atauran dan prosedur formal (Grint,
2000: 488).
Dalam perkembangannya, sosiologi industri sejak tahun 1980-an terdapat empat
tema baru yang muncul dan dalam riset-riset sosiologi industri. Pertama, sosiologi industri
yang hanya menekankan gaya tradisional yang patriarkhal, memberikan peluang munculnya
8
lini baru yakni feminisme dalam riset. Dalam pendekatan ini, bahwa ’kerja’ bisa direduksi
menjadi pekerjaan orang-orang krah biru di pabrik-pabrik diperlawankan, dan
dikontraskan, dengan kerja domestik yang idak bergaji dan meningkatnya jumlah wanita
part-timer yang mengerjakan pekerjaan klerikal dan jasa. Lebih jauh, gagasan-gagasan
bahwa teknologi bersifat netral dan determnistik, dipelihatkan sebagai unsur penting dalam
mempertahankan kesinambungan patriarkhal (Cocburn, 1983; Wajcman, 1991). Kedua,
runtuhnya komunisme di Eropa Timur, adanya globalisasi industri, pergeseran dari
Fordisme (keadaan ekonomi sesuasai perang) menuju post-Fordisme, perkembanganperkembangan
teknologi pengawasan dan bangkitnya individualisme tanpa ikatan tahun
1980-an, mengantarkan bangkitnya minat pada peran norma dan dominasi diri yang
seringkali dikaitkan dengan gagasan-gagasan Foucault dan tokoh pasca modernis lainnya
(Red dan Hughes, 1992). Ketiga, perkembanagan teknologi informasi dan aplikasiaplikasinya
di bidang manufaktur serta perdagangan, telah mendorong bangkitnya kembali
minat untuk menerapkan gagasan-gagasan konstruktivis sosial dari sosiologi ilmu
pengetahuan serta teknologi ke sosiologi kerja dan industri (Grint,dan Woolgar, 1994).
Keempat, asumsi bahwa pekerjaan dan produksi merupakan kunci identitas sosial tentang
argumen-argumen bahwa pola-pola konsumsi merupakan sumber identitas individual (Hall,
1992).
Ketiga, Sosiologi Medis: ’Sosiologi Medis’ merupakan bagian dari sosiologi yang
kajiannya memfokuskan pada pelestarian ilmu kedokteran khususnya pada masyarakat
modern (Amstrong, 2000: 643). Bidang ini berkembang pesat pada sejak tahun 1950-an
sampai sekarang. Setidak-tidaknya ada dua alasan yang mendorong pesatnya perkembangan
bidang ini; pertama, berhubungan dengan asumsi-asumsi dan kesadaran bahwa problem
yang terkandung dalam perawatan kesehatan masyarakat modern adalah sebagai bagian
integral masalah-masalah sosial. Kedua, meningkatnya minat terhadap pengobatan dalam
aspek-aspek sosial dari kondisi sakit (illness), terutama berkaitan dengan psikiatri
(berhubungan dengan penyakit jiwa), pediatri (kesehatan anak), praktek umum
(pengobatan keluarga) geriatrik (perawatan usia lanjut) dan pengobatan komunitas
(Amstrong, 2000: 643-644).
Beberapa tulisan yang menghiasi kelahiran sosiologi medis tahun 1950-an, adalah
Journal of Health and Human Behavior, yang kemudian diubah pada tahun 1960-an
menjadi Journal or Health and Social Behavior. Pada awal kelahirannya yang dominan
adalah perspektif medis, psikologi, dan psikologi sosial. Dalam perspektif medis, terutama
pada epidemiologi sosial, sebagai contoh, yang berusaha mengidentifikasi peran dari faktorfaktor
soaial terhadap berjangkitnya penyakit menular, yang dilakukan oleh para ahli medis
dan sosiologi. Hasil kajian awal menunjukkan bahwa terdapat pengaruh dari struktur sosial
(kelas sosial) terhadap aetiologi dari penyakit psikiatris maupun organis (Amstrong, 2000:
644).
Kemudian Freidson menulis buku Profesion of Medicine (1970) yang berisikan
tawaran suatu sintesis dari berbagai kajian awal mengenai profesi, pengklasifikasian,
organisasi medis, persepsi pasien dan sebagainya. Khasanah baru ini merupakan teks
penting dalam menetapkan identitas formal sosiologi medis ke arah baru. Sebab, pada
dasarnya baik kondisi sakit (illnes) maupun penyakit (disease) merupakan konstruksi realita
sosial, refleksi dari organisasi sosial, kepentingan profesional, hubungan kekuasaan, dan
sebagainya. Dalam hal ini prestasi Friedson (1970) adalah membebaskan sosiologi medis
dari batasan-batasan yang berdarkan kategori medis, serta mengungkapkan pengalaman
pasien dan pengetahuan medis hingga analisis yang lebih mendalam dan sistematis.
Dalam perkembangan selanjutnya, khususnya tahun 1990-an, minat terhadap studi
detail kehidupan sosial juga dilibatkan yang meneliti ekspresi dalam pengalaman sakit
pasien. Pandangan pasien mengenai kondisi sakit ditelaah sebatas sebagai bahan tambahan
dari perilaku sakit berdasrkan posisi pasien itu sendiri. Konsekuensi logis penerimaan
pendapat tersebut sama bermanfaatnya dengan bidang medis, adalah munculnya kesadaran
bahwa pengetahuan medis tersebut bisa menjadi obyek penting dalam sosiologi. Ini berarti
pengetahuan medis bisa dieksplorasi tidak hanya sebagai suatu bentuk kebenaran
pengetahuan tertinggi, tetapi sebagai suatu sarana menuju masyarakat yang bisa
dikendalikan, dialienasi, atau didepolitisasi dalam penyelenggaraan kehidupan mereka. Di
9
mana pengetahuan dan praktik medis memainkan peran penting dalam menciptakan tubuh
yang bisa dianalisis dan dikalkukasi masyarakat modern. Namun demikian, tidak berarti
sosiologi medis terbebaskan dari ilmu kedokteran, sebab terdapat begitu banyak ikatan dan
aliansi untuk hal tersebut. Sekarang ini banyak para ahli sosiologi medis dipekerjakan oleh
institusi-institusi medis atau pada tugas-tugas mengandung unsur medis bahkan upaya
memperbaiki (ameliorate) pasien yang menderita (Amstrong, 2000: 646).
Keempat, Sosiologi Perkotaan: Sosiologi perkotaan adalah studi sosiologi yang
mernggunakan berbagai statistik di antara populasi dalam kota-kota besar. Kajiannya
terutama di pusatkan pada studi wilayah perkotaan di mana zone industri, perdagangan dan
tempat tinggal terpusat. Praktek ini menerangkan pengaruh penggunaan tata ruang dan
lingkungan kota besar dalam beberapa lokasi atau area kemiskinan sebagai jawaban atas
beberapa kultur, etnis, dan bahasa yang berbeda, suatu mutu hidup yang rendah, beberapa
kelompok kesukuan berbeda dan suatu standard perwalian menjaga rendah bahwa semua
jumlah ke disorganisasi sosial.
Sosiologi perkotaan Baru dimulai di Eropa pada awal 1970s dan kemudian menyebar
kepada Amerika Serikat. Hal itu juga mempengaruhi studi masyarakat kota di Jepang.
Artikel ini menguji perubahan debat yang sudah terjadi Sosiologi Urban /Perkotaan
berkenaan selama pengenalannya ke Jepang dalam akhir tahun 1970-an. Selama duapuluh
tahun sejak pengenalannya dari Barat dapat dibagi menjadi tiga tahapan. Tahapan yang
pertama periode dari 1977 sampai 1985, ketika sosiologi urban Perancis, terutama sekali
teori Manuael Castell pernyataannya sangat berpengaruh. Tahapan yang kedua, dari 1986
sampai 1992, memusatkan pada teori pergerakan sosial dan konsep global dalam kota besar
dalam suatu konteks pembaruan kota-kota di Jepang utamanya. Tahapan yang ketiga, dari
1992 sapai sekarang, ditandai oleh suatu perubahan bentuk Sosiologi Perkotaan dalam suatu
teori ruang kemasyarakatan di bawah globalisasi yang telah dengan berat mempengaruhi
dengan pekerjaan David Harvey (Kazutaka Hashimoto, 2002). Beberapa tema yang relevan
dalam kajian sosiologi urban tersebut, di antaranya populasi, geopolitik, ekonomi dll.
Mazhab Chicago adalah suatu mazhab yang berpengaruh besar dalam studi sosiologi
perkotaan ini. Di samping setelah mempelajari kota-kota besar pada awal abad 20, Mazhab
Chicago masih memiliki peranan penting. Banyak dari penemuan mereka telah berharga
maupun yang ditolak, tetapi pengaruh kekal Mazhab Chicago tetap dapat ditemukan dalam
pengajaran masa kini.
Deskripsi Sosilogi Perkotaan Baru: Perwakilan suatu kontribusi utama kepada
bidang, Tanda pengarang Mark Gottdiener dan Ray Hutchison (2006) menyajikan teks
terobosan mereka di (dalam) suatu edisi baru ketiga, sekarang dengan sepenuhnya meninjau
kembali dan mengefektifkan untuk menyediakan para siswa dengan suatu yang
mengandaskan padat pada topik itu. Buku diorganisir di sekitar suatu terintegrasi
paradigma--the sociospatial perspective--which mempertimbangkan peran itu yang
dimainkan oleh faktor sosial seperti ras, kelas, jenis kelamin, gaya hidup, ekonomi, kultur,
dan politik pada pengembangan area metropolitan. Studi kasus baru seluruh teks
menghadirkan pekerjaan yang paling terbaru di dalam bidang, seperti halnya terminologi
kunci dan diskusi mempertanyakan pada ujung bab masing-masing. tambahan Baharui
meliputi diskusi globalism, suburbanisasi, daerah yang multi-centered sebagai format
berkenaan dengan kota yang baru, urbanism yang baru, dan perspektif kritis pada
perencanaan dan kebijakan.
Di AS dan UK, "penduduk kota" adalah sering digunakan sebagai suatu eufemisme
untuk menguraikan loncatan kultur modern atau subsets (kumpulan bagian) kultur hitam;
yang menjadi penggambaran kelompok sebagai tipe suku bangsa penduduk kota. Hal itu
dapat juga mengacu pada semakin besar ketersediaan tentang sumber daya budaya (seperti
seni, teater, peristiwa, dll) dibandingkan dengan area pedesaan atau di pinggiran kota.
Di dalam sosiologi dan, kemudian, ilmu kriminologi, Mazhab Chicago (kadangkadang
dilukiskan sebagai mazhab ekologis) mengacu pada hal yang pertama muncul
sepanjang 1920-an dan 1930-an spesialisasi sosiologi perkotaan, dan riset ke dalam
lingkungan perkotaan oleh teori kombinasi lingkungan dan bidang pekerjaan etnografi di
Chicago, sekarang diterapkan di tempat lain. Sementara itu menyertakan sarjana pada
beberapa Chicago Universitas Area, istilah adalah sering digunakan dengan dapat
10
dipertukarkan untuk mengacu pada Universitas Sosiologi Chicago's Department-One yang
paling tua dan salah satu dari yang paling bergengsi. Setelah Perang Dunia II, "Ke dua
Mazhab Chicago" bangkit yang anggotanya menggunakan interaksionisme simbolis
mengkombinasikan dengan metoda riset lapangan, untuk menciptakan suatu badan
pekerjaan baru. Karena suatu sejarah yang menyeluruh Mazhab Chicago, lihat Martin
Bulmer (1984) dan Lester Kurtz (1984).
Peneliti yang utama di mazhab ini mencakup Ernest Burgess, Ruth Shonle Cavan,
Edward Franklin Frazier, Everett Hughes, Roderick D. Mckenzie, George Herbert Mead,
Robert E. Park, Walter C. Reckless, Edwin Sutherland, W. I. Thomas, Robert E. Park, Walter
C. Reckless, Edwin Sutherland, W. I. Thomas, Frederic Thrasher, Louis Wirth, Znaniecki
Florian (Wikipedia, 2002).
Kelima, Sosiologi Wanita: Lahir dan berkembangnya sosiologi wanita secara
perintisannya sejalan dengan perkembangan gerakan feminisme yang dipelopori oleh Mary
Wollstonecraft dalam bukunya A Vindication of The Right of Women (1779), kendati akarakar
historisnya dapat dilacak sejak lahirnya sosiologi sebagai disiplin akademik. Sosiologi
wanita merupakan suatu perspektif menyeluruh tentang keanekaragaman pengalaman yang
terstruktur bagi kaum wanita. Dengan mendefinisikan sosiologi wanita dalam arti pola-pola
ketidakadilan yang terstruktur, khususnya kerangka stratifikasi jender. Di samping itu
secara ekplisit adanya pengintegrasian penelitian yang progresif mengenai peran jender dari
disiplin sosiologi. Bidang kajian ini bergerak kearah suatu penilaian sistematis tentang
seluruh wanita, termasuk wanita kulit berwarna, wanita kelas pekerja, wanita lanjut usia,
dan sebagainya. Singkatnya yang dilakukan oleh kaum wanita, ialah mengembangkan suatu
sosiologi oleh, dan untuk wanita (Ollenburger dan Moore, 1996: v).
Dilihat dari perspektif pendorong teori sosiologi wanita tersebut, terdiri atas tiga
kelompok kontributor pemikiran sosiologi utama yang terpilih. Pertama, kelompok teoretisi
positivis/fungsionalis, yang menegaskan bahwa tatanan “alamiah” dominasi laki-laki sebagai
suatu perbedaan terhadap argumen-argumen mengenai “hak-hak” kaum wanita. August
Comte percaya bahwa wanita “secara konstitusional” bersifat inferior terhadap laki-laki,
karena kedewasaan mereka berakhir pada masa kanak-kanak. Oleh karena itu Comte
percaya bahwa wanita menjadi subordinat laki-laki manakala ia menikah. Kedua, kelompok
para teoretisi konflik, yang melukiskan sistem-sistem penindasan yang secara sistematis
membatasi kaum wanita. Karl Marx melihat masyarakat secara konstan berubah
komposisinya; kekuatan-kekuatan antitesis menyebabakan perubahan sosial melalui
ketegangan-ketegangan dan perjuangan antarkelas yang bertentangan. Karena itu kemajuan
sosial, diisi oleh perjuangan dan upaya keras yang membuat konflik ssosial menjadi inti dari
proses sejarah. Di sinilah Marx menulis mengenai eksploitasi tenaga kerja yang
menimbulkan alienasi dan pembentukan kelas yang saling berlawanan. Dalam Tulisan Marx
dan Engels (1970) mereka menulis tentang wanita, sebagai alat produksi sebagai berikut:
Tetapi komunis anda akan memasukkan komunitas wanita, mengutuk
semua borjuis secara serempak. Seseorang borjuis melihat istrinya sebagai
alat produksi belaka. Ia mendengar bahwa alat-alat produksi biasanya
dieksploitasi; dan tentu saja tidak ada kesimpulan lain, apa yang biasa
terjadi pada kebanyakan alat produksi, menimpa pula pada kaum wanita. Ia
tidak perbah menyangsikan bahwa tujuan sesungguhnya adalah
menjauhkan status wanita sebagai alat produksi belaka.
Kelompok ketiga, adalah kelompok alternatif, yakni kelompok aktivis “karya sosoal
dan interaksionis”. Kelompok ini dipimpin oleh Jane Addams yang bermukim di pemukiman
kumuh Chicago West Side dari tahun 1800-an dan awal 1900-an (Addams, 1910). Yang
membuka Hull House pada tahun 1889, mendahulukan pembukaan Universitas Chicago
tahun 1892. Model pemukiman tersebut menurut Deegan dalam (1988: 6) adalah
egalitarian, dominasi kewanitaan, dan pragmatis. Jaringan kerja kerja para aktivis sosial dan
akademikus yang sering mengunjungi Hull House, termasuk John Dewey dan George
Herbert Mead, banyak memberikan kontribusi pada perkembangan pragmatisme Chicago
yang menggabungkan ilmu pengetahauan obyektif pengamatan dengan isu-isu etik dan
moral untuk menghasilkan suatu masyarakat adil dan bebas” (Deegan,1988: 6)
11
Keenam, Sosiologi Militer: Bidang kajian ini menyoroti angkatan bersenjata
sebagai suatu organisasi bertipe khusus dengan fungsi-fungsi sosial spesifik (Bredow, 2000:
664). Fungsi-fungsi tersebut bertolak dari sutu tujuan organisasi keamanan dan saranasaranya,
kekuatan, serta kekerasan. Sebetulnya masalah-masalah seperti itu sudah lama
didiskusikan oleh para sosiolog seperti Comte maupun Spencer. Akan tetapi secara formal
studi-studi sosiologi militer tersebut baru dimulai selama Perang Dunia II. Kajian yang
paling awal dilakukan Reseaarch Branch of Information and Education of the Armed Forces
antara tahun 1942-1945, yang kemudian dipublikasikan (Stouffer, 1949). Sosiologi militer
tersebut terus berkembang pesat khususnya di Amerika Serikat, yang menurut Bredow
(2000: 665), terdapat lima bidang utama kajian sosiologi militer.
Pertama; problem-problem organisasi internal, yang menganalisis proses-proses
dalam kelompok kecil dan ritual militer dengan tujuan untuk mengidentifikasi problemproblem
disiplin dan motivasi serta menguraikan cara-cara subkultur militer dibentuk.
Kedua; problem-problem organisasional internal dalam pertempuran; di mana dalam hal ini
dianalisis termasuk seleksi para petinggi militer, kepangkatan, dan evaluasi motivasi
pertempuran. Ketiga; angkatan bersenjata dan masyarakat, yang mengkaji tentang citra
profesi yang berkaitan dengan dampak perubahan sosial dan teknologi, profil rekrutmen
angkatan bersenjata, problem-problem pelatihan dan pendidikan tentara, serta peran wanita
dalam angkatan bersenjata. Keempat; militer dan politik: Dalam hal ini dianalisis ada suatu
perbandingan bahwa pada demokrasi Barat riset militer, terfokus pada kontrol politik
terhadap jaringan militer, kepentingan-kepentingan ekonomi dan administrasi lainnya.
Namun bagi negara-negara berkembang, memfokuskan berbagai sebab dan konsekuensi
dari kudeta militer yang diperankannya dengan membawa atribut-atribut pembangunan dan
“Praetorisme” (bentuk yang biasanya diterapkan oleh militerisme negara berkembang).
Terakhir; angkatan bersebjata dalam sistem internasional. Dalam hal ini dianalsisis tentang
aspek-aspek keamanan nasional dan internasional disertai peralatan/perlengkapan dan
pengendaliannya, serta berbagai operasi pemeliharaan perdamaian internasional.
Berikutnya bidang yang ketujuh Sosiologi Agama. Sosiologi agama terutama semata
studi praktek, struktur sosial, latar belakang historis, pengembangan, tema universal, dan
peran agama di (dalam) masyarakat. Ada penekanan tertentu atas timbulnya peran agama
dalam hampir semua masyarakat di atas bumi saat ini dan sepanjang/seluruh sejarah yang
direkam. Sarjana sosiologi agama mencoba untuk menjelaskan efek masyarakat itu pada
pada agama dan efek agama terhadap masyarakat; dengan kata lain, hubungan yang bersifat
dialektis antar merekaagama ini terutama tertuju pada studi praktis, struktur sosial, latar
belakang historis, perkembangan, tema universal, dan peran agama dalam masyarakat. Ada
penekanan tertentu pada terulang peran agama dalam hampir semua masyarakat di atas
bumi saat ini dan sepanjang;seluruh sejarah direkam. Sarjana sosiologi agama mencoba
untuk menjelaskan efek masyarakat itu pada pada agama dan efek agama terhadap
masyarakat; dengan kata lain, hubungan yang bersifat dialektis antar mereka (Wikipedia,
2002).
Kedelapan, Sosiologi Pendidikan (Sociology of Education): Merupakan bidang
kajian sosiologi is associated with the concept, educational sociology. For that reason any
discussion of a sosiology of education which this paper proposes to define must take into
consideration the development of educational sociology. At the turn of the present century,
there was considerable enthusiasm for the development of new discipline or at least a
branc of sociology to be known as educational sociology. By 1914, as many as sixteen
institutions were offering courses called educational sociology. In the following period
numerous books carrying some type of educational sociology title came off the press. These
involved various concepts of the relationship between sociology and education. (Sosiologi
dihubungkan dengan konsep, sosiologi bidang pendidikan. Karena itu memberi alasan
manapun diskusi suatu sosiology pendidikan ini yang mengusulkan untuk menggambarkan
harus mempertimbangkan dengan seksama pengembangan tentang sosiologi bidang
pendidikan. Di putaran abad saat ini, ada gairah pantas dipertimbangkan untuk
pengembangan disiplin baru atau sedikitnya suatu branc sosiologi untuk dikenal sebagai
sosiologi bidang pendidikan. Dengan 1914, sebanyak enambelas institusi sedang
menawarkan kursus sosiologi bidang pendidikan. Pada periode yang berikut banyak buku
12
yang membawa beberapa sebutan/judul sosiologi bidang pendidikan terlepas dari dari
tekanan itu. Ini melibatkan berbagai konsep hubungan antara sosiologi dan pendidikan)
Kesembilan Sosilogi Seni: Istilah “sosiologi seni” (sociology of art) digunakan dari
sosiologi seni-seni (sociology of arts) atau sosiologi seni dan literatur (sociology of art and
literature). Sedangkan sosiologi seni-seni visual relatif jarang dikembangkan daripada
sosiologi literatur, drama, maupun film. Implikasinya sifat generik dari bidang kajian ini
mau tidak mau menimbulkan kesulitan-kesulitan dalam analisisnya, karena tidak selalu
terdapat hubungan linier antara musik dan novel dengan konteks atau politiknya (Wolff,
2000: 41). Namun demikian sosiologi seni, dapat dikatakan sebagai wilayah kajian yang cair,
karena di dalamnya tidak ada suatu model analasis atau teori yang dominan.
Beberapa pendekatan yang banyak digunakan di Eropa dan Amerika memang ada
perbedaaan. Sebagai contoh, di Inggeris dan Eropa lainnya, pendekatan Marxis dan non-
Marxis masih ada pengaruhnya hingga tahun 1970-an. Sebaliknya sosiologi seni di Amerika
Serikat yang sering kali dinamakan sebagai pendekatan produksi-budaya (production-ofculture)
maupun mainstream analisis sosiologi, memusatkan diri perhatiannya pada
institusi dan organisasi produksi-budaya (Kamerman dan Martorella, 1983; Becker, 1982).
Dalam tradisi Marxis para ahli seni bergerak dari metafora-metafora sederhana yakni basisbasis
dan suprastruktur yang mengandung bahaya sikap reduksionis ekonomi terhadap
budaya, dan beranjak melihat literatur-literatur serta seni semata-mata sebagai
“pencerminan” faktor-faktor klas atau ekonomi. Karena itu karya-karya pengarang Gramsci,
Adorno, dan Althusser menjadi penting dalam penyempurnaan model yang bertumpu pada
level-level kelompok sosial antara kesadaran individual dan pengalaman spesifik tekstual
(Wolff, 2000: 41-42)
Hal ini berbeda dengan pendekatan sosiologi seni ‘produksi-budaya’ yang sering
mendapat kritik karena dianggap mengabaikan produk budaya itu sendiri. Pendekatan
‘produksi-budaya’ (production-of-culture) memfokuskan pada masalah hubunganhubungan
sosial di mana karya seni itu diproduksi. Para ahli sosiologi seni melihat peranan
para “penjaga gawang” seperti; para penerbit, kritikus, pemilik galeri dalam memperantarai
seniman dan masyarakat, hubungan-hubungan sosial dan proses pengambilan keputusan di
suatu lembaga akademi seni maupun perusahaan opera, serta mengenai hubungan antara
produk-produk budaya tertentu seperti fotografi di mana karya itu dibuat (Rosenblum, 1978;
Alder, 1979). Kebanyakan yang menjadi fokus kajiannya di kebanyakan negara kecuali di
Inggeris (studi literatur), yakni pada seni-seni pertunjukkan yang menyajikan kompleksitas
interaksi sosial yang dianalisis.
B. Pendekatan, Metode, Teknik, Ilmu Bantu, dan Jenis Penelitian.
1. Pendekatan
Walaupun sosiologi diawal kelahirannya pada abad ke-19 sangat dipengaruhi oleh
pemikiran-pemikiran yang bersifat positivistik khususnya bagi pendirinya Auguste Comte,
namun dalam pendekatannya sosiologi tidaklah absolut bersifat kuantitatif, melainkan juga
dapat menggunakan pendekatan kualitatif (Soekanto, 1986: 36).
Dalam pendekatan kuantitatif, sosiologi mengutamakan bahan, keteranganketerangan
dengan angka-angka, sehingga gejala-gejala yang ditelitinya dapat diukur dengan
mempergunakan skala-skala, indeks, tabel-tabel dan formula-formula yang menggunakan
statitistik. Sebagai the science of the obvious, sosiologi bertujuan menelaah gejala-gejala
sosial secara matematis, baik itu melalui teknik sosiometrii, yang berusaha untuk meneliti
masyarakat secara kuantitatif dengan menggunakan skala-skala dan angka-angka untuk
mempelajari hubungan antar individu-individu dan masyarakat. Sedangkan dalam
pendekatan kualitatif, sosiologi selalu dikaitkan dengan epistemologi interpretatif dengan
penekanan pada makna-makna yang tekandung di dalamnya atau yang ada di balik
kenyataan-kenyataan yang teramati.
2. Metode
Para ahli sosiologi dalam penelitiannya banyak menggunakan beberapa metode
penelitian, diantaranya:
13
Pertama adalah Metode Deskriptif: Metode ini sering disebut bagian metode empiris
yang menekankan pada kajian masa kini. Secara singkat metode deskriptif ini adalah suatu
metode yang berupaya untuk mengungkap pengejaran/pelacakan pengetahuan. Metode ini
dirancang untuk menemukan apa yang sedang terjadi tentang siapa, di mana, dan kapan.
Penelitian ini berdasar pada kehati-hatian dalam mengumpulkan suatu data/fakta untuk
menggambarkan beberapa hal yang diuraikan, seperti penggolongan, praktek, maupun
peristiwa-peristiwa yang tercakup di dalamnya (Popenoe, 1983: 28). Statistik kejahatan,
survei pendapat umum, tentang angka kejahatan, tanggapan pendengar dan penonton radio
dan televisi, laporan atas kebisaaan dan kejahatan seksual, semuanya ini adalah contohcontoh
tentang studi deskriptif tersebut. Dengan demikian dalam metode ini juga termasuk
metode survey dengan pelibatan jumlah sampel yang begitu banyak untuk mengungkap dan
mengukur sikap sosial maupun politik seperti yang dirintis George Gallup dalam The
Literary Digest (1936). Dalam meode ini pengumpulan data dilakukan dengan
menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang disusun melalui angket (kuesioner) terhadap
responden untuk mengukur pendapat / tanggapan publik sesuatu yang diteliti (Bailey, 1982:
110; Spencer dan Inkeles, 1982: 32) .
Kedua; adalah metode eksplanatori: Metode ini juga merupakan bagian metode
empiris. Popenoe (1983: 28) mengemukakan bahwa kalau saja dalam studi deskriptif lebih
banyak bertanya tentang apa, siapa, kapan, dan di mana, maka dalam studi eksplanatori
lebih banyak menjawab mengapa dan bagaimana. Oleh karena itu metode ini bersifat
menjelaskan atas jawaban dari pertanyaan "mengapa" dan "bagaimana" itu. Sebagai contoh;
mengapa tingkat perceraian di beberapa kota naik secara tajam? Mengapa masyarakat
merasakan bahwa hidup di kota besar itu tingkat kompetisinya lebih tinggi dibanding dengan
di pinggir kota? Mengapa di kota-kota tersebut mempunyai tingkat kenakalan remaja yang
tinggi pula, terutama di era pasca gerakan Reformasi ini ? Bagaimana proses itu terjadi
banyak perubahan, semula merupakan anak-anak yang baik kemudian menjadi deviant ?
Ketiga, metode historis-komparatif: Metode ini menekankan pada analisis atas
peristiwa-peristiwa masa silam untuk merumuskan prinsip-prinsip umum, yang kemudian
digabungkan dengan metodekomparatif, dengan menitik beratkan pada perbandingan antara
berbagai masyarakat beserta bidang-bidangnya untuk memperoleh perbedaan-perbedaan
dan persamaan-persamaan, serta sebab-sebabnya. Dari perbedaan dan persamaanpersamaan
tersebut dapat dicari petunjuk-petunjuk perilaku kehidupan masyarakat pada
masa silam dan sekarang, beserta perbedaan tingkat peradaban satu sama sama lainnya.
Keempat, adalah metode fungsionalisme: Metode ini bertujuan untuk meneliti
kegunaan-kegunan lembaga-lembaga kemasyarakatan dan struktur sosial dalam masyarakat.
Metode tersebut berpendirian pokok bahwa unsur-unsur yang membentuk masyarakat
mempunyai hubungan timbal-balik yang saling pengaruh-mempengaruhi, masing-masing
mempunyai fungsi tersendiri terhadap masyarakat (Soekanto, 1986: 38).
Kelima, metode studi kasus: Metode studi kasus merupakan suatu penyelidikan
mendalam dari suatu individu, kelompok, atau institusi untuk menentukan variabel itu, dan
hubungannya di antara variabel, mempengaruhi status atau perilaku yang saat itu menjadi
pokok kajian (Fraenkel dan Wallen, 1993: 548). Dengan demikan dalam penggunaan metode
kasus tersebut peneliti harus mampu mengungkap keunikan-keunikan individu, kelompok
maupun institusi yang ditelitinya, terutama dalam menelaah hubungannya diantara variabelvariabel
yang mempengaruhi status atu perilaku yang dikajinya.
Keenam, metode survey: Penelitian survei adalah salah satu bentuk dari penelitian
yang umum dalam ilmu-ilmu sosial. Suatu usaha untuk memperoleh data dari anggota
populasi yang relatif besar untuk menentukan keadaan, karakteristik, pendapat, populasi
yang sekarang yang berkenaan dengan satu variabel atau lebih. (Fraenkel dan Wallen, 1993:
557).
3 Teknik Pengumpulan Data
Beberapa teknik pengumpulan data yang banyak digunakan dalam kajian sosiologi, di
antaranya adalah sosiometri, wawancara, observasi, dan observasi partisipan. Untuk
mempermudah pemahaman beberapa teknik yang sering digunakan dalam kajian sosiologi
tersebut, di bawah ini dikemukakan penjelannya:
14
Sosioometri: Dalam sosiometri berusaha meneliti masyarakat secara kuantitatif
dengan menggunakan skala-skala dan angka-angka untuk mempelajari hubungan antar
manusia dalam suatu masyarakat. Bidang ini merupakan bidang keahlian psikologi yang
mempelajari, mengukur, dan membuat diagram hubungan sosial yang ada pada kelompok
kecil (Horton dan Hunt, 1991: 235).
Sebagai contoh para siswa diberi pertanyaan, misalnya; siapa yang yang mereka
anggap sebagai teman yang paling disukai jika jadi pemimpin. Sebagai tanda simpatik
seseorang terhadap orang lain dalam sosiometrik ini dilambangkan dengan garis lurus yang
disertai anak panah. Sedangkan sebagai tanda siswa yang dibenci dengan simbol garis putusputus
yang disertai anak panah. Dengan demikian akan nampak bahwa siswa A merupakan
siswa yang disenagi rekan-rekannya, sedangkan siswa B merupakan siswa yang paling
dibenci di kelompok/kelas itu. Lihat Gambar 2-1 di bawah ini
Gambar 2-1
Sebuah sosiomertik di sebuah kelompok/kelas. Garis hitam lurus yang disertai anak panah
menggambarkan tanda simpatik, sedangkan garis lurus putus-putus disertai anak panah
menggambarkan kebencian
Wawancara; atau (interview) adalah situasi peran antar pribadi bertemu muka (face
to-face), ketika seseorang, yakni pewawancara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang
dirancang untuk memperoleh jawaban yang relevan dengan masalah penelitian, kepada
seseorang yang diwawancarai atau responden (Supardan, 2004: 159). Wawancara ini bisa
digunakan untuk penelitian kuantitatif maupun kualitatif. Selain itu juga jenis wawancara ini
bisa the general interview (wawancara umum) yang sifat pertanyaannya umum dan terbuka,
dan bisa juga jenis wawancara berstruktur atau terarah dengan mengajukan pertanyaanpertanyaan
sudah sedemikian rupa terarah sebelumnya secara cermat.
Observasi: Observasi merupakan dasar dari semua ilmu pengetahuan, sebab para
ilmuwan baru dapat bekerja hanya jika ada data maupun fakta yang diperoleh melalui
observasi (Nasution, 1996: 56). Secara singkat pengertian observasi adalah pengamatan yang
diperoleh secara langsung dan teratur untuk memperoleh data penelitian.
Observasi partisipan : Adalah bentuk pengamatan yang menyeluruh dari semua jenis
metode/stategi (Patton, 1980). Dalam hal ini peneliti turut serta dalam berbagai peristiwa
dan kegiatan sesuai dengan yang dilakukan oleh subek penelitian, misalnya turut dalam
upacara, turut bekerja di sawah, turut berbaris menunggu bis atau giliran, menjadi pelayan
restoran, kuli, dan sebagainya. Hal ini dimaksudkan agar ia merasakan dan mengalami
situasi-situasi tertentu agar dirasakan secara pribadi.
4. Ilmu Bantu
A
F
E
C
B
D
15
Dalam kajian sosiologi, memerlukan banyak ilmu bantu yang dapat menopang
kelancaran dan kedalam kajian sosiologi tersebut. Beberaoa ilmu Bantu yang sering
digunakan dalam sosiologi seperti; statistik, psikologi, ethnologi, arkheologi, dan
antropologi, di samping ilmu-ilmu sosial lainnya seperti sejarah, gegrafi, politik, hukum,
maupun geografi.
a. Statistik: Statistik sangat diperlukan dalam sosiologi terutama dalam penghitunganpenghitungan
yang menyangkut pendekatan kuantitatif agar hasil-hasil penelitiannya
lebih valid, akurat, dan terukur.
b. Psikologi: Psikologi juga sangat diperlukan dalam kajian sosiologi, karena dalam psikologi
dapat diperoleh keterangan baik latar belakang seseorang berperilaku maupun prosesproses
mental yang diperlukan keterangan-keterangannya.
c. Ethnologi: Adalah ilmu tentang adat-istiadat sesuatu bangsa. Ilmu tersebut sangat
diperlukan dalam sosiologi karena menyangkut tradisi-tradisi yang berkembang pada
bangsa tersebut. Oleh karena itu pula ethnologi sering juga disebut juga sosial antropologi
(Shadily, 1986: 20).
d. Arkheologi: Adalah ilmu tentang peninggalan-peninggalan ataupun kebudayaan klasik
dari suatu bangsa yang telah silam. Peninggalan–peninggalan kebudayaan klasik itu
adalah penting karena kebudayaan tua sekalipun pada hakikatnya adalah hasil usaha
bersama dari suatu masyarakat yang ditelitinya.
e. Antropologi: Pada mulanya banyak mempelajari tentang hidup bersama sebagai manusia,
terutama golongan-golongan yang masih bersahaja (Shadily, 1986: 20). Sebagai contoh
orang-orang Aborigin di Australia, Orang-orang Indian di Amerika Serikat, ornag-orang
Badui di Banten, maupun orang-orang Tengger di Jawa Timur, dan sebagainya. Namun
sekarang ini, antropologi juga telah memasuki kajian kelompol maupun etnis/ras
masyrakat kota ataupun yang lebih maju. Maksud dari hasil penelitian bidang antropologi
ini adalah untuk lebih memahami agar lebih mudah pemahaman tentang beberapa
keunikan secara ideografis serta memberikan pengertian yang mendalam mengenai
masyarakat modern yang lebih luas dan kompleks.
5 Jenis Penelitian Sosiologi
Dalam peneltian sosiologi (Shadily, 1980: 50-52), kita setidaknya mengenal tiga
macam penelitian sosiologi, yakni: penelitian lengkap, penelitian fact finding, dan
penelitian interpretasi kritis.
Pertama; penyelidikan lengkap: Dalam penelitian ini berusaha untuk dicari secara
teliti segala fakta-fakta dan kemudian ditarik kesimpulan-kesimpulan yang diambil dari
fakta-fakta tersebut. Dengan demikian sesudah membuat definisi tentang substansi kajian
yang kemudian meneliti kebenaran maupun kekurangan hipotesis-hipotesis itu, peneliti juga
harus mempertanyakan fakta apa yanag ada dalam kajian itu. Selanjutnya setelah fakta-fakta
diperiksa secara teliti, juga peneliti harus menyimak pendapat-pendapat para ahli lainnya
tentang masalah yang sama, walaupun pendapat-pendapat tersebut tidak akan
mempengaruhi kebenaran/kesalahan dari temuan yang diselidiki tersebut. Namun selama
penelitian ilmiah tersebut dilakukan, peneliti harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Betulkah bahwa kesimpulan itu sesuai dengan fakta yang tersedia? Betulkah fakta-fakta itu
digunakan dengan jujur dari sesuatu prasangka yang tidak menyebelah ? Cukup banyakkan
fakta-fakta itu untuk dapat dianggap bahwa kejadian itu dianggap umum ? Cukup benarkah
induksi dan deduksi yang digunakan serta logika yang sehat benar-benar diperlukan ?
Kedua; penelitian fact finding, yaitu merupakan penelitian dari suatu hasil
penemuan fakta penelitian, tentang sesuatu hal yang benar-benar berdasar dari fakta-fakta
yang ada untuk membuat laporan yang dapat dipercaya. Sebut saja sebagai contoh tentang
pemberontakan ataupun gerakan disintegrasi bangsa dari sekelompok suku bangsa tertentu
terhadap pemerintah yang resmi. Dalam hal ini peneliti harus meneliti dari faktor-faktor
penyebab pemberontakan/gerakan tersebut. Laporan-laporan yang telah ada tentang
karakteristik, dan ketidakpuasan suku tersebut dari dulu hingga sekarang. Sikap-sikap
pemerintah yang dianggap kurang kondusif memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.
Fakta-fakta tersebut kemudian dikumpulkan dari dokumen-dokumen yang ada, hasil
16
observasi-observasi, dari wawancara-wawancara, maupun isu-isu yang berkembang dan
sebagainya.
Ketiga; pebnelitian interpretasi kritis: Penelitian ini juga lazim dilakukan dalam
sosiologi. Dalam hal ini peneliti pada umumnya tidak tersedia cukup mempergunakan faktafakta,
karena yang dikumpulkan itu hanyalah merupakan analisis-analisis maupun uraianuraian
tentang sesuatu fakta yang sedikit tersedia. Dengan demikian diperlukan analitis
kritis seorang peneliti untuk meyakinkan pembaca ataupun peneliti lainnya dalam
memahami hasil-hasil penelitiannya. Bisaanya baik penelitian fact finding maupun
interpretasi kritis hanya sekedar pembuatan laporan penelitian dan tidak memberikan
kesimpulan-kesimpulan yang lengkap atas fakta-faktanya.
C. Kegunaan Sosiologi
Telah dikemukakan sebelumnya bahwa dalam kajian sosiologi banyak menelaah
fenomena-fenomena yang ada dimasyarakat, seperti; norma-norma, kelompok-kelompok
sosial, stratifikasi dalam masyarakat, lembaga-lembaga kemasyarakatan, proses-proses
sosial, perubahan sosial, kebudayaan dan lain sebagainya. Dalam realitanya kondisi ideal
yang diharapkan masyarakat itu tidaklah sepenuhnya berjalan normal, dalam arti bayak
fenomena abnormal terjadi secara patologis, yang dapat disebabkan oleh tidak berfungsinya
unsur-unsur yang ada pada masyarakat tersebut. Fenomena-fenomena kekecewaan dan
penderitaan masyarakat tersebut dinamakan problema-problema sosial yang berhubungan
erat dengan nilai-nilai sosial Dengan demikian kegunaan sosiologi secara praktis dapat
berfungsi untuk mengetahui, mengidentifikasi, dan mengatasi problema-problema sosial
(Soekanto, 1986: 339-340).
Adapun beberapa problema sosial tersebut, dilihat fokus kajiannya secara makro
dapat dibedakan berdasarkan bidang-bidang keilmuannya. Sebagai contoh problemaproblema
yang berasal dari faktor ekonomi seperti; kemiskinan dan pengangguran.
Problema sosial yang disebabkan oleh faktor kesehatan, misalnya; terjangkitnya penyakit
menular, rendahnya angka harapan hidup, serta tingginya angka kematian. Problema sosial
yang disebabkan oleh faktor psikologis misalnya meningkatnya fenomena neurosis (sakit
syaraf), tingginya penderita stress, dan sebagainya. Lain lagi dengan problema sosial yang
disebabkan oleh faktor politik, misalnya; tersumbatnya aspirasi politik massa, meningkatnya
sistem pemerintahan yang otoriter, ataupun tidak berfungsinya lembaga-lembaga tinggi
negara (legislatif, eksekutif, maupun yudikatif). Sedangkan problema sosial yang disebabkan
oleh faktor hukum misalnya; meningkatnya angka kejahatan, korupsi, perkelahian,
perkosaan, delinkuensi remaja, dan bentuk-kriminalitas lainnya termasuk “white-collar
crime” yang sedang marak belakangan ini.
Dari sisi fokus kajian mikro, sosiologi juga berfungsi dalam memberikan informasi
untuk mengatasi masalah-masalah keluarga, seperti disorganisasi keluarga. Pengertian
disorganisasi keluarga seperti yang dikatakan Goode (1964; 391), yaitu sebagai perpecahan
dalam keluarga sebagai suatu unit. Perpecahan tersebut disebabkan oleh adanya kegagalan
anggota-anggota keluarganya dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya yang sesuai dengan
peran sosialnya. Adapun bentuk-bentuk disorganisasi keluarga tersebut bisa berupa; unit
keluarga yang tidak lengkap, perceraian atau putusnya perkawinan, adanya empty shell
family, krisis keluarga, dan sebagainya
D. Sosiologi Sebagai Ilmu Obvious (Nyata)
Banyak orang sering memperdebatkan tentang sifat ilmu sosiologi itu. Tidak sedikit
yang mengemukakan bahwa sosiologi sebagaimana layaknya ilmu sosial, tidak jauh berbeda
dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. Tetapi di balik itu semua nampak juga yang menekankan
bahwa jika sosiologi ingin tetap merupakan sebuah ilmu pengetahuan, maka harus
merupakan suatu ilmu pengetahuan yang jelas nyata (Poepenoe, 1983:5). Para ahli sosiologi,
sering berkata, kita banyak menghabiskan uang untuk "menemukan" apa yang sebetulnya
hampir semua orang telah mengetahuinya. Keberadaan masalah ini disebabkan oleh karena
dalam sosiologi dihadapkan dengan dunia masyarakat yang sebetulnya tidak begitu aneh, di
mana orang-orang yang secara umum sudah akrab ataupun mengenalnya konsep-konsep
yang diperkenalkan dalam bidang sosiologi. Sebaliknya, sebagai pembanding, dalam pokok
17
kajian pada kelompok ilmu-ilmu kealaman adalah sering berada di luar dunia dari
pengalaman kita sehari-hari. Maka untuk menjawab atas permasalahan dalam ilmu
pengetahuan alam, hal yang paling sering bahwa temuan kajian itu memberikan dalam
ungkapan bahasa dan simbol-simbol di mana kebanyakan orang hampir tidak memahaminya
atau benar-benar dibawa dalam pengenalan konsep yang benar-benera baru.
Sekali lagi, penyebabnya hanyalah bidang kajian dalam sosiologi adalah hal-hal yang
terbiasa kita kenal. Oleh karena itu implikasinya dari karena ‘sudah biasa’ dan familiar itu
maka untuk memperoleh sesuatu yang ‘baru’ itu harus ditelitinya secara ekstrim dengan
sangat seksama dan hati-hati. Adanya pernyataan-pernyataan yang menekankan pentingnya
akal sehat (common-sense), dan pertimbangan atau pemikiran (reasoning) memberikan
dukungannya terhadap sosiologi, memang tidak boleh diabaikan tetapi juga sering
menyesatkan. Dalam hal ini, ambil, sebagai contoh permasalahan dalam ‘bunuh diri’, yang
telah menjadi penyebab kedua terbanyak tentang faktor penyebab kematian (setelah
kecelakaan) di antara anak-anak muda di Amerika Serikat. Secara akal sehat dan
berdasarkan pertmbangan-pertimbangan, anda akan katakan bahwa meningkatnya bunuh
diri di Amerika Serikat, berkaitan dengan:
1. Penyebab di mana hal itu merupakan semacam suatu waktu depresi tahunan, orang-orang
lebih banyak melakukan bunuh diri pada waktu musim dingin dibanding musim panas.
2. Sebab mereka adalah yang orang-orang yang memiliki tingkat ketergantungan tinggi,
obat-obatan, dihimpit masalah seks; dan di sini kaum wanita lebih tinggi untuk
melakukan bunuh diri daripada laki-laki.
3. Lebih banyak orang-orang yang muda yang melakukan bunuh diri dibanding orang-orang
tua. Di mana yang muda, penyebab stress dan ketidak-pastian hidup adalah jauh lebih
besar.
4. Dalam kaitannya dengan ketidaksamaan dan diskriminasi, kulit hitam mempunyai suatu
tingkat bunuh diri lebih tinggi dibanding dengan kulit putih, tiap tahunnya.
5. Kondisi kehidupan yang miskin, tingkat angka bunuh diri di negara berkembang adalah
jauh lebih tinggi dibanding dengan masyarakat industri maju.
Ternyata riset sosiologi telah menunjukkan masing-masing pernyataan tersebut
merupakan jawaban-jawaban yang semu ataupun palsu (Gibbs, 1968). Angka bunuh diri
adalah lebih tinggi sepanjang bulan musim panas dibanding musim dingin.. Pada sebagian
lagi, hal ini adalah disebabkan orang-orang merasa depresi ketika cuaca yang panas dan
sesuatu yang ia harapkan untuk menikmati waktu bersenag-senang ia yang ia sangat
nantikan ternyata ibarat mendaki yang terjal di bebatuan.. Karena sejumlah pertimbangan
dan pikiran akal sehat kita, ternyata angka bunuh diri kaum laki-laki jauh lebih tinggi
dibanding perempuan. (walaupun kaum wanita mencoba bunuh diri lebih sering dibanding
yang dilakukan laki-laki). Tingkat bunuh diri yang dilakukan kaum tua juga lebih tinggi
daripada yang muda, di mana sebagian disebabkan oleh kesehatan yang sakit-sakitan. Dan
tingkat bunuh diri di antara kulit hitam dan di negara berkembang secara relatif adalah
rendah. Mungkin nampak aneh kedegarannya, tetapi bukti menunjukkan bahwa tingkat
bunuh diri adalah jauh lebih tinggi dari mereka, di mana umumnya adalah negara-negara
yang makmur dan rata-rata berpendidikan cukup baik.
Bukti-bukti adanya peningkatan yang tajam dalam bunuh diri bahwa terjadi ketika
masyarakat menjadi lebih maju, fakta ini dikumpulkan pertama kali secara sistematis oleh
salah seorang pendiri sosiologi, Emile Durkheim (1858-1917). “Suicide” judul bukunya itu
(1897) adalah salah seorang dari pelopor studi ilmiah dalam sosiologi. Studi bunuh diri sejak
itu telah menjadi suatu bidang kajian riset yang penting dan menarik, sering mengejutkan
dan menemukan hal-hal yang aneh seperti tulisan Durheim..Apa yang dapat kita pelajari dari
pernyataan tentang bunuh diri tersebut?. Pernyataan akal-sehat dan pertimbangan ataupun
pemikiran yang beralasan untuk mendukungnya, ternyata dapat menyesatkan ⎯ dan sering
hal itu terjadi. Di situlah sosiologi sebagai science of the obvious hanya bisa dilakukan
melalui kajian-kajian yang penuh kehati-hatian dan obyektif, bahwa kita dapat mengetahui
dengan penuh percaya diri dalam menjawab banyak pertanyaan tentang tingkah laku
manusia dan masyarakat kita.
18
E. Sejarah Lahir dan Perkembangan Sosiologi
Pemikiran dan perhatian intelektual terhadap masalah-masalah serta isu-isu yang
berhubungan dengan sosiologi sudah lama berkembang sebelum sosiologi itu lahir menjadi
suatu disiplin ilmu. Para ahli filsafat Pencerahan (Enlightenment) pada abad ke-18 sudah
menekankan peranan akal budi yang potensial dalam memahami perilaku manusia dan
dalam memberikan landasan untuk hukum-hukum dan organisasi negara (Becker: 1932;
Berlin: 1956; Capaldi: 1967). Pemikiran mereka lebih ditekankan pada dobrakan utama
terhadap pemikiran abad pertengahan yang bergaya skolastik atau dogmatis, di mana
perilaku manusia dan organisasi masyarakat itu sudah dijelaskan dalam hubungannya
dengan kepercayaan-kepercayaan agama (Johnson, 1986: 14).
Sejarawan dan filsuf sosial Islam Tunisia Ibnu Khaldun (1332-1406), sudah
merumuskan suatu model tentang suku bangsa nomaden yang keras dan masyarakatmasyarakat
halus bertipe menetap dalam suatu hubungan yang kontras (Chambliss, 1954:
285-312). Karya Khaldun tersebut ditungkan dalam bukunya yang berjudul al-Muqaddimah
tentang sejarah dunia dan sosial-budaya yang dipandang sebagai karya besar di bidang
tersebut (Sharqawi, 1986: 144). Dari kajiannya tentang watak masyarakat manusia, Khaldun
menyimpulkan bahwa kehidupan nomaden lebih dahulu ada dibanding kehidupan kota dan
masing-masing kehidupan ini mempunyai karakteristik tersendiri. Menurut pengamatannya
politik tidak akan timbul kecuali dengan penaklukan, dan penaklukan tidak akan terealisasi
kecuali dengan solidaritas. Lebih jauh lagi ia mengemukakan bahwa kelompok yang
terkalahkan selalu senang mengekor ke kelompok yang menang, baik dalam slogan, pakaian,
kendaraan, dan tradisinya. Selain itu salah satu watak seorang raja adalah sikapnya yang
menggemari kemewahan, kesenangan, kedamaian. Dan apabila hal-hal ini semuanya
mewarnai sebuah negara maka negara itu akan masuk dalam masa senja. Dengan demikian
kebudayaan itu adalaah tujuan masyarakat manusia dan akhir usia senja (Al-Muqaddimah,
1284 H: 168).
Pendapat Khaldun tentang watak-watak masyarakat manusia ini dijadikannya
sebagai landasan konsepsinya bahwa kebudayaan dalam berbagai bangsa berkembang
melalui empat fase, yaitu: fase primitif atau nomaden, fase urbanisasi, fase kemewahan,
dan fase kemunduran yang mengantarkan kehancuran. Kemudian keempat perkembangan
ini oleh Khaldun sering disebut dengan fase; pembangun, pemberi gambar gembira, penurut,
dan penghancur (Al-Muqqaddimah, 1284 H: 137; Sharqawi, 1986: 145).
Jadi, peradaban-peradaban ditakdirkan tidak untuk bertahan lama dan tumbuh
tanpa batas, tetapi untuk lebih menjadi mudah ditaklukkan oleh orang nomaden yang kuat,
keras, dan keberaniannya diperkuat oleh rasa solidaritas yang tinggi. Namun kemudian,
penakluk-penakluk ini-pun meniru gaya hidup yang kebudayaan yang halus yang mereka
taklukkan. Dan siklus terus terulang lagi. Model masyarakat yang Khaldun gambarkan
mengenai tipe-tipe sosial dan perubahan sosial diwarnai oleh warisan khusus dari
pengalaman dunia gurun pasir di jazirah Arab. Tujuannya tidak hanya untuk memberikan
suatu deskripsi historis mengenai masyarakat-masyarakat Arab, tetapi untuk
mengembangkan prinsip-prinsip umum atau hukum-hukum yang mengatur dinamikadinamika
masyarakat dan proses-proses perubahan sosial secara keseluruhan. Semangat
atau sikap ilmiahnya dalam menganalisis sosial-budaya pada umumnya mendekati bentukbentuk
penelitian ilmiah modern, dan isinya secara substantif dapat disejajarkan dengan
teori sosial modern. Namun demikian karya Khaldun sudah banyak diabaikan oleh para ahli
teori sosial di Eropa dan Amerika, mungkin antara lain karena dunia Arab saat itu mulai
mundur, sedangkan Eropa dan Amerika semakin mendominasi (Johnson, 1986: 15).
Keadaan semacam ini tidak sekedar melanda dalam sosiologi, sebab sampai
menjelang pertengahan abad ke 19, hampir semua ilmu pengetahuan yang dikenal sekarang
ini, pernah menjadi bagian dari filsafat dunia Barat yang berperan sebagai induk dari ilmu
pengetahuan atau “Mater Scientiarum” ataupun menurut Francis Bacon sebagai the great
mother of the sciences (Rosenberg, 1955: 29). Pada waktu itu filsafat mencakup segala usahausaha
pemikiran mengenai masyarakat. Lama kelamaan, dengan perkembangan zaman dan
tumbuhnya peradaban manusia, pelbagai ilmu pengetahuan, yang semula tergabung dalam
filsafat memisahkan diri dan berkembang mengejar tujuan masing-masing. Astronomi (ilmu
tentang bintang-bintang), dan fisika (ilmu alam) merupakan cabang-cabang ifilsafat yang
19
terawal memisahkan diri, yang kemudian diikuti oleh ilmu kimia, biologi, dan geologi. Pada
abad 19 kemudian muncul dua ilmu pengetahuan baru, yakni psikologi dan sosiologi. Begitu
juga Astronomi yang pada mulanya merupakan bagian dari filsafat yang bernama kosmologi,
sedangkan alamiah menjadi fisika, filsafat kejiwaan menjadi psikologi, dan filsafat sosial
menjadi sosiologi (Soekanto, 1986; 3).
Dengan demikian maka lahirlah sosiologi, yang dalam pertumbuhannya dapat
dipisahkan dari ilmu-ilmu sosial lainnya, seperti; ekonomi, sejarah, politik, dan lain
sebagainya. Lahirnya sosiologi sebagai ilmu sosial tidak lepas peranannya dari seorang tokoh
brilyan tetapi kesepian. Ia adalah Auguste Comte (1798-1857), yang tidak hanya menemukan
nama untuk bidang studi yang belum dipraktekkan pada saat itu, tetapi juga mengklaim
status masa depan ilmu pengetahuan tentang hukum yang mengatur perkembangan
progresif namun teratur dari masyarakat terutama dari hukum dinamika sosial dan hukum
statis sosial (Bauman, 2003: 1032) ⎯ pengetahuan yang akan diperoleh dengan
menyebarkan metode ilmiah dari observasi dan eksperimen yang dapat diterapkan secara
universal.
Comte menulis buku berjudul Course of Positive Philosophy yang diterbitkan pada
tahun antara 1830-1842, yang mencerminkan suatu komitmen yang kuat terhadap metode
ilmiah (Johnson, 1986: 13). Buku tersebut merupakan ensiklopedi mengenai evolusi filosofis
dari semua ilmu dan merupakan suatu pernyataan yang sistematis tentang filsafat positif,
yang semua ini terwujud dalam tahap akhir perkembangan (Johnson, 1986; 84-85).
Singkatnya dalam hukum itu menyatakan bahwa masyarakat berkembang melalui tiga tahap
utama. Tahap-tahap ini ditentukan menurut cara berpikir yang dominan, terbagi dalam tiga
stadia, yaitu: (1) tahap teologis, ditandai oleh kekuatan zat adikodrati Yang Maha Kuasa; (2)
tahap metafisik, ditandai oleh kekuatan pikiran dan ide-ide abstrak yang absolut; dan (3)
tahap positif yang ditandai dengan kemajuan ilmu-ilmu positivistik untuk kemajuan dan
keteraturan hidup manusia, di mana sosiologi akan menjadi “pendeta agama baru” (Lauer,
2001: 73-74).
Sosiologi yang lahir tahun 1839, berasal dari kata Latin “socius” yang berarti “kawan”,
dan “logos” yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti “kata” atau “berbicara”. Dengan
demikian sosiologi berarti berbicra mengenai masyarakat. Bagi Comte maka sosiologi
merupakan ilmu pengetahuan kemasyarakatan umum yang merupakan hasil terakhir dari
perkembangan ilmu pengetahuan.
Tokoh lainnya ahli kemasyarakatan dari Inggeris yaitu Herbert Spencer (1820-1830),
merupakan tokoh yang pertama-tama menulis tentang masyarakat atas dasar data empiris
yang konkrit yang dituangkan dalam bukunya yang berjudul Principles of Sociology. Ia
mengemukakan bahwa kunci memahami gejala sosial atau gejala alamiah itu adalah hukum
evolusi universal (Spencer, 1967). Gejala fisik, biologis, dan sosial itu semuanya tunduk pada
hukum dasar tersebut. Kemudian prinsip-prinsip evoulusi tersebut juga diperluas dari
tingkat gilogis ke sosial sehingga semboyan survival aof the fittest dalam Darwinisme Sosial
itu-pun sebenarnya dari Spencer
Emile Durkheim (1858-1917) yang diakui sebagai “bapak sosilogi” dalam
pengembangan disiplin sosiologi sebagai disiplin akademik, mengikuti tradisi positivistic
Prancis dan mengemukakan dalil keberadaan fakta sosial yang spesifik, yang telah
ditinggalkan oleh bentuk studi lainnya, khususnya psikologi yang merupakan pesaing dari
sosiologi yang paling nyata dalam tugas menjelaskan keteraturan di dalam tindakan manusia
yang dapat diamati. Dalam bukunya yang berjudul The Rules of Sociological Method,
Durkheim mengajukan dalil bahwa fakta sosial itu tidak dapat direduksikan ke fakta
individu, melainkan memiliki eksistensi yang idependen pada tingkat sosial. Inilah yang awal
yang menegakkan sosilogi sebagai satu disiplin ilmu tersendiri terlepas dari psikologi,
walaupun pendapat tersebut ditentang oleh tokoh-tokoh lainnya seperti Marx Weber dan
George C. Homans ⎯ dalam karyanya Social Behavior: Its Elementary Forms, kelompok
reduksionis yang mengemukakan bahwa setiap usaha untuk menjelaskan gejala sosial
akhirnya harus didasarkan pada proposisi-proposisi mengenai perilaku individu (Homans,
1961).
20
Apa yang membedakan fakta sosial itu dapat dibedakan dengan gejala individual ?
Bagi Durkheim, fakta sosial itu memiliki karaktersitik yang berbeda dengan gejala individual,
yakni: Pertama, fakta sosial itu bersifat eksternal terhadap individu, yang merupakan cara
bertindak, berpikir, dan berperasaan yang memperlihatkan keberadaannya di luar kesadaran
individu. Kedua, fakta sosial itu “memaksa” kepada individu, walaupun tidak dalam
pengertian kepada hal-hal negatif. Melalui fakta sosial individu tersebut dipaksa, dibimbing,
diyakinkan, didorong, atau dipengaruhi dalam lingkungan sosialnya. Ketiga, fakta sosial itu
bersifat universal, oleh karenanya tersebar secara luas dalam arti milik bersama, bukan sifat
individu perorangan ataupun hasil penjumlahan individual, tetapi kolektif.
Dalam buku yang lain, Division of Labour in Society, Durkheim memusatkan konsep
“solidaritas sosial” sebagai sebuah karya yang membawahi semua karya utamanya.
Singkatnya, ”solidaritas sosial” menunjuk pada suatu keadaan hubungan antara individu
dengan kelompok yang didasarkan pada perasaan moral serta kepercayaan yang dianut
bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Dalam hal ini Durkheim
menganalisis pengaruh atau fungsi kompleksitas dan spesialisasi pembagian kerja dalam
struktur sosial dan perubahan-perubahan yang diakibatkannya dalam bentuk-bentuk pokok
solidaritas sosial. Dalam arti bahwa pertumbuhan dalam pembagian kerja meningkatkan
suatu perubahan dalam struktur sosial dari solidaritas sosial mekanik ke solidaritas sosial
organik (Durkheim, 1964a: 79).
Solidaritas mekanik didasarkan pada suatu “kesadaran kolektif” bersama (collective
consciousness/conscience) yang menunjuk pada totalitas kepercayaan-kepercayaan dan
sentimen-sentimen bersama yang rata-rata ada pada warga masyarakat yang sama tersebut.
Sedangkan dalam solidaritas organik, terdapat saling ketergantungan yang tinggi dan hal itu
muncul karena pembagian kerja yang bertambah besar sehingga terbentuk spesialisasispesialisasi
dalam pembagian pekerjaan. Karaktersitik dalam munculnya solidaritas organic
tersebut ditandai oleh pentingnya hukum yang bersifat memulihkan (restrictive) daripada
bersifar represif.(Jonson, 1986: 183-184).
.Pada saat yang hampir sama, Max Weber (1864-1920) tokoh pendiri akademik
lainnya yang terinpirasi oleh tradisi Geisteswissenchaven dan Kulturlehre dari Jerman,
berusaha membentuk disiplin baru. Sosiologi dibedakan oleh pendekatan dan pandaangan
interpretatifnya daripada oleh pernyataan bahwa seperangkat “fakta” terpisah merupakan
wilayah eksklusif untuk studinya. Bagi Weber, sosiologi dibedakan oleh usahanya untuk
verstehen (memahami) tingkah laku manusia. Untuk fokus kajiannya itu ia berbeda dengan
Durkheim yang menekankan fakta sosial tersebut. Bagi Weber kenyataan sosial itu sebagai
sesuatu yang didasarkan motivasi individu dan tindakan sosial yang berarti. Dalam arti
bahwa tinjauan Weber tersebut berhubungan dengan posisi nominalis, yang berpendirian
bahwa hanya individu-lah yang riil secara obyektif, sebaliknya masyarakat hanyalah satu
nama yang menunjuk pada sekumpulan individu-individu.
Tetapi analisis substantif Weber tidak mencerminkan suatu posisi yang
individualistik dengan ekstrimnya. Dia juga mengikuti pentingnya dinamika-dinamika
kecenderungan sejarah yang besar pengaruhnya terhadap individu, walaupun posisinya
dapat dilihat sebagai sesuatu yang berhubungan dengan individualisme-metodologis.
Artinya data ilmiah bagi ilmu sosial akhirnya berhubungan dengan tindakan-tindakan
individu yang bersifat subyektif yang berhungan dengan pelbagai “kategori interaksi
manusia”. Alasan mengapa dia menekankan pada kajian idividu yang serba subyektif ?.
Karena di masa hidupnya ia sangat menekankan idealisme dan historisme.
Dunia ilmu budaya tidaklah bisa dipandang sebagai sesuatu yang sesuai dengan yang
dimengerti menurut hukum-hukum ilmu alam saja, yang menyatakan hubungan itu bersifat
kausal. Sebaliknya dunia budaya harus dilihatnya sebagai dunia kebebasan dalam
hubungannya dengan pengalaman dan pemahaman internal di mana arti-arti subyektif itu
dapat ditangkap. Sebab pengetahuan yang obyektif melulu mengenai tipe yang dicari dalam
ilmu-ilmu alam tidaklah memadai. Pandangan semacam ini dikembangkan oleh gurun
Weber, yakni seorang sejarawan Jerman bernama Wilhelm Dilthey (1883-1911) yang
menekankan tradisi idealis dan ilmu hudayanya yang menekankan verstehen (pemahaman
subyektif) bertentangan dengan paradigma positivisme dari Prancis atau Durkheim tersebut
(Bauman, 2002: 1025)..
21
Namun sebaliknya Weber juga berpendirian bahwa sosiologi haruslah merupakan
suatu ilmu empirik; harus menganalisis perilaku actual manusia individual menurut
orientasi subyektif mereka sendiri. Hal ini yang juga membedakan tajam dengan kaum
idealistic lainnya yang menurut anggapannya hanya menginterpretasikan perilaku individu
ataupun perkembangan sejarah suatu masyarakat sesuai dengan asumsi-asumsi apriori yang
luas. Di sini pula tinjauan Weber yang sesuai dengan positivisme karena menekankan arti
pentingnya empirisme, tetapi bedanya Weber tetap tidak menghilangkan arti penting tentang
subyektivisme.
Dalam hal ini Weber bisa dikatakan setapak lebih jauh dalam memisahkan nilai-nilai
analisis ilmiahnya. Selain ia terkenal dengan metode verstehen-nya, ia juga, Weber juga
mempertahankan bahwa pengetahuan ilmiah tidak pernah membenarkan suatu dasar untuk
memberikan pertimbangan nilai (value judgment). Ilmu pengetahuan harus bersifat netral
dalam hubungannya dengan menilai posisi-posisi moral yang bertentangan. Inilah
keunggulan Weber, kendatipun pendapat yang tearkhir ini banyak mendapat kritik dari
mazhab Frankfurt berikutnya. Selain itu salah stu sumbangan Weber yang penting lainnya
dalam bidang metodologi adalah ia mengembangkan tipe ideal sebagai suatu cara untuk
memungkinkan perbandingan dan generalisasi-generalisasi empirik (Parson dan Neil, 1956).
Tipe ideal dikonstruksikan dan digunakan sebagai tonggak pengukur untuk menilai seberapa
jauh gejala itu sesuai dengan tipr ideal tesebut, sebagai konsep teoretis dalam
mengembangkan hipotesei-hipotesis penelitian. Akan tetapi tipe ideal bukan tidak
mengandung pertimbangan nilai mengenai gejala yang sedang kita amati, jadi dugunakan
untuk analisis, bukan untuk evaluasi (Johnson, 1986: 218). Dan, salah satu tipe ideal yang
paling terkenal dari Weber adalah tentang birokrasi. Pelbagai karaktersitik birokrasi ⎯
pembagian kerja dan spesialissi, hirarki otoritas, penerimaan pegawai berdasarkan keahlian
teknis, tekanan pada peraturan formal dan impersonalitas ⎯ membentuk tipe ideal suatu
organisasi birokrasi. Memang dua tokoh ahli sosiologi tersebut (yakni Durkheim dan Weber)
tersebut merupakan dua tokoh sosiologi yang paling terkemuka dalam sejarah
perkembangan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan.
Sosiologi berkembang dengan pesatnya pada abad ke-20, khususnya di Prancis,
Jerman, dan Amerika Serikat, walaupun arah perkembangannya dari ketiga negara tersebut
berbeda-beda. Sebagai contoh di Inggris, walaupun dipopulerkan oleh John Stuart Mill dan
Herbert Spencer, ternyata Sosiologi kurang berkembang di sana, dan hal ini berbeda dengan
di Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat (Soekanto, 1986: 4).
Nama-nama seperti Auguste Comte dan Emile Durkheim (Prancis), Herbert Spencer
(Inggris), Karl Marx, Manheim, Marx Weber, Georg Simmel, Ralf Dahrendorf (Jerman),
Vilfredo Pareto (Itali), Pitirim Sorokin (Rusia), Charles Horton Cooley, Talcot Parsons,
George Herbert Mead, Lester F. Ward, Erving Goffman, Lewis Coser, Randall Collins
(Amerika Serikat), beserta tokoh sosiolog lainnya yang terkemuka dalam perkembangan
sosiologi di Eropa dan Amerika. Dari kedua benua inilah sosiologi kemudian menyebar ke
benua dan negara-negara lain, termasuk ke Indonesia. Singkatnya para pelopor yang
mengembangkan dasar-dasar sosiologi merasa yakin bahwa mereka hidup dalam saat
penting yang menentukan dalam sejarah.
Sejalan dengan berkembangnya analisis yang hidup dan berpengaruh mengenai
revolusi-revolusi ilmu pengetahuan, Thomas Kuhn dalam karyanya The Structure of
Scientific Revolutions, menunjuk pada asumsi-asumsi intelektual yang disebutnya dengan
istilah “paradigma”. Suatu paradigma terdiri dari pandangan hidup (world view atau
weltanschauung) yang dimiliki oleh para ilmuwan dalam suatu disiplin ilmu tertentu (Kuhn,
1970). Kemudian timbul pertanyaan; apakah sosiologi didominasi oleh hanya satu paradigma
saja ? Bisa saja secara umum orang menjawabnya ya. Akan tetapi dibalik dibalik pandangan
yang umum tersebut terdapat perbedaan yang menyolok dalam asumsi-asumsi dasar dari
para ahli sosiologi tersebut. Oleh karena itulah George Ritzer dalam Sociology: A Multiple
Paradigm Science, menolak anggapan tersebut. Dia membedakan tiga paradigma yang
secara fundamental yang sangat kontras, antara lain: (1) paradigama fakta sosial, (2)
paradigma definisi sosial, dan (3) paradigma perilaku sosial (Ritzer, 1970).
22
Hal yang mendasar dalam distingsi ini adalah perbedaan-perbedaan dalam asumsi
dasarnya mengenai hakikat kenyataan sosial. Paradigma fakta sosial yang diwakili Emile
Durkheim selama tahap perkembangan teori sosiologi klasik yang sangat menyolok, dan
pada masa kini dalam fungsionalisme dan teori konflik (Marxis dan non-Marxis seperti
Dahrendorf, Coser, dan Collins) yang menekankan ide bahwa fakta sosial adalah real atau
sekurang-kurangnya dapat diperlakukan sebagai yang real, sama seperti fakta individu
(Johnson, 1986: 55). Selain itu juga fakta sosial tidak bisa direduksi ka fakta individu; fakta
sosial memiliki realitasnya sendiri. Struktur sosial dan isntitusi sosial merupakan salah satu
di antara fakta sosial tersebut yang mendapat perhatian khusus dari para ahli sosiologi.
Paradigma definisi sosial (social definition) menekankan hakikat kenyataan sosial
yang sifatnya subjektif. Pada masa sosiologi klasik, paradigma ini diwakili oleh Max Weber
dan tindakan sosial yang dikembangkan oleh Talcot Parsons di awal perkembangan
karirirnya. Begitu juga teori interaksionisme simbolik dalam karya Mead, Cooley, Thomas,
dsb. Paradigma ini beranggapan banhwa kenyataan sosial didasarkan pada definisi yang
subjektif sifatnya dari penafsiran individu. Kemudian, paradigma perilaku sosial (social
behavior) menekankan pendekatan objektif-empiris terhadap kenyatan sosial. Menurut
pandangan ini, data empiris mengenai kenyataan sosial hanyalah perilaku-perilaku individu
yang nyata (overt behavior) yang dapat diukur. Kelompok ini diwakili oleh Skinner dan
Homans.
Faktor-faktor multiparadigmatik ini pula yang mendorong dalam sosiologi
mempersubur banyaknya teori-teori sosiologis yang sangat kaya, namun mereka yang
mewakili paradigma-paradigma yang saling bertentangan itu bertolak dari posisi yang
berbeda-beda, lama-kelamaan menuju titik temu yang menyangkut banyak pokok
permasalahan yang penting. Hal ini bisa kita lihat contohnya mereka yang mewakili
paradigma fakta sosial, akhirnya terpaksa mengakui bahwa fakta sosial tidak hanya bersifat
eksternal, tetapi juga ada dalam derajat tertentu memiliki kesadaran subjektif individu yang
bersifat internal (Johnson, 1986: 57). Begitu juga dalam kelompok paradigma definisi sosial.
Mereka pada akhirnya mengakui bahwa orang tidak hidup dalam suatu dunia yang seolaholah
tidak ada lagi yang lain dalam kenyataan sosial kecuali definisi-definisi subjektif
mereka. Setidak-tidaknya untuk berkomunikasi dengan orang lain, di mana individu harus
mempelajari suatu bahasa yang tidak mereka ciptakan sendiri ataupun individual. Di sinilah
karya Weber memberikan contoh kuat peralihan dari paradigma definisi sosial ke paradigma
fakta sosial (Johnson, 1986: 58).
Keteraturan sosial lama sudah hancur berantakan dan sedang menghilang dengan
cepat, dan tidak jelas apa yang menggantikannya. Sistem kepercayaan tradisional yang
dahulunya memberikan arti pada hidup, ikut mengarahkan dan mengontrol perilaku,
menjadi rusak oleh munculnya pendekatan ilmiah dan oleh sejumlah ideologi baru. Pelbagai
kelompok kepentingan dalam bidang ekonomi, politik, dan nasional mulai mengejar tujuantujuannya
sendiri, yang tidak terlalu banyak dibatasi oleh tradisi atau oleh komitmen moral
bersama, seperti oleh tekanan-tekanan yang datang dari kelompok-kelompok oposisi.
Meskipun konteks sosial tertentu bervariasi antara satu negara dengan lainnya, semua
pelopor ahli sosiologi melihat masyarakatnya yang sedang mengalami perubahan pesat
sering tanpa arah yang jelas. Tentu saja gambaran mereka tentang masa lampau terlalu
menekankan stabilitas dan kedamaian; walaupun demikian, hal ini memberikan suatu dasar
perbandingan dengan masa sekarang (Nisbet, 1966).
Banyak para ahli ilmu sosial modern yang menaruh minat serta perhatiannya pada
berbagai perubahan sosial yang terjadi belakangan ini. Beberapa ahli diantaranya berusaha
untuk menunjukkan kecenderungan yang akan memungkinkan dapat dibuatnya proyeksiproyeksi
tentang masa depan. Dan, kebangkitan yang paling berkembang serta
mengakibatkan munculnya kritik yang luas dan penolakan terhadap apa yang disebut
Anthony Giddens sebagai “konsessus ortodoks” pada tahun 1970-an yaitu “revolusi
fenomenologis” Diawali oleh Berger dan Luckman (1966) revolusi tersebut ditopang oleh
melimpahnya reformulasi radikal dari subyek persoalan dan strategi yang tepat dari karyakarya
sosiologi. Karya Alfred Schutz Life Forms and Meaning Structure merupakan inspirasi
dan otoritas teoretis yang utama. Karya ini telah membuka jalan bagi pengaruh filsafat
kontinental Edmund Huseerl dan Martin Hidegger, dan aplikasi hermeneutiknya di dalam
23
tulisan-tulisan Paul Ricouer serta Hans Gadamer. Efek dari pengungkapan fenomenologi
adalah pergeseran minat dari batasan structural eksternal dan ekstra-subyektif, menuju ke
interpretasi pengalaman subyektif dari pelaku; dan dari determinasi ke arbitrase antara
kebenaran obyektif dan opini prasangka, kemudian ke usaha mengungkapkan kondisi
pengetahuan yang berakar di dalam tradisi yang ditransmisikan secara komunal.
“Etnometodologi” dari Harold Garfinkel dalam karyanya Studies in Ethnomethodology ⎯
yang memperlakukan masyarakat sebagai prestasi dari pelaku atau aktor yang
berpengethuan luas, di dalam kegiatan sehari-harinya ⎯ lebih jauh menambahkan daya
dorong kepada reorientasi sosiologi berpindah dari struktur dan sistem “obyektif” menuju ke
“perwakilan (agency) sosial”, refleksi diri, aksi intensional dan konsekuensinya yang tidak
terantisipasi, merupakan sebuah perpindahan yang secara spesifik dideskripsikan dalam
karya Giddens (1976).
Telaah muncul keterbukaan yang lebih luas dari sosiologi terhadap perkembangan
dan bentuk-bentuk disiplin sosial lainnya, dan secara umum bergerak di bidang kebudayaan.
Terlepas dari fenomenologi dan hermeneutika, pengaruh yang sangat kuat adalah teori kritis
dari Theodor W. Adorno dan Max Horkheimer dalam pemikiran filsafat kritis The Dialectic
of Enligtenment (1949), semiotik dari Levi-Strauss dan Roland Barthes dalam buku
Mithologies (1957) dan Elements of Semiology (1964), filsafat pengetahuan dari Mitchel
Foucault dalam The Order of Things: An Archeology of the Human Science (1973) dan
Archeology of Knowledge (1969), historiografi dari Fernand Braudel yang merupakan
sejarah sosial dalam The Mediterranean and the Mediterranean World in the Age of Philip
II (1966), psikoanalisis baru dari Jaques Lacan dalam Ecrits: A Selection (1966), dan
Television: A Chalenge to the Psichoanalitic Establisment, serta dekontruksi dalam dari
Jaques Derrida mengenai teori tentang tulisan dalam Of Gramatology (1967). Selain itu juga
semakin berkembang penulisan sosiologi yang diwarnai pemikiran karakter transnasional.
Contohnya adalah dampak luas dari karya Jurgen Habermas (1979), “teori komunikasi”
karya Nikolas Luhman, teori sistem ditinjau kembali” karya Ulrich Beck (1992), Risikogesellschaft,
analisis Frederick Barth tentang batas-batas etnis, atau gagasan “modal
kultural”, dan “habitus” dari Pieree Bourdieu (1985).
Mereka percaya akan adanya indikasi-indikasi bahwa kita ini ada pada jalan pintas
yang dalam jangka panjang dapat menjadi penting untuk masa depan, seperti halnya
Revolusi Industri di masa silam. Sebut saja Daniel Bell dalam karyanaya The Coming of Post-
Industrial Society, ia menganalisis munculnya masyarakat “pasca industri”. Ia berpendapat
bahwa dalam masyarakat “pasca industri” dicirikan sutu tipe masyarakat yang lebih
menekankan pada produksi jasa, bukan barang-barang. Hal ini akan mencakup suatu
transformasi besar dalam dalam masyarakat dunia umumnya. Jika suatu masyarakat
industri didasarkan pada harta benda sebagai indikatornya, maka pengetahuan teoretis akan
menjadi suatu teori nilai kerja sampai kepada suatu teori nilai pengetahuan. Menurutnya
perubahan dalam dasar kehidupan sosial ini juga ditandai oleh adanya suatu perubahan
dalam struktur kelas. Kelas sosial baru yang dominan bukan lagi suatu kelas borjuis pemilik
harta benda, tetapi suatu “inteligensia sosial”: suatu kelas maupun individu yang
mendominasi bentuk-bentuk pengetahuan teoretis seperti para guru, dokter, konsultan,
pengacara, ilmuwan, insinyur, dan profesi keilmuan lainnya .
Di Indonesia, walaupun secara formal sebelum kemerdekaan belum berkembang
sosiologi sebagai ilmu pengetahuan, namun menurut Selo Sumardjan banyak di antara para
pujangga dan pemimpin-pemimpin kita yang telah memasukkan unsur-unsur sosiologi
dalam ajaran-ajarannya (1965).
Sebagai contoh ajaran “Wulang Reh” yang diciptakan oleh Mangkunegara IV dari
Surakarta sarat dengan tata hubungan golongan ang berbeda-beda pada masyarakat Jawa,
terutama menyangkut intergroup relations. Kemudian ajaran-ajaran Kihajar Dewantara
banyak membahas tentang kepemimpinan dan kekeluargaan yang diterapkan pada
pendidikan Taman Siswa (Soemardjan, 1965; Soekanto, 1986: 42).
Penjelasan di atas jelas menunjukkan bahwa unsur-unsur sosilogi tidak digunakan
dalam teori murni sosiologis, akan tetapi sebagai landasan untuk tujuan tertentu, terutama
sebagai tata hubungan antar manusia dan pendidikan. Begitu juga dalam karya-karya
24
peneliti yang secara khusus meneliti masyarakat Indonesia seperti Snouck Hurgronje, C.,van
Vollenhoven, ter Haar, Duyvendak dan lain-lain, begitu nampak unsur-unsur sosiologis
namun belum meningkat ke sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri.
Rechtshogeschool atau Selkolah Tinggi Hukum yang berkedudukan di Jakarta,
merupakan lembaga perguruan tinggi di Indonesia yang pertama kali memberikan kuliahkuliah
sosiologi sebelum meletusnya Perang Dunia II. Substansi sosiologi di sini-pun
hanyalah sebagai bagian pelengkap dalam kajian ilmu hokum. Begitu juga yang memberikan
kuliahnya-pun bukan sarjana-sarjana sosiologi, tetapi lebih bersifat filsafat sosial dan teoritis
berdasarkan buku-buku karya Alfred Vierkandt, Lepold von Wise Steinmetz, dan Bierens de
Haan (Soemardjan: 1965; Soekanto: 1986: 43).
Baru setelah kemerdekaan Indonesia dicapai, seorang sarjana Indonesia yakni Prof.
Dr. Mr. Soenario Kolopaking, untuk pertama kalinya memberi kuliah sosiologi pada tahun
1948 di Akademi Politik di Yogyakarta (kemudian dilebur dalam Universitas Gajah Mada).
Beliau memberikan kuliah dengan bahasa pengantar Bahasa Indonesia, padahal waktu itu
Bahasa Indonesia jarang digunakan keculai Bahasa Belanda. Pada Akademi Ilmu Politik
tersebut, sosilogi juga dikuliahkan sebagai ilmu pengetahuan pada jurusan pemerintahan
dalam negeri, hubungan lur negeri, dan publisistik. Pada tahun 1950, mulailah beberapa
orang Indonesia mempelajari sosiologi secara khusus.
Mr. Djody Gondokusumo, merupakan penulis pertama buku sosiologi di Indonesia
setelah terjadinya Revolusi Fisik yang berjudul Sosiologi Indonesia. Kemudian pada tahun
1950, setelah berakhirnya Revolusi Fisik, menyusul diterbitkannya buku sosiologi oleh
Bardosono, yang sebenarnya lebih merupakan diktat yang ditulis seorang mahasiswa yang
mengikuti kuliah-kuliah sosiologi dari seorang guru besar yang tidak disebutkan namanya
(Soemardjan, 1965). Kemudian disusul oleh tulisan Hassan Shadily, M.A. yang berjudul
Sosiologi Untuk Masyarakat Indonesia tahun 1952, penerbit P.T Pembangunan (Shadily,
1952). Buku ini merupakan buku pelajaran pertama di Indonesia yang memuat bahan-bahan
sosiologi modern, yang dianggap cukup representatif untuk memenuhi keperluan mahasiswa
kita saat itu.
Tidak lama kemudian tahun 1962, Selo Soemardjan menulis buku Social Changes
dalam bahasa Inggeris, yang sebenarnya buku ini merupakan disertasi untuk mendapatkan
gelar doctor pada Cornell University, Amerika Serikat. Isinya adalah perhal perubahanperubahan
sosial dalam masyarakat Yogyakarta sebagai akibat revolusi politik dan sosial di
Yogyakarta. Bersama-sama Soelaeman Soemardi tahun 1964 Selo Soemardjan menulis buku
Setangkai Bungan Sosiologi, yang untuk para mahasiswa dijadikan bacaan wajib pada
beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta (Soekanto, 1986: 45).
Sekarang ini di sejumlah Universitas Negeri yang mempunyai Fakultas Ilmu Sosial
Politik atau Fakultas Ilmu Sosial, di mana sosiologi dikuliahkan sampai tingkat yang lebih
tinggi sejak tingkat persiapan. Namun sayangnya sampai sekarang ini belum ada Universitas
Negeri yang mempunyai Fakultas Sosiologi, baru memiliki Jurusan Sosiologi pada Fakultas
Sosial dan Politik (UGM), pada Fakultas Ilmu Sosial (UI dan UNPAD).
F. Hubungan Sosiologi dengan Ilmu-ilmu Sosial Lainnya
Ketika metode keilmuan diberlakukan bagi studi perilaku manusia,
daripada/dibanding/bukannya kepada non-manusia, dunia alami, yang itu studi disebut
suatu ilmu sosial. Sosiologi dihubungkan dengan ilmu pengetahuan alam melalui metoda
menggunakan metode itu. Ini juga berhubungan dengan ilmu-ilmu sosial lain sebab pokok
nya tumpang-tindih dengan milik mereka. Batasan-batasan antara sosiologi, ekonomi,
psikologi, geografi, ilmu antropologi, dan sejarah adalah sering tidak jelas. Sebagai contoh,
meneliti permasalahan penduduk bagian tertua suatu kota dengan pendapatan di bawah
kekayaan tingkatan bisa dengan mudah jadilah suatu studi dalam sosiologi berkenaan
dengan kota, ekonomi keluarga, atau ilmu pengetahuan politis berkenaan dengan kota.
Tetapi batasan-batasan ada, dan satu gambaran jernih tentang sosiologi memerlukan suatu
pemahaman dari tiap ilmu-ilmu sosial lain .
Ilmu Ekonomi merupakan kajian untuk memperoleh barang-barang dan jasa
produksi, distribusi, serta konsumsi. Suatu hubungan ataupun mata rantai penting antara
ekonomi dan sosiologi adalah dua-duanya merupakan basis sosial tentang perilaku ekonomi.
25
Uang tidak akan mudah berpindah keluar masuk bank dengan sendirinya atau sebagai
jawaban atas kekuatan yang semata-mata bukan perseorangan. Hal itu disimpan di sana oleh
orang-orang yang telah membuat keputusan sosial tentang antisipasi sesuatu maupun
menabung untuk kepentingan pendidikan bagi anak-anak mereka, maupun untuk membeli
kondominium. Hal itu merupakan upaya yang sangat aktif oleh orang-orang yang ingin
memiki kepastain masa depan yang lebih cerah. Hubungan antara ekonomi dan sosiologi
bahwa ekonomi yang merupakan basis perilaku sosial yang ikut menentukan tipe dan bentuk
interaksi mereka. Para ahli sosiologi mengakui bahwa ekonomi dan material itu memiliki
pengaruh atas minat serta motivasi kerja pada masyarakat (Popenoe, 1983: 7).
Ilmu Politik memusatkan perhatiannya pada pemerintah dan penggunaan
kekuasaan politis. Para akademisi tentang ilmu politis melihatnya terutama dadari gagasan
di belakang sistem pemerintah pada operasi proses-proses politik itu. Para ahli sosiologi,
pada sisi lain, menjadi lebih tertarik pada pertanyaan-pertanyaan perilaku politik ⎯ alasan
orang-orang ikut serta berpolitik bergabung dalam pergerakan politik atau mendukung isuisu
politik ⎯ hubungan antara politik dan institusi sosial lainnya. Di tahun terakhir, ilmu
politis dan sosiologi sudah berkembang semakin ‘mendekat’ bersama-sama dalam metode,
pokok kajian, dan konsep, dan hal itu terus makin meningkat sukar untuk menggambarkan
suatu garis garis pemisah di antara mereka (Poepenoe, 1983: 7).
Ilmu Sejarah melihat ke belakang dalam suatu usahanya untuk menggambarkan
suatu peristiwa, urutan, dan maknai tentang peristiwa yang lampau itu. Penyelidikan sejarah
telah bergeser dari laporan tentang orang-orang dan tempat-tempat untuk menggambarkan
kecenderungan sosial yang luas dari waktu ke waktu. Di dalam putaran mereka, para ahli
sosiologi banyak meminjam peranan penyelidikan historis. Mereka telah memiliki
gambaran/menarik atas sejarah, sebagai contoh untuk membandingkan pengaruh sosial
industrialisasi di negara-negara Barat pada tahun 1800-an dengan pengaruh industrialisasi
sekarang di negera-negara yang sedang berkembang khususnya di Asia -Afrika. Acuan
historis akan sering menggunakan dalam teks ini untuk menerangkan kepada banyak orang
tentang peristiwa sosial sekarang ini.
Psikologi berhadapan sebagian besar dengan proses mental manusia. Psikologi
mempelajari tentang operasi pikiran yang logis, alasan, persepsi, mimpi-mimpi, dan
kreativitas ⎯ seperti halnya ketika neurosis, konflik mental, dan berbagai macam emosi.
Psikologi berbeda dengan sosiologi dengan jelas, karena dalam psikologi kajiannya
memusatkan pada pengalaman individu dibandingkan dengan sosiologi yang menekankan
kelompok sosial. Tetapi psikologi sosial ⎯ kajiannya dengan cara memahami kepribadian
dan perilaku yang dipengaruhi oleh individu-individu seting sosial ⎯ adalah berhubungan
erat dengan sosiologi. Hal itu mendukung metoda dan disiplin pengetahuan kedua-duanya.
Antropologi adalah studi biologi manusia dan kebudayaannya dalam semua
periode dan dalam semua bagian-bagian dari dunia itu. Ilmu antropologi fisik berkonsentrasi
pada kedua aspek yakni evolusi biologi manusia dan perbedaan fisik antar orang-orang di
dunia.. Sedangkan ilmu antropologi budaya mengkaji pengembangan dan kultur yang
sebagian besar difokuskan pada masyarakat dan budaya pramodern, walaupun sekarang
obyek kajian yang demikian banyak terjadi pergeseran. Namun sebagai perbandingan,
sosiologi lebih memusat pada peradaban modern yang relatif maju. Para ahli sosiologi
banyak meminjam konsep–konsep dan pendekatan antropologi, dan bagaimanapun, di
sejumlah perguruan tinggi ataupun universitas (contohnya di Indonesia adalah UNPAD) dua
bidang tersebut dikombinasikan ke dalam satu departemen.
Pada mulanya antropologi berhadapan dengan suatu pembatasan-batasan yang
terpasang tetap: Lebih menekankan kajian masyarakat pramodern yang tidak mementingkan
belajar ilmu pengetahuan, dan sebagian besar tidak satupun tidak disentuh oleh peradaban
modern. Akan tetapi hal ini setelah memasuki abad ke duapuluh pemikiran para ahli
antropologi sudah berbeda. Mereka melebarkan bidang kajiannya untuk meliputi komunitaskomunitas
dan masyarakat modern. Dengan demikian mereka berarti sudah semakin dekat
bidang sosiologi dalam pokok kajiannya (Kaplan dan Manners, 1999: 266; Kuper, 2000: 33;
Koentjaraningrat, 1990; 243-248).
26
G. Fokus Analisis, Klasifikasi Kenyataan Sosial, dan Perspektif Dominan dalam
Sosiologi
Untuk memudahkan pemahaman fokus kajian dalam sosiologi, menurut sosiolog
Popenoe (1983: 8-9), Spencer dan Inkeles (1982: 20), cakupannya dapat dibedakan menjadi
dua macam, yaitu: sosiologi makro, dan sosiologi mikro. Sosiologi makro menurut Popenoe
(1983:9) menuliskannya sebagai “…the study of the large-scale structures of society and how
they relate to one another”. Dengan demikian jelas dalam sosiologi makro tersebut berskala
luas struktur kajian masyarakatnya dan mempertanyakan bagaimana mereka berhubungan
satu sama lain.
Versi sosiologi makro ini menurut Sanderson, 1995: 3) adalah versi yang sangat riuh
dan sangat banyak menggunakan berbagai konsep, teori dan temuan dari dua ilmu sosial
yang berbeda yaitu antropologi dan sejarah. Selanjutnya Sanderson mengemukakan bahwa
berkaitan dengan luasnya kajian sosiologi makro, secara ringkas paling tidak terdapat enam
strategi teoretis, yakni:
1. Materialisme; mengasumsikan bahwa kondisi-kondisi material dari
eksistensi manusia ⎯ seperti tingkat teknologi, pola kehidupan ekonomi,
dan cirri-ciri lingkungan alamiah ⎯ merupakan penyebab yang menentukan
pengorganisasian masyarakat manusia dan berbagai perubahan penting
yang terjadi di dalamnya.
2. Idealisme; menegaskan signifikansi pikiran manusia dan kreasinya ⎯
pemikiran, gagasan, kode simbolik, bahasa, dan seterusnya ⎯ dalam
menentukan pengorganisasian masyarakat dan perubahan sosial.
3. Fungsionalisme; berusaha menjelaskan cirri-ciri dasar kehidupan manusia
sebagai respons terhadap kebutuhan dan permintaan masyarakat sebagai
sistem sosial yang pernah tetap. Mengasumsikan bahwa trait-trait sosial
yang ada memberikan kontribusi yang penting dalam mempertahankan
kehidupan dan kesejahteraan seluruh masyarakat atau subsistem utamanya.
4. Strategi konflik; memandang masyarakat sebagai arena di mana masingmasing
individu dan kelompok bertarung untuk memenuhi berbagai
kebutuhan dan keinginannya. Konflik dan pertentangan menimbulkan
dominasi dan subordinasi, kelompok yang dominan memanfaatkan
kekuasaan mereka untuk menentukan struktur masyarakat sehingga
menguntungkan bagi kelompok-kelompok mereka sendiri. Teori konflik
Marxian adalah teori konflik materialis dan menekankan pertentangan
kelas, sementara teori konflik Weberian lebih luas sifatnya dan menekankan
sifat multidimensional dari konflik dan dominasi.
5. Strategi evolusioner; memusatkan perhatian kepada upaya
mendeskripsikan dan menjelaskan transformasi sosial jangka panjang, yang
diasumsikan akan memperlihatkan arah transformasi untuk seluruh
perubahan dalam masyarakat manusia. Teori-teori fungsionalis evolusioner
memusatkan perhatian kepada kompleksitas masyarakat yang selalu
berkembang. Teori-teori evolusi materialis menekankan evolusi sosial yang
merespons terhadap kondisi-kondisi material yang berubah, dan bersikap
skeptis terhadap penyamaan evolusi dan kemajuan.
6. Strategi elektisisme; memberikan toleransi kepada semua sudut pandang
yang ada, yang dalam prakteknya berarti menggunakan bagian-bagian dari
setiap yang ada untuk menjelaskan banyak keadaan kehidupan sosial. Klaim
bahwa kenyataan tertentu harus dijelaskan dengan satu pendekatan, dan
kenyataan lainnya dengan pendekatan yang berbeda (Sanderson, 1995: 21-
22).
Sedangkan untuk kajian sosiologi mikro menurut Popenoe (1983:9), “… the study of
the individual as social being”, dalam arti lebih memfokuskan pada kajian individual sebagai
mahluk sosial. Sosiologi mikro tersebut menurut Douglas (1980) sering disebut sebagai “the
sosilogy of everyday life” yang bersifat mikro dalam keluarga khususnya. Sebagai contoh
27
aliran teori ini adalah kelompok teori interaksionisme yang nanti akan diuraikan pada kajian
berikutnya.
Walaupun sosiologi makro dan sosiologi mikro boleh jadi dihargai sebagai dua dua
sisi mata uang tunggal, sejumlah ciri memisahkannya. Para ahli sosiologi makro melihat atas
unit masyarakat yang besar-besar, seperti organisasi, institusi, masyarakat, dan negaranegara.
Mereka juga memperhatikan proses-proses sosial, seperti urbanisasi, dan sistem
kepercayaan, seperti kapitalisme dan sosialisme. Para ahli sosiologi makro memegang dasardasar
pendapat tertentu tentang tingkah laku manusia. Mereka memiliki perhatian bahwa
kelompok itu adalah "riil dalam diri mereka sendiri" dan tidak bisa direduksi menjadi
individu yang tersusun atas mereka.. Mereka cenderung untuk melihat perilaku individu
sebagai produk dari struktur sosial dan memaksa bahwa hal itu bukanlah kepunyaan
individu yang membuatnya. Pendapat seperti ini memperkecil pendapat berkemauan bebas
dan menekankan kuasaan masyarakat di atas pemikiran dan perilaku individu.
Berbeda dengan sosiologi mikro, ia melihat atas interaksi sosial individu dalam
kehidupan sehari-hari mereka (karenanya istilah "interaksionisme"). Sebab mereka
memandang tingkah laku manusia pada cakupan yang lebih dekat, para ahli sosiologi mikro
melihat orang-orang seperti lebih mempunyai kebebasan dalam tindakan ⎯ lebih bebas dari
batasan masyarakat ⎯ daripada yang dilakukan para ahli sosiologi makro. Dengan kata lain,
sosiologi mikro tidak melihat masyarakat sebagai yang mengendalikan kekuatannya. Mereka
menekankan bahwa orang-orang itu selalu sedang dalam proses menciptakan dan mengubah
dunia sosial mereka. Lebih dari itu, mereka adalah seperti tertarik akan orang-orang yang
berpikir dan merasakan seperti bagaimana mereka bertindak. Para ahli sosiologi mikro
menyelidiki motif-motif, harapan-harapannya, dan tujuan mereka, serta cara mereka
menyikapi dan merasakan dunia itu..
Metoda riset sosiologi makro dan sosiologi mikro juga sangat berbeda. Sebab mereka
tertarik akan pikiran dan perasaan orang-orang, sosiologi mikro sering menggunakan
metode "kualitatif". Metode ini adalah untuk mendisain dan mengamati orang-orang dalam
situasi yang naturalistick Sedangkan sosiologi makro menjadi lebih memungkinkan untuk
menggunakan metode 'kwantitatif', seperti halnya secara hati-hati dikontrol kajian stastistik
Kita dapat mengilustrasikan fokus sosiologi mikro dengan pergi kembali ke contoh
kampus perguruan tinggi kita.. Bukannya memandang kampus itu dalam kaitannya dengan
tindakan kooperasi maupun konflik, para ahli sosiologi mikro akan memusatkan pada
pertanyaan-pertanyaan; bagaimana para mahasiswa tingkat pertama merasakan kampus itu
ketika mereka pertama tiba, apa yang perguruan tinggi lakukan kepada para mahasiswa, dan
bagaimana interaksi mengembangkan interaksi sosial di asramanya. Hal itu para ahli
sosiologi mikro tidak demikian banyak terkait dengan tindakan dan organisasi kampus
seperti halnya dengan bagaimana kampus dipandang oleh para mahasiswanya, staf pengajar
dan para administratifnya. Para ahli sosiologi mikro tidak berasumsi bahwa suatu kampus
adalah sesuatu organisasi tertentu untuk para anggotanya harus menyesuaikan perilaku
mereka sendiri. Melainkan, mereka melihat organisasi kampus itu sebagai sesuatu yang
meningkatkan dan mengubah melalui interaksi peserta.
Walaupun ada perbedaan penting antara sosiologi makro dan mikro, banyak sarjana
sosiologi sekarang ini sedang berusaha untuk kembang;kan suatu ikatan lebih kokoh di
antara mereka (Collins, 1981). Ketika kita katakan, mereka sungguh dua sisi mata uang yang
sama. Organisasi sosial makro mengembangkannya ke luar dari interaksi orang-orang dalam
situasi mikro. Tetapi dan hal ini adalah sama-sama benar, tiap-tiap situasi sosial ⎯ seperti
kampus suatu perguruan tinggi ⎯ adalah siap diorganisir oleh orang-orang yang sudah
memiliki hubungan dalam masa lalu. Para mahasiswa yang baru tiba di kampus menemukan
suatu struktur keberadaan sosial dalam hal mana mereka harus cocok atau hidup rukun
dengan mereka.
Penataan dan konflik antara sosiologi makro dan mikro; hal ini bukan sama sekali
satu-satunya divisi dalam pemikiran sosiologi. Tetapi mereka harus menunjukkan bahwa
sosiologi bukanlah suatu pengejaran akademis semata-mata yang menutup diri dan sangat
terstruktur. Sosiologi malahan sesuatu hal penting, penuh semangat dan amat berani
28
berusaha yang ada bahwa mencoba untuk "betul-betul mendalam" tentang pengalaman
manusia.
Bagaimanapun, hal semacam itu adalah selayaknya bagi mahasiswa untuk bertanya:
Apa sih yang merupakan kegunaan dari semua aktivitas mental itu? Bagaimana cara
sosiologi menerapkan kehidupan untuk suatu masyarakat dan kehidupan saya sendiri?.
Bagaimana saya dapat menggunakan semuanya itu dari informasi dan pengertian tentang
kondisi manusia?
Sedangkan untuk memudahkan pemahaman dalam mengklasifikasi pelbagai
tingkatan dalam kenyataan sosial, menurut Johnson (1986: 61-62) dapat dibedakan menjadi
4 (empat) tingkatan, sebagai berikut: tingkat budaya, individu, interpersonal, dan struktur
sosial.
1. Tingkat Budaya
Sebagaimana dikemukakan oleh Edward B. Tylor, kebudayaan merupakan
“keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni moral, hukum,
kebisaaan, dan kemampuan-kemapuan serta tata-cara lainnya yang diperoleh manusia
sebagai seorang anggota masyarakat (Tylor, 1942: 1). Dengan demikian fokus kajiannya
meliputi nilai, simbol, norma, dan pandangan hidup umumnya yang dimiliki bersama oleh
suatu masyarakat. Sehingga dalam arti luas kebudayaan terdiri atas produk-produk tindakan
dan interaksi manusia, termasuk benda-benda materi maupun non-materi.
Aspek materialistis dari kebudayaan secara implisit terdapat dalam teori Auguste
Comte, pendiri ilmu sosiologi dari Prancis, maupun Pitirim Sorokin ahli sosiologi dari Rusia.
Pandangan Comte mengenai transisi dari masyarakat militer ke industri, sudah jelas
mengandung implikasi perubahan dalam kebudayaan materil. Terutama munculnya
industrialisme yang sangat tergantung pada kemajuan teknologi, dan kemajuan teknologi
mencerminkan perubahan dalam kebudayaan materil. Sorokin juga menyinggung kemajuan
teknologi dan melimpahnya materi secara meningkat pesat; dia melihat perkembangan ini
sebagai suatu manifestasi mentalitas inderawi (Johnson, 1986: 110-111; Soekanto, 1984: 98-
99). Tetapi Sorokin umumnya memandang bahwa kebudayaan sebagai wahana perwujudan
mentalitas budaya non-materil (immateri). Hal ini berarti bahwa analisis tentang
kebudayaan materil harus berkisar pada arti-arti budaya yang disimbolkan atau diwujudkan
dalam bentuk-bentuk materil. Pendekatan semacam ini memang cocok untuk memahami
karya-karya seni maupun arsitektur. Walaupun di samping kenyataan bahwa kebudayaan
materil tidak disangkal, Comte dan Sorokin jelas melihatnya bahwa kebudayaan sebagai
sesuatu yang bergantung pada kebudayaan non-materil.
Di sinilah William F. Ogburn, seorang ahli sosiologi Amerika Serikat yang
menghabiskan sebagian besar hidup akademisnya di Universitas Chicago
mempermasalahkan hakikat perubahan sosial dan kebudayaan. Kebanyakan hasil karyanya
mengemukakan suatu kritik terhadap teori-teori mengenai sebab tunggal terjadinya
perubahan khususnya yang terjadi pada abad ke-20, yang dianggapnya terlalu
menyederhanakan dan bersifat umum. Sumbangan yang paling terkenal terhadap bidang ini
adalah konsepnya tentang “ketinggalan budaya” atau cultural lag. Konsep ini mengacu
kepada kecenderungan dari kebisaaan-kebisaaan sosial dan pola-pola organisasi sosial yang
tertinggal di belakang (lag behind) perubahan-perubahan dalam kebudayaan materil.
Akibatnya adalah bahwa perubahan sosial selalu ditandai oleh ketegangan antara
kebudayaan materil dan non-materil (Ogburn, 1964: 119-280).
Jika ditilik lebih jauh, jelas hal ini bertentangan dengan Comte maupun Sorkin, sebab
bagi Ogburn sisi yang paling penting dari perubahan sosial adalah kemajuan dalam
kebudayaan materil, termasuk penemuan-penemuan dan perkembangan teknologi.
Sedangkan bagi Comte dan Sorokin, menekankan perubahan dalam bentuk-bentuk
pengetahuan atau pandangan dunia sebagai rangsangan utama untuk perubahan sosial, di
mana perubahan dalam kebudayaan materil mencerminkan perubahan dalam aspek-aspek
budaya non-materil.
Selain itu juga Ogburn memiliki perbedaan dari Comte dan Sorokin dalam definisi
pokok tentang kebudayaan. Seperti yang dikemukakan Martindale (1960: 62-65), bahwa
Comte dan Sorokin memiliki konsep budaya yang bersifat organismis. Artinya bahwa mereka
29
menekankan kesatuan organis dari gejala budaya dan pengertian bahwa tingkat sosio-budaya
harus dianalisis secara terpisah dari tingkat individu. Sedangkan Ogburn yang menggunakan
pendekatan perilakubahwa produk-poduk materil merupakan hasil dari kegiatan manusia,
yang merupakan kumpulan kebisaaan-kebisaaan serta pola-pola institusional yang
merupakan bagian dari warisan sosial yang diturunkan. Dengan demikian menurut
Martindale (1960: 324-327), Ogburn dapat dikategorikan sebagai wakil behaviorisme
pluralis. Aliran ini memiliki banyak pendekatan khusus yang berbeda, tetapi pengertian
pokoknya bahwa kenyataan sosial pada dasarnya terdiri atas pola-pola perilaku individu
yang nyata dan konsekuensi-konsekuensinya.
2. Tingkat Individual
Pada tingkatan ini menempatkan individu sebagai pusat perhatian untuk analisis
utamanya. Sebagai contoh adalah Max Weber (1864-1920) seorang sosiolog Jerman yang
dilahirkan di Erfurt dan dibesarkan di Berlin. Weber sangat tertarik pada masalah-masalah
sosiologis yang luas mengenai struktur sosial dan kebudayaan, tetapi di melihat bahwa
kenyataan sosial secara mendasar terdiri atas individu-individu dan tindakan-tindakan
sosialnya yang bermakna. Weber mendefinisikan sosiologi sebagai:
… suatu ilmu pengetahuan yang berusaha memperoleh pemahaman
interpretatif mengenai tindakan sosial agar dengan demikian bisa sampai ke
suatu penjelasan kausal mengenai arah dan akibat-akibatnya. Dengan
“tindakan” dimaksudkan semua perilaku manusia, apabila atau sepanjang
individu yang bertindak itu memberikan arti subyektif kepada tindakan
itu… Tindakan itu disebut sosial karena arti subyektif tadi dihubungkan
dengannya oleh individu yang bertindak, …. Mempengaruhi perilaku orang
lain dan karena itu diarahkan ke tujuannya (Parson, 1964: 5).
Penjelasan dan tekanan pendirian Weber tersebut berbeda dengan dengan pendirian
Durkheim yang mengemukakan bahwa sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari fakta
sosial yang bersifat eksternal, memaksa individu, dan bahwa fakta sosial harus dijelaskan
dengan fakta sosial lainnya. Dalam hal ini Durkheim melihat kenyataan ssosial sebagai
sesuatu yang mengatasi individu, berada pada suatu tingkat yang bebas; sedangkan Weber
melihat bahwa kenyataan sosial sebagai sesuatu yang didasarkan pada motivasi individu dan
tindakan-tindakan sosial.
Adanya perbedaan pandangan anatar Weber dan Durkheim tersebut dapat dipahami
karena dilihat dari perspektif kenyataan sosial yang berlawanan. Dalam pandangan Weber
yang berhubungan dengan posisi nominalis, ia melihatnya bahwa hanya individu-individulah
yang riil secara obyektif dan bahwa masyarakat hanyalah satu nama yang menunjuk pada
sekumpulan individu-individu. Begitu juga tentang konsep struktur sosial atau tipe-tipe fakta
sosial lainnya yang lebih dari inidividu dan perilakunya serta transaksinya dianggap sebagai
suatu abstraksi spekulatif tanpa suatu dasar apapun dalam dunia empiris. Pandangan seperti
ini sejalan dengan pandangan individualistik mengenai struktur sosial. Individualisme yang
dianaut kaum ekonomi politik di Inggris serta utilitarianisme dapat dilihat sebagai contoh
nyata. Dalam pandangan mereka bahwa masyarakat dan institusi sosial merupakan hasil dari
persetujuan kontraktual antara individu-individu yang mereka sepakati.
Sedangkan Durkheim yang memiliki posisi umumnya berhubungan dengan realisme
sosial, masyarakat dilihatnya sebagai sesuatu yang riil, berada secara terlepas dari individuindividu
yang termasuk di dalamnya dan bekerja menurut prinsip-prinsipnya sendiri yang
khas, dan tidak harus mencerminkan maksud-maksud individu yang disadarinya. Posisi
realis itu tercermin dalam berbagai teori organik mengenai masyarakat. Ia
mengibaratkannya masyarakat itu dengan organisme biologis dalam pengertian bahwa
masyarakat itu merupakan suatu yang lebih daripada sekedar jumlah bagian-bagiannya
(Johnson, 1986: 214).
Perbedaan penting lainnya antara Durkheim dan Weber adalah pandangannya
mengenai proses-proses subjektif. Pandangan Durkheim ditekankan pada fakta sosial
sebagai benda mencerminkan suatu usaha bersifat objektif dan berlandaskan pada
kenyataan. Oleh karena itu juga untuk menghilangkan orientasi subjektif dari analisisnya ia
30
meneliti sebanyak mungkin. Sebaliknya arti subjektif merupakan hal yang penting dalam
definisi yang dikembangkan Weber. Namun demikian Weber juga bertekad untuk memiliki
sikap ilmiah seperti Durkheim, hanya saja arti subjektif yang berhubungan dengan pelbagai
“kategori interaksi manusia” untuk menggunakannya dalam membedakan antara tipe-tipe
struktur sosial serta untuk memahami arah perubahan sosial yang besar dalam masyarakat.
Jika kemudian ada pertanyaan; mengapa Weber menekankan individu dalam arti
subyektif ? Untuk menjawab pertanyaan ini perlu diingat latar belakang intelektual Weber, di
mana ia hidup sangat dipengaruhi leh idealisme dan historisme. Tekanan ini misalnya bahwa
dinyatakan dalam pandangan Hegel bahwa roh akal budi yang bersifat universal sedang
direalisasikan terus-menerus dalam kemajuan sejarah (Hegel, 1970). Pandangan serupa
harus berpusat pada dunia budaya, pada ide-ide, nilai-nilai, dan realisasi kemajuan dalam
sejarah.
Perlu diketahui bahwa dunia budaya tidaklah dipandang sebagai sesuatu yang sesuai
dengan pemahaman yang dimengerti menurut hukum-hukum ilmu alam saja yang memiliki
hubungan kausal. Kenyataannya dunia budaya dilihatnya sebagai sesuatu dunia kebebasan
dan dalam hubungannya dengan pengalaman serta pemahaman internal di mana arti-arti
subjekti itu ditangkap. Pengetahuan objektif melulu tentang tipe yang dicari dalam ilmu-ilmu
alam tidaklah cukup. Pandangan yang menempatkan ilmu sosial-budaya itu bersifat serba
relatif dikembangkan oleh pembimbing Weber, seorang sejarawan budaya yang bernama
Wilhelm Dilthey. Pengaruh tokoh filsuf historisme tersebut demikian kuat pada pribadi
Weber. Dengan demikian wajar jika terdapat perbedaan mendasar jika dibanding Durkheim
yang dipengaruhu Comte bersifat positivistik.
3. Tingkat Interpersonal
Kenyataan sosial pada tingkat ini meliputi interaksi antara individu dengan individu
maupun dengan dengan kelompok, dalam arti yang berhubungan dengan komunikasi
simbolis, penyesuaian timbal-balik, negosiasi tindakan yang saling tergantung, kerjasama
maupun konflik. Dua perspektif teoretis utama yang menekankan tingkatan ini adalah teori
interaksinisme simbolik dan teori pertukaran (Johnson, 1986: 61; Zeitlin, 1995: 331).
Ide bahwa kenyataan sosial muncul melalui proses interaksi adalah penting untuk
disimak kembali. Olek karena itu dalam hal ini teori interaksi simbol sama dengan tekanan
Georg Simmel pada bentuk-bentuk interaksi. Namun teori interaksi simbol jauh lebih dalam
daripada bentuk-bentuk interaksi nyata menurut Simmel tersebut. George Herbert Mead
yang merintis teori interaksi simbolik tersebut, pada dasarnya teori tersebut berhubungan
dengan media simbol, dimana kemampuan manusia sanga tinggi untuk menciptakan dan
memanipulasi simbol-simbol.
Kemampuan tersebut sangat diperlukan untuk berkomunikasi antar pribadi dan
pemikiran-pemikiran subjektif lainnya. Di sinilah penekanan para ahli teori interaksi simbol
menegaskan bahwa kenyataan sosial yang muncul dari interaksi dilihatnya sebagai suatu
kenyataan yang dibangun dan bersifat simbolik (Johnson, 1986: 4: Zeitlin, 1995: 332).
Perhatian interaksionisme simbolik terhadap dimensi subyektif serupa dengan tekanan
Weber pada pemahaman arti subyektif dari tindakan sosial individu. Namun, teori interaksi
simbol tidak melihat tingkat subjektif seperti dalam pandangan Weber, dan juga tidak
didasarkan pada perspektifnya secara eksplisit. Jika Weber bergerak lebih jauh melebihi
analisis tindakan-tindakan individu dan arti-arti subjektif untuk melihat pola-pola
perubahan institusional serta budaya secara luas, sedangkan dalam interaksionisme simbolik
seperti Simmel, yaitu memusatkan perhatiannya pada tingkat interaksi antar pribadi secara
mikro. Tetapi dapat juga interaksi simbol diperluas menjangkau tingkat makro. Yaitu
menjangkau ke sifat institusi-institusi yang besar ke semua institusi sosial yang
dikonstruksikan. Artinya dapat berpijak pada definisi-definisi subjektif bersama yang
dikembangkan melalui interaksi, walaupun teori-teori tersebut kurang umum dan lebih
banyak pada tingkat mikro atau individu.
Pandangan Mead, perspektifnya merupakan behaviorisme sosial, yang merupakan
perluasan dari behaviorisme Watson. Dalam usaha menegakkan psikologi sebagai suatu
dasar yang ilmiah dan kokoh, Watson secara tekun memusatkan perhatiannya pada perilaku
31
nyata (overt behavior) yang dapat diukur, melalui gerak-gerak reflek yang dipelajari atau
yang sudah menjadi kebisaaan. Namun dalam pandangan Mead penelitian Watson tersebut
tidaklah lengkap. Mead tidak sependapat jika penelaahan perilaku manusia hanya berupa
stimulus response, atau gerak-gerak refleks yang dipelajari dan hal itu menurutnya adalah
dangkal. Mead mengakui betapa petingnya kesadaran subjektif atau proses-proses mental
yang tidak langsung tunduk pada pengukuran empiris objektif. Tetapi juga dia menolak
pandangan kaum idealis bahwa proses mental subjektif itu berada pada tingkat kenyataan
yang secara kualitatif berbeda dari hakikat biologis atau proses-proses fisiologis. Jadi
menurut Mead kaum idealisme telah gagal menjelaskan dengan tepat proses-proses di mana
dunia luar masuk ke dalam kesadaran subyektif individu (Johnson, 1986: 10).
Dalam hal ini posisi Mead berada bahwa persepsi tentang dunia luar, proses-proses
fisiologis, dan kesadaran subyektif semuanya sangat saling bergantung. Mead berpendapat
bahwa pikiran merupakan suatu proses; dengan proses itu individu menyesuaikan dirinya
dengan lingkungannya. Pikiran atau kesadaran muncul dalam proses tindakan. Namun
demikian, individu-individu tidak bertindak sebagai organisme yang terasing. Sebaliknya
tindakan-tindakan mereka saling berhubungan dan saling tergantung. Proses komunikasi
dan interaksi di mana individu-individu saling mempengaruhi, saling menyesuaikan diri.
Komunikasi terbuka (overt) berpikir yang tidak dapat dilihat (covert thinking) adalah seperti
dua sisi mata uang yang sama. Dalam pandangan Mead, kelompok idealis dan behaviorisme
mengabaikan dimensi sosial seperti ini. Mead berpendapat bahwa adaptasi terhadap dunia
luar dihubungkan melalui proses komunikasi, yang berlawanan dengan hanya sekedar
response yang bersifat refleksif dari organisme itu terhadap rangsangan dari lingkungan.
Karena alasan inilah Mead berpendapat bahwa posisinya adalah behaviorisme sosial.
Sedangkan pada teori pertukaran yang dikembangkan oleh George Homans yang
mendapat pendidikan di universitas Harvard ia tidak sepenuhnya setuju dengan pandangan
fungsional yakni hanya sekedar memen uhi kebutuhan tertentu saja. Bagi Homans, polapola
pertukara n harus dianalisis menurut motif-motif dan perasaan-perasaan mereka yang
terlibat dalam transaksi itu (Homans, 1962: 22-35). Ada tiga konsep utama yang digunakan
Homans untuk menggambarkan kelompok kecil, adalah: (1) kegiatan, (2) interaksi, (3)
perasaan (sentiment). Kegiatan adalah perilaku aktual yang digambarkan pada tingkat yang
sangat konkret. Individu-individu dan kelompok-kelompok dapat dibandingkan menurut
persamaan dan perbedaan dalam kegiatan-kegiatan mereka, dan dalam tingkat penampilan
dari pelbagai kegiatan itu. Interaksi adalah kegiatan apa saja yang merangsang atau
dirangsang oleh kegiatan orang lain. Individu-individu atau kelompok dapat dibandingkan
menurut frekuensi interaksi, menurut siapa yang mulai interaksi dengan siapa, menurut
saluran-saluran di mana interaksi itu terjadi. Sedangkan perasaan, adalah tidak hanya
didefinisikan sebagai suatu keadaan subjektif (kebisaaan penafsiran atas akal sehat), tetapi
sebagai suatu sebagai tanda bersifat eksternal atau yang bersifat perilaku yang menunjukkan
suatu keadaan internal (seperti kelelahan, kelaparan, reaksi positif atau negatif terhadap
suatu peristiwa, dan sebagainya.
Ketiga elemen ini (kegiatan, interaksi, perasaan) membentuk suatu keseluruhan yang
terorganisasi dan berhubunganb secara timbal-balik (Homans, 1962: 87). Artinya kegiatan
akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pola-pola interaksi dan perasaan-perasaan:
interaksi akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kegiatan dan perasaan, dan perasaan
akan berhubungan timbal-balik dengan kegiatan dan interaksi. Jika salah satu berubah,
maka kedua lainnya akan mungkin berubah.
Selain itu Homans membangun teori pertukarannya pada landasan konsep-konsep
dan prinsip-prinsip yang diambil dari psikologi perilaku (bahavioral Psychology) dan
ekonomi dasar (basic economy). Dari psikologi perilaku diambil suatu gambaran mengenai
perilaku manusia yang dibentuk oleh hal-hal yang memperkuat dukungan yang berbedabeda.
Homans memberi catatan singkat mengenai eksperimen dalam laboratorium Skinner
dengan menggunakan burung-burung dara dalam suatu operant conditioning. Dia
berpendapat bahwa perilaku mematuk yang serampangan, lama kelamaan dapat dibentuk
dengan memberikan pada burung itu segenggam padi secara rutin hingga frekuensi
mematuk itu makin bertambah. Penemuan dari eksperimen dengan burung digunakan oleh
Homans untuk melihat perilaku sosial manusia dalam kehidupannya yang real. Dalam
32
konteks ini, manusia memberikan dukungan yang positif atau negatif terhadap satu sama
lain dalam proses interaksi, di mana mereka saling membentuk perilakunya.
Sedangkan dari dari ekonomi dasar (basicc economy), Homans mengambil konsepkonsep
seperti biaya (cost), imbalan (reward), dan keuntungan (profit). Gambaran dasar
mengenai perilaku manusia yang diberikan oleh ilmu ekonomi adalah serupa dengan
pendapat ekonom Samuelson dan Nordhaus (1990: 5) bahwa manusia terus-menerus terlibat
dalam memilih di antara perilaku-perilaku alternatif, dengan pilihan yang mencerminkan
cost and reward maupun profit yang diharapkan yang berhubungan dengan garis-garis
perilaku alternatif itu (Sa
4. Tingkat Struktur Sosial
Jika dibanding dengan sebelumnya, tingkatan struktur sosial ini jauh lebih abstrak.
Perhatiannya bukan pada individu-individu maupun tindakan-tindakan serta interaksi
sosial, melainkan pada pola-pola tindakan dan jaringan-jaringan interaksi yang disimpulkan
dari pengamatan terhadap keteraturan dan keseragaman yang terdapat dalam waktu dan
ruang tertentu. Tekanannya terletak pada struktur-struktur sosial yang kecil maupun besar.
Dua aliran utama yang berhubungan dengan tingkatan ini adalah teori fungsional dan teori
konflik.
Teori fungsional ini diantaranya yang terkenal digagas oleh Talcott Parson yang
dilahirkan tahun 1902 di Kolese Amherst. Karya Parsons mula-mula dimaksudkan untuk
mengembangkan suatu model tindakan sosial yang bersifat voluntaristik yang didasarkan
pada sintesisnya dari teori Marshall, Pareto, Durkheim, dan Weber. Pada dasarnya merekamereka
ini sudah menegakkan landasan untuk mendamaikan pandangan-pandangan yang
bertentangan antara positivisme dengan idealisme. Suatu prinsip utama dalam teori Parsons
tersebut bahwa tindakan sosial itu diarahkan pada tujuannya yang normatif. Teori ini
berasumsi bahwa; (1) masyarakat dilihatnya sebagai suatu sistem, dan bukannya elemenelemen
yang tidak terintegrasikan; (2) Walaupn integrasi bangsa yang sempurna tidak akan
tercapai, namun secara fundamental sistemsosial selalu cenderung bergerak ke arah
equilibrium yang bersifat dinamis. Kemudian Parsons dan kawan-kawanya memperluas
strategi analisis fungsionalisnya sehingga dapat diterapkan pada sistem sosial mikro maupun
makro. Hasilnya adalah model A-G-I-L (Adaptation-Goal-Integration-Latent Pattern
Maintenace). Singkatnya model ini menunjuk pada kebutuhan persyaratan-persyaratan
penyesuaian fungsional, pencapaian tujuan, integrasi, dan latent pattern maintenance.
Secara keseluruhan sistem sosial dilihatnya berada di bawah kontrol nilai dan norma budaya,
dengan energi dasar yang dinyatakan dalam tindakan yang keluar dari sistem organisme
(Zeitlin, 1995: 27-33).
Fokus dalam teori fungsional Parsons tersebut adalah pada mekanisme yang
meningkatkan stabilitas dan keteraturan dalam sistem sosial, terutama menyangkut konsep
keseimbangan sosial yakni kelangsungan pola-popa sosial, bukanlah sesuatu yang sulit dan
problematis dan tidak membutuhkan penjelasan. Akhirnya Parsons mengalihkan
perhatiannya pada suatu analisis mengenai perubahan historis yang besar dengan
mengembangkan suatu model evolusi yang sangat menekankan proses diferensiasi
struktural. Perubahan yang teratur dan normatif tersebut yang menjamin kemajuan sosial
selanjutnya.
Sedangkan dalam teori konflik, bukanlah suatu teori yang terpadu ataupun
komprehensif. Mungkin karena alasan inilah teori konflik kedengarannya kurang begitu
cocok untuk diangkat sejajar dengan teori-teori sosilogi lainnya. Fokus kajiannya adalah
mengenal dan menganalisis kehadiran konflik dalam kehidupan sosial, sebab dan bentuknya,
serta akibatnya dalam perubahan sosial. Namun sejak tahun 1950-an teori konflik menjadi
populer sebagai oposisi terhadap teori Parsons atau fungsional yang dianggap berat sebelah
pada konsensus nilai, integrasi, dan solidaritas. Lockwood (1973: 284) menganggap
pendekatan Parsons itu terlalu bersifat normatif, padahal dalam sistem sosial tidak hanya
tertib normatif, tetapi juga substratum yang melahirkan konflik-konflik. Keduanya saling
berpadu bergantian antara stabilitas dan instabilitas. Setiap struktur sosial apapun akan
memiliki kontradiksi-kontradiksi, konflik-konflik, bahkan kondisi seperti ini mejadi sumber
perubahan maupun visious circle atau “lingkaran yang merekat”. Begitu juga perubahan
33
sosial tidak selalu berjalan secara gradual, tetapi bisa juga revolusioner (van den Berghe,
1967: 297; Supardan, 2004: 44).
Pengabaian kenyataan-kenyataan di atas pendekatan fungsional dapat dipandang
sebagai pendekatan reaksioner, dan mengabaikan realita sosial yang sebenarnya. Di sinilah
teori konflik mengusung beberapa asumsi yang dikembangkannya, antara lain: (1) Setiap
masyarakat senantiasa berada di dalam proses perubahan yang tidak pernah berakhir,
dengan perkataan lain perubahan sosial merupakan gejala yang merekat pada setiap
masyarakat; (2) Setiap masyarakat mengandung konflik-konflik di dalam dirinya, atau
dengan perkataan lain konflik adalah gejala yang melekat pada masyarakat (Supardan, 2004:
45).
Suka ataupun tidak, di sinilah keunggulan teori Marx, terutama adalah pengakuan
akan adanya struktur kelas dalam masyarakat, kepentingan ekonomi yang saling
bertentangan di antara orang-orang dalam berbeda kelas. Para ahli teori konflik mengakui
kebesaran Marx sebagai pionir dan mewariskan teori ini. Hanya saja Ralf Dahrendorf, Lewis
Coser, dan Randall Collins, yang dikenal pendukung teori konflik non-Marxis, memiliki
pandangan yang berbeda. Dahrendorf seorang sosiolog Jerman sejak menerbitkan karya
besarnya Class and Class Conflict in Industrial Society, menekankan kepentingankepentingan
yang saling berkonflik itu melekat dalam hubungan apa saja antara mereka yang
menggunakan otoritas sehingga mereka tunduk terhadapnya. Dahrendorf tidak hanya
membatasi pada konflik yang disebabkan oleh faktor ekonomi, melinkan lebih luas yang
menyangkut otoritas pada semua bidang kehidupan (Dahrendorf, 1959: 165-173). Sebab
mereka yang menggunakan otoritas dan mereka yang tunduk padanya, pasti memiliki
kepentingan yang saling bertentangan. Kepentingan kelas yang berkuasa antara lain
mempertahankan legitimasi posisinya yang dominan, atau dengan kata lain
mempertahankan status quo. Kepentingan kelas bawah adalah menentang legitimasi
struktur otoritas yang ada baik itu yang objektif namun tidak disadari yang disebut latent
interests maupun kepentingan yang disadari dan dikejar sebagai tujuan atau manifest
interests (Johnson, 1986b: 185).
Begitu juga Coser, seorang profesor sosiologi di Universitas Negeri New York dan
Stony Brook yang menulis The Function of Social Conflict, ia menekankan bahwa konflik
sosial sebagai suatu alternatif terhadap perspektif-perspektif teori konflik radikal yang
diinpirasi pandangan Marxis. Baginya konflik-konflik eksternal (out-group) dapat
memperkuat kekompakan dan solidaritas internal (in-group) yang dapat meningkatkan
moral kelompok sedemikian rupa (Coser, 1956: 62).
Pendapat penting dari tokoh teori konflik non-Marxist lainnya, dikemukakan oleh
Collins dalam karyanya Conflict Sociology: Toward an Explanatory Science. Sesungguhnya
model konfliknya ini lebih koprehensif dari sebelumnya, karena kajian dia tidak hanya
membatasi pada konflik ekonomi maupun konflik organisasi birokrasi. Modelnya ini dapat
diterapkan pada bidang-bidang institusional apa saja seperti; keluarga, organisasi agama,
komunitas inteletual-ilmiah, politik, dan militer. Beberapa pernyataannya yang terkenal
adalah: “Terciptanya solidaritas emosional tidak menggantikan konflik, melainkan
merupakan salah satu alat utama yang digunakan dalam konflik. Upacara-upacara emosional
dapat digunakan untuk dominasi dalam suatu kelompok atau organisasi; upacara-upacara
itu merupakan wahana dengan persekutuan dibentuk dalam perjuangan melawan kelompokkelompok
lain; dan upacara-upaca itu dapat digunakan untuk menentukan hierarki prestise
status di mana beberapa kelompok mendominasi kelompok lainnya dengan memberikan
sesuatu yang ideal untuk menyamai kondisi-kondisi orang bawahan itu” (Collins, 1975: 58-
59).
Jika ditilik lebih jauh, jelas hal ini bertentangan dengan Comte maupun Sorkin, sebab
bagi Ogburn sisi yang paling penting dari perubahan sosial adalah kemajuan dalam
kebudayaan materil, termasuk penemuan-penemuan dan perkembangan teknologi.
Sedangkan bagi Comte dan Sorokin, menekankan perubahan dalam bentuk-bentuk
pengetahuan atau pandangan dunia sebagai rangsangan utama untuk perubahan sosial, di
mana perubahan dalam kebudayaan materil mencerminkan perubahan dalam aspek-aspek
budaya non-materil.
34
Selain itu juga Ogburn memiliki perbedaan dari Comte dan Sorokin dalam definisi
pokok tentang kebudayaan. Seperti yang dikemukakan Martindale (1960: 62-65), bahwa
Comte dan Sorokin memiliki konsep budaya yang bersifat organismis. Artinya bahwa mereka
menekankan kesatuan organis dari gejala budaya dan pengertian bahwa tingkat sosio-budaya
harus dianalisis secara terpisah dari tingkat individu. Sedangkan Ogburn yang menggunakan
pendekatan perilakubahwa produk-poduk materil merupakan hasil dari kegiatan manusia,
yang merupakan kumpulan kebisaaan-kebisaaan serta pola-pola institusional yang
merupakan bagian dari warisan sosial yang diturunkan. Dengan demikian menurut
Martindale (1960: 324-327), Ogburn dapat dikategorikan sebagai wakil behaviorisme
pluralis. Aliran ini memiliki banyak pendekatan khusus yang berbeda, tetapi pengertian
pokoknya bahwa kenyataan sosial pada dasarnya terdiri atas pola-pola perilaku individu
yang nyata dan konsekuensi-konsekuensinya.
Kemudian jika ditinjau dari perspektif dominan dalam sosiologi, menurut Metta
Spencer dan Alex Inkeles (1982: 13-17) dapat dibedakan menjadi model; strukturalfungsinal,
konflik, interaksionisme-simbolik, dan ethnomethodologi.
a. Model Struktural-Fungsional
Masyarakat manusia sering dibandingkan dengan suatu organisme raksasa yang
terdiri dari banyak struktur, semuanya berfungsi secara bersama-sama untuk memelihara
keseluruhan sistem. Sama halnya dengan kita yang hidup, maka, paru-paru, ginjal, dan organ
lain organ berfungsi untuk memelihara tubuh itu. Mengikuti model ini, jika anda ingin
memahami struktur apapun dapat dilihat dalam komponen-komponen yang ada pada
masyarakat, anda harus menemukan fungsi-fungsinya dalam masyarakat. Dua konsep terkait
ini yakni , struktur dan fungsi, telah digunakan oleh Spencer dan Durkheim dan menjadi
penting peranannya sosiolog Amerika terutama pengaruh Talcott Parsons. Kini telah
melahirkan apa yang saat kini diketahui sebagai model sociology⎯ atau strukturalfungsional,
yang sering dengan singkat, functionalisme, adalah kepercayaan yang suatu pola
sosial adalah hal terbaik untuk dipahami dalam kaitan dengan fungsinya dalam masyarakat
yang ditentukan.
b. Model Konflik
Menurut ahli teori konflik, ahli fungsionalis sedang mendukung status quo dengan
menguraikan masyarakat seolah-olah adalah dalam keadaan yang terbaik sama dengan yang
diharapkan. Dalam arti perubahan tidaklah selalu berjalan secara normatif. Sebaliknya
dalam setiap masyarakat apapun, konflik senantiasa ada dalam masyarakat, dan konflik
merupakan bagian integral dalam dinamika kehidupan, serta tidak selalu negatif.
Para ahli teori konflik mengatakan bahwa pertanyaan yang sungguh-sungguh penting
dalam tiap-tiap masyarakat berhubungan dengan isu ini: Siapakah mendominasi, dan
mendominasi siapa? Kelompok yang mana yg di atas dan bagaimana cara mereka
memelihara agar tetap berada di atas? Ahli teori konflik berasumsi bahwa sangat sedikit pola
sosial yang bertahan ada, sebab mereka itu berada dalam suatu sistem yang tidak statis.
Sebagai implikasinya, mereka berasumsi bahwa kapan saja suatu keuntungan kelompok,
suatu kelompok yang berbeda besar kemungkinan akan mnguasai kelompok lain.
Walaupun sebagian besar para ahli teori konflik mengakui betapa besar pengaruh
Karl Marx dalam teori konflik tersebut, namun juga tidak sedikit peranan ahli teori konflok
non-Marxis lainnya seperti Georg Simmel (teori superordinasi dan subordinasi, maupun
konlik dengan out-group), Ralf Dahrendorf (teori otoritas dan konflik sosial, maupun teori
kepentingan laten dan manifest), Lewis Coser (tentang fungsi-fungsi konflik dan macam
konflik realistik dan non-realistik), maupun Randal Collins (teori konflik makro dan mikro).
c. Model Interaksionisme Simbolik
Istilah interaktionisme simbolis diciptakan oleh Herbert Blumer, figur yang
terkemuka dalam mempromosikan modelnya sejak 1930-an (Spencer dan Inkeles, 1982: 16).
Hal ini mengacu pada macam sosiologi mikro yang sumbernya di Sekolah Chicago, seperti
yang dibahas sebelumnya. Tokoh lainnya adalah George Herbert Mead, yang mengatakan
35
bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk berinteraksi dengan pihak-pihak lain,
dengan perantaraan lambang-lambang tertentu yang dipunyai bersama. Dengan perantaraan
lambang-lambang tersebut, maka manusia memberikan arti pada kegiatan-kegiatannya.
Mereka dapat menafsirkan keadaan dan perilaku dengan mempergunakan lambang-lambang
tersebut. Manusia juga membentuk perspektif-perspektif tertentu, melalui suatu proses
sosial di mana mereka memberi rumusan hal-hal tertentu, bagi pihak-pihak lainnya.
Selanjutnya mereka berperilaku menurut hal-hal yang diartikan secara sosial.
Mead menyatakan bahwa lambang-lambang, terutama bahasa, tidak hanya
merupakan sarana untuk mengadakan komunikasi antar pribadi, tetapi juga untuk
komunikasi dengan dirinya sendiri khususnya untuk berpikir (1934: 136).. Manusia mungkin
saja berbicara dengan dirinya sendiri, dan menjawab pertanyaan-pertanyaannya sendiri.
Dengan cara demikian seseorang dapat menyesuaikan perilakukna dengan pihak lain.
Beberapa tokoh lainnya yang ternama adalah Herbert Blumer, Ralph H. Turner, Howard S.
Becker, dan Norman K. Denzin. Sedangkan tokoh interaksinisme simbolik yang sekarang
makin dikenal di kalangan sosiolog adalah Erving Goffman (Spencer dan Inkeles, 1982: 17;
Soekanto, 1982: 8).
d. Model Etnometodologi
Berkaitan erat dengan interaksionisme simbolis yang lainnya adalah model "mikro"
yang telah menjadi populer hanya selama beberapa tahun yang lampau yaitu
ethnometodologi yang.merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Fenomenologi. Harold
Garfinkel beserta kelompoknya telah bergabung selama beberapa tahun dalam suatu
penelitian dengan tradisi fenomenologi. Walaupun Garfingel telah mengakui adanya
pengaruh dari pemikir Weber, Mannheim, dan Parsons, tetapi terbukti bahwa Alfred Schutz
merupakan sumber pokok yang utama dipilih oleh Garfinkel dengan sebutan
“Etnometodologi”.
Dalam pendahuluan bukunya yang berjudul Studies in Ethnomethodology Garfinkel
menjawab suatu pertanyaan; apa yang disebut etnometodologi itu?. Etnometodologi
memang merupakan bentuk fenomenologi dan fokusnya mirip dengan versi tradisi
fenomenologi. Dalam kajian ini memfokuskan pada studi empirik terhadap aktivitasaktivitas
keseharian dan fenomena-fenomena yang bersifat umum. Dan, sebagaimana kaum
fenomenologis lainnya, Garfinkel (1967) juga memfokuskan pada makna itu secara
intersubyektif dikomunikasikan dengan melipiti; (1) perbincangan keseharian secara umum
memaparkan sesuatu yang lebih memiliki makna daripada langsung kata-kata formal itu
sendiri; (2) perbincangan itu merupakan praduga konteks makna umum; (3) pemahaman
secara umum yang menyertai atau yang dihasilkan dari perbincangan tersebut mengandung
suatu proses penafsiran terus menerus secara intersubyektif; (4) pertukaran dan kejadian
sehari-hari itu memiliki metodologi, terencana dan rasional. Dengan demikian kejadiankejadian
keseharian tersebut seseorang peneliti akan mendapatkan suatu pengertian atau
makna ucapan orang lain melalui pemahaman aturan itu sendiri dengan kaidah-kaidahnya
(Zeitlin, 1995; 280).
Banyak orang berpendidikan telah dipengaruhi oleh pendekatan ini. Pekerjaan
mereka kadang-kadang sukar dipisahkan dari pekerjaan peneliti kualitatif lainnya; mereka
cenderung melakukan pekerjaan-pekerjaan tentang isu yang bersifat “mikro” dengan
mengungkapkan dan kosakata khusus, serta dengan tindakan yang mendetail yang
dilengkapi dengan pengertian. Penelitian yang demikian mengunakan istilah-istilah
“pengertian common sense”, “kehidupan sehari-hari” “penyelesaian sehari-hari”. Menurut
para etnometodolog, penelitian bukanlah hanya merupakan usaha ilmiah yang unik,
melainkan lebih merupakan “penyelesaian praktis”. Mereka menyarankan agar kita melihat
secara hati-hati pada pengertian common sense tempat pengumpulan data dilakukan.
Mereka mendorong peneliti untuk bekerja dengan cara kualitatif untuk lebih peka terhadap
kebutuhan tertentu menurut mereka atau menangguhkan asumsi mereka tentang common
sense, pandangan mereka sendiri, daripada mempertimbangkannya (Moleong, 1998: 15).
H. Obyektivitas dalam Sosiologi
36
Pada umumnya para ahli sosiologi menerima obyektivitas ilmiah sebagai suatu yang
ideal, tetapi hal ini disadari oleh berbagai kesulitan untuk mencapai obyektifitas yang seperti
itu dalam disiplin ilmu sosial. Bagaimanapun, mereka sepertinya tidak merasakan
penyimpangan penelitian seperti itu untuk mencegah sosiologi dari suatu ilmu pengetahuan.
Menurut Faris (1964: 5)”… the fact that all men have values does not mean that prejudice
bears on every possible issue, and it does not have to render impossible a value-free science.
Kebanyakan sarjana sosiologi adalah lebih banyak yang optimis tentang suatu disiplin ilmu
sosiologi yang “bebas nilai” dibanding Faris, tetapi banyak yang menyadari para sarjana
sosiologi harus diakui bahwa hal itu sering terjadi penyimpangan dan mereka mencoba
untuk memperkecil efeknya atas riset mereka. Seperti yang Fichter tulis:
The socilogist, as scientist, tries sincerely to avoid moral judments about
the cultures and societies that the studies…. Probably no sociologist can
entirely purify his lectures and writings from the values that he personally
holds…even the secular scientist, which every sociologist must be, cannot
divorce himself completely from the culture in which he is himself involved.
His own personal values in some way reflect the social values of the culture
in which he has been socialized (Fichter, 1957: 8).
Hal ini bukanlah pekerjaan yang mudah untuk dipahami para siswa bahkan masiswa
tingkat pemula. Namun demikian, para ahli sosiologi dengan sangat menyadari penuh
optimis tentang bagaimana norma-norma dan nilai-nilai masyarakat membentuk
pandangan dunia perorangan itu akhirnya dapat dipahami oleh pembelajar. Bagaimanapun,
penerimaan terhadap fakta ini tidak mencegah mereka dari bekerja keras untuk membuat
sosiologi sebagai sesuatu disiplin ilmu yang seobyektif mungkin (Banks, 1977: 241).
Tepat kiranya apa yang dikatakan Horton dan Hunt (1991: 6) bahwa dengna kata lain
“obyektivitas berarti kesanggupan melihat dan menerima fakta sebagaimana adanya,
bukan sebagaimana diharapkan terjadi”. Sebetulnya dapat dikatakan mudah pula untuk
bersikap obyektif dalam melakukan penelitian yang obyektif bila kita memiliki preferensi
ataupun nilai-nilai yang kokoh melekat. Dengan kata lain pula cukup mudah untuk
bersikapo obyektif waktu mengamati sepasang ulat yang melakukan reproduksi, tetapi tidak
begitu mudah melihat “adegan panas” dalam film di layar lebar tanpa terpengaruh. Atas
segala hal di mana kita terlibat emosi, kepercayaan, keinginan, kebisaaan, nilai-nilai, kita
cenderung hanya melihat hal-hal yang bersesuaian dengan kebutuhan emosional dan nilainilai
yang melekat pada kita (Horton dan Hunt, 1991: 6).
Bersikap obyektif merupakan hal yang utama kalau bukan pertama dalam keharusan
ilmiah. Tidaklah cukup dengan bersedia mengetahui sesuatu sebagaimana adanya. Kita
harus mengetahui dan waspada terhadap penyimpangan-penyimpangan yang mungkin kita
lakukan. Secara sederhana penyimpangan adalah suatu kecenderungan, bisaanya secara
tidak sadar, melihat fakta dalam suatu arah tertentu karena pengaruh kebisaaan, harapan,
kepentingan, dan nilai-nilai seseorang. Ambilah sebuah contoh tentang “unjuk rasa tentang
perdamaian”. Jika dilihat oleh suatu kelompok tertentu, maka akan mungkin dinilainya
sebagai sikap dan tindakan berani untuk menyelamatkan dunia dari pertikaian maupun
perang. Namun jika dilihat oleh kelompok lain bisa berbeda penafsirannya. Mereka
dianggapnya sebagai tindakan yang tidak terkendali dan bersifat retoris dengan omong
kosong yang utopis. Banyak hasil-hasil eksperimen menunjukkan bahwa kebanyakan orang
dalam suatu situasi sosial hanya mau melihat dan mendengar apa yang mereka harapkan.
Bila yang kita inginkan tidak tercapai, maka kita akan ngotot dan mencoba melihatnya
dengan cara lain. Secara dramatis hal ini telah ditunjukkan dalam suatu eksperimen Alport
dan Postman (1947) sebbagai berikut:
… yang memperlihatkan kepada para pengamat suatu gambar seorang kulit
putih yang berpakaian buruk yang sedang memegang pisau cukur terbuka
sedang bertengkar sengit dengan seorang kulit hitam yang berpakaian rapih
dengan sikap meminta maaf dan bersahabat; kemudian para pengamat
diminta untuk menggambarkan adegan tersebut. Beberapa di antara
mereka “melihat” pisau cukur berada di tangan orang kulit hitam, karena
menurut mereka seharusnyalah demikian. Pengamat lainnya memandang
37
adegan tersebut dengan benar, tetapi dalam meneruskan gambaran tentang
adegan tersebut (A menggambarkan kepada B, B kepada C dan seterusnya),
pisau cukur tersebut akhirnya menjadi berada di tangan orang berkulit
hitam, karena sesuai dengan keinginan mereka, itulah yang “pantas”.
Sekalipun secara emosional mereka tidak terlibat dalam situasi tersebut,
mempunyai waktu yang cukup untuk mempelajarinya, dan dengan sadar
berusaha untuk melihat dan mendengar dengan cermat, namun
penyimpangan secara tak sadar dari para pengamat masih mengendalikan
kebanyakan dari mereka untuk “melihat” atau “mendengar” fakta yang
sebenarnya tidak ada ataupun tidak terjadi demikian (Horton dan Hunt,
1991: 7).
Dengan demikian beberapa bahaya umum terhadap obyektivitas adalah; kepentingan
pribadi, kebisaan, dan penyimpangan. Sebab bagi seorang pengamat obyektivitas tidaklah
datang sedemikian mudah, namun hal tersebut dapat dipelajari. Kita akan dapat lebih
obyektif apa bila kita semakin waspada terhadap preferensi-preferensi pribadi kita untuk
kemudian menyingkirkannya. Melalui latihan yang tepat dalam metodologi serta studi ilmiah
di atas kebanyakan eksperimen serta mencatat contoh-contoh penggunaan data, baik secara
obyektif maupun subyektif, seseorang pengamat pada akhirnya mungkin dapat
mengembangkan kemampuannya untuk menembus berbagai lapisan penipuan-diri dan
memandang fakta dengan obyektivitas ilmiah pada tingkat yang lebih tinggi. Para ilmuwan
memiliki juga sekutu yang kuat, yaitu kritik dari rekan sejawat. Ilmuwan menerbitkan hasil
penelitiannya sehingga dengan demikian karya mereka dapat diperiksa oleh para sejawat
ilmuwan lainnya. Berkat proses penerbitan dan kritik tersebut karya yang bermutu rendah
akan segera terlihat, dan para ilmuwan yang membiarkan preferensinya mengatur
penggunaan data akan mendapat kritik tajam.
I. Konsep-konsep Sosiologi
Dalam setiap disiplin ilmu, pasti ada kontroversi, termasuk sosiologi. Walaupun para
ahli sosiologi sudah berhasil dalam mengidentifikasi sejumlah konsep-konsep dasar
sosiologis dan memperoleh konsensus mengenai arti penting tentang itu, konsep-konsep
tersebut sering digambarkan dengan cara yang berbeda oleh berbagai peneliti. Kebanyakan
para ahli sosiologi terkemuka sangat memperhatikan permasalahan dalam definisi disiplin
ilmu sosiologi itu. Herbert Blumer, seorang ahli sosiologi yang terpandang, menetapkan
bahwa konsep-konsep yang menjadi kunci dalam sosiologis adalah "samar-samar, ambigu,
dan tak tentu" dan usaha itu untuk membuat terminologi yang lebih tepat telah menjadikan
sebagian besar ‘tanpa buah’ (Quated dalam Gitter dan Manheim, 1957; 2). Zetterberg
menuliskan dengan jernih tentang masalah ini sebagai berikut:.
Socilogists have spent much energy in developing technical definitions, but
to date they have not achieved a consensus about them that is
commensurate with their effort. At present there are so many different
competing definitions for key sociological notions such as “status” and
“social role” that these terms are no more valuable than their
counterparts…. In everyday speech” (Zetterberg, 1966: 30).
(Para ahli sosiologi sudah menghabiskan banyak energi dalam
mengembangkan definisi teknis, tetapi sampai saat ini mereka belum
mencapai suatu konsensus tentang mereka bahwa hal itu adalah setaraf
dengan usaha mereka. Pada saat sekarang ini terdapat sangat banyak
perbedaan persaingan definisi-definisi untuk gagasan kunci sosiologi seperti
"status" dan "peranan sosial" bahwa terminologi ini adalah tidak lagi
berharga dibanding rekan imbangan mereka…. Di dalam pembicaraan
sehari-hari".
38
Sebaliknya, Horton dan Hunt (1991: 48-49) mengemukakan pendapat yang jauh
berbeda. Mereka beranggapan bahwa studi sosiologi yang menggunakan konsep-konsep
tersebut paling tidak ada dua manfaat:
Pertama, kita memerlukan konsep yang diutarakan dengan teliti untuk
melangsungkan suatu diskusi ilmiah. Bagaimana saudara dapat akan
mampu menerangkan mesin pada seseorang yang tidak memiliki konsep
“roda”… Kedua, perumusan konsep menyebabkan ilmu pengetahuan
bertambah.
Namun ironisnya walaupun perselisihan faham konseptual dalam sosiologi, laju
perkembangan dan corak baru disiplin tersebut tidak terpengaruh buruk bahkan
mempercepat laju perkembangan bidang tersebut. Walaupun saat itu sosiologi tidak benarbenar
muncul sebagai disiplin tersendiri sampai abad yang ke sembilan belas. Baru ketika
sosiologi berhasil mendewasakan dirinya dan menjadi lebih ilmiah, semula kita
mengharapkan konsensus yang lebih konseptual untuk lebih memudahkan perkembangan
sosiologi, namun kenyataannya tetap sulit.
Konsep-konsep sosiologi seperti masyarakat, peran, konflik sosial, lembaga sosial,
kebiasaan (mores), norma, jarang difinisiakn cara serupa atau sama. Di samping itu masalah
lain yang muncul ketika grand theory yang bukan hasil seorang peneliti, mendefinisikan
terminologi dengan cara yang berbeda dibanding dengan ahli sosiologi yang melakukan
penelitian lapangan. Fakta bahwa terdapat tingkat persetujuan tentang makna dari
penguasaan konsep-konsep pokok dalam sosiologi yang menyatakan bahwa secara sosiologis
perspektif itu dapat memberikan suatu kontribusi substansial untuk membantu penguasaan
dasar para siswa dalam memecahkan permasalahan sosial dan membuat keputusan tentang
isu sosial yang penting.
Untaian fakta-fakta, konsep-konsep, generalisasi-generalisasi, dan teori-teori suatu
disiplin itu diberi nama struktur ilmu. Hal ini mulai dikenal ketika di Amerika Seriakt
khususnya terjadi suatu perubahan besar atau revolusi Studi Sosial yang terjadi pada tahun
1960-an.. Ketika pendidik di sana pertama kali menganut konsep struktur ilmu, mereka
merasakan optimisme pemecahan permasalahan kependidikan. Sebab pada saat itu mereka
mempunyai suatu alternatif untuk mengajar suatu massa yang membuat para siswa tidak
mudah lupa namun juga tidak terlalu dibebani dengan sederetan fakta-fakta yang
memberatkan untuk dihafal. Jerome S. Bruner mungkin orang yang paling berpengaruh di
dalam revolusi structuralis (Banks, 1977: 244). Bagaimana tidak, sejumlah riset yang
dilakukan oleh para ahli lainnya mendukung gagasan Bruner dalam karya monumentalnya
The Process of Education (1960). Penelitian Senes (1964) yang meneliti di bidang pendidikan
ekonomi, Crabtree (1967) meneliti pendidikan geografi, dan Burger (1970) meneliti dalam
pendidikan sejarah (Hasan: 1996: 90). Ternyata dengan belajar menguasai struktur ilmu
sesuai dengan perkembangan peserta didik (seperti; konsep-konsep, generalisasigeneralisasi,
maupun teori-teori) jauh lebih cepat ingat dalam memori daripada dengan
menghafal problema-problema yang bersifat “collective memory” dengan gundukan
peristiwa-peristiwa hafalan..
Dalam pandangannya, Bruner berasumsi bahwa melalui pembelajaran disiplin ilmu
khususnya penguasaan struktur ilmu, maka akan terjadi transfer of lerning yang lebih
memberi kemudahan bagi siswa untuk belajar lebih cepat terutama dengan non-specifik
transfer yang sifatnya umum dan ini yang merupakan the hesrt of educational process
jantungnya proses pendidikan (Bruner, 1960: 23-26), walaupun dalam realitanya Bruner dan
rekan-rekannya mempunyai berbagai kesulitan bahwa ada beberapa hal yang tidak memadai
untuk dibayangkan sebelumnya yang menyebabkan gagalnya implementasi MACOS (Man A
Course of Study) yang ujicobakannya namun saya berpendapat bahwa itu adalah masalah
teknis yang terlalu mengharapkan Studi Sosial yang betul-betul terpadu (sintetik), dan
kebenaran teori Bruner tersebut tetap menjadi kontributor terpenting strategi penguasaan
disiplin ilmu. Oleh karena itu di sini kita akan memulai menguraikan konsep-konsep
sosiologi yang sering diajarkan berdasarkan kelaziman dalam mata pelajaran tersebut.
Adapun konsep-konsep yang terdapat dalam sosiologi tersebut, mencakup; (1)
masyarakat; (2) peran (3) norma; (4) sanksi; (5) interaksi sosial ; (6) konflik sosial; (7)
39
perubahan sosial; (8) permasalahan sosial; (9) penyimpangan, (10) globalisasi, (11)
patronase, (12) kelompok, (13) patriarki, (14) hirarki
1. Masyarakat
“Masyarakat” adalah golongan besar atau kecil terdiri dari beberapa manusia yang
dengan atau karena sendirinya bertalian secara golongan dan merupakan sistem sosial yang
pengaruh-mempengaruhi satu sama lain (Shadily, 1980: 31; Soekanto, 1993: 466). Dengan
demikian hidup bermasyarakat merupakan bagaian integral karakteristik dalam kehidupan
manusia. Kita tidak dapat membayangkan, bagaimana jika manusia tidak bermasyarakat.
Sebab sesungguhnyalah individu-individu tidak bisa hidup dalam keterpencilan sama sekali
selama-lamanya, karena manusia itu adalah mahluk sosial. Manusia membutuhkan satu
sama lain untuk bertahan hidup dan untuk hidup sebagai manusia (Campbell, 1994: 3).
Kesalingtergantungan individu atas lainnya maupun kelompok ini menghasilkan
bentuk-bentuk kerjasama tertentu yang bersifat ajeg, dan menghasilkan bentuk masyarakat
tertentu yang merupakan sebuah keniscayaan.. Jadi, sebuah masyarakat pada dasarnya
adalah sebentuk tatatanan; ia mencakup pola-pola interaksi antar manusia yang berulang
secara ajeg pula. Tatanan ini bukan berarti tanpa konflik ataupun tanpa kekerasan,
semuanya serba mungkin, serta kadarnya jelas bervariasi dari suatu masyarakat ke
masyarakat lainnya. Akan tetapi, bagaimanapun rendahnya suatu masyarakat tetap tidak
hanya sekedar penjumlahan beberapa manusia, melainkan sebuah pengelompokan yang
teratur dengan keajegan-keajegan interaksi yang jelas.
Istilah ”masyarakat” atau society tersebut, sekarang telah memperoleh trend baru
dengan dikaitkannya dengan kata ”sipil” menjadi ”masyarakat sipil” atau civil society.
Walaupun hal ini merupakan sebuah konsep lama sebenarnya, namun dalam pemikiran
sosial dan politik belakangan ini bangkit kembali.baik itu di Eropa Barat, eropa Timur, Asia,
maupun Afrika. Secara tradisional, tepatnya pada abad 18 istilah tersebut kurang lebih
sekedar terjemahan istilah Romawi ”societas civilis” atau istilah Yunani ”koinonia politike”
yang artinya ”masyarakat politik” Ketika John Locke berbicara pemerintahan politik atau J.J.
Rousseau tentang etat civil, mereka bicara tentang dunia politik, masyarakat sipil
merupakan arena bagi warganegara yang secara aktif secara politik, dalam masyarakat
beradab yang berdasarkan hubungan-hubungan dalam suatu sistem hukum, dan bukannya
pada tatanan hukum otokratis yang korup (Kumar, 2000: 114).
Adalah Hegel, Gramsci, dan Tosqueville yang berjasa mengembangkan makna konsep
modern ”masyarakat sipil”. Hegel dalam bukunya yang berjudul Philosophy of Right (1821),
Gramsci dalam The Prison Notebooks (1929-1935), dan Tosqueville dalam Democracy in
America, sebagai wadah kehidupan etis yang terletak di antara kehidupan keluarga dan
kehidupan kewargaraan yang ditentukan oleh ”permainan bebas” kekuatan-kekuatan
politik,ekonomi, budaya dan pencarian jati diri individual dan lembaga-lembaga sosial
kenegaraan yang mewadahi dan mengatur kehidupan dan sekaligus berperan sebagai proses
pendidikan bagi kehidupan kenegaraan secara rasional (Kumar, 2000: 114). Namun
pertanyaan yang harus dijawab adalah apakah konsep itu hanya merupakan suatu himbauan
moral atau slogan, ataukah hal itu mengandung substansi yang berarti dalam menunjang
penciptaan lembaga-lembaga konkret yang diperlukan untuk mencapai suatu tujuan?
2. Peran
“Peran” adalah satuan keteraturan perilaku yang diharapkan dari individu. Tiap-tiap
hari, hampir semua orang harus berfungsi dalam banyak peran yang berbeda. Peran dalam
diri seseorang ini sering menimbulkan konflik. Sebagai contoh, para guru sekolah dasar
perempuan, diharapkan untuk mempersiapkan pengajaran IPS di sekolah tiap hari sebagai
kewajiban profesinya, namun di sisi lain ia juga bertanggung jawab sebagai istri dalam
urusan keluarganya. Pada saat sore dan malam hari ia mengurus anak-anaknya di rumah
serta keperluan rumah tangga lainnya seperti mempersiapkan makanan untuk anak-anak
dan suaminya, mengawasi anak-anaknya belajar, membereskan dan merawat kebersihan
ruangan, perabot rumah tangga, dan sebagainya.. Inilah yang sering disebut sebagai peran
ganda, dan peran semacam ini hampir terjadi pada setiap profesi.
40
Para siswa perlu juga diajar bahwa banyak peran yang tradisional kita sedang
mengalami berbagai perubahan. Munculnya pergerakan pembebasan (emansipasi)
perjuangan hak-hak wanita dan kelompok gerakan protes lainnya telah menentang peranperan
wanita tradisional di tahun-tahun terakhir ini. Terutama di negara-negara Barat yang
perintisannya sejak beberapa abad yang lalu. Christine de Pizan menulis The Book of the City
of Ladies (1405), merupakan karya substansial pertama tentang teori politik oleh seorang
wanita, mendahului A Vindication of the Rights of Woman karya Mary Wollstonecraft (1792)
hampir empat ratus tahun bedanya. Indonesia juga memiliki pejuang emansipasi wanita R.A.
Kartini (1879-1904 ) yang dihimpun karyaya-karyanya oleh Mr. J.H. Abendanon dalam buku
Door duisternis tot licht atau terjemahan bahasa Indonesianya Habis Gelap Terbitlah
Terang oleh Armijn Pane. Meminjam istilah Adrienne Rich dalam Of Women Born (1977)
“kita sedang menyaksikan runtuhnya sistem patriarchal yang enggan dan lamban tapi
pasti”. Konon katanya kini disintegrasi patrarkhal mulai nampak. Gerakan feminisme
merupakan salah satu arus budaya yang begitu kuat dewasa ini dan akan memiliki pengaruh
yang kuat pula pada evolusi peran wanita berikutnya. Benarkah realitanya memang
demikian? Mungkin bagi sebagian orang mengakui akan adanya gerakan ini. Tetapi juga
tidak sedikit orang yang skeptis terhadap perubahan besar tersebut.
Dilihat dari jenisnya menurut Linton (dalam Horton dan Hunt, 1991: 122) peran ini
dapat dibedakan menjadi dua, yaitu “peran yang ditentukan atau diberikan” (ascribed) dan
“peran yang diperjuangkan” (achived). Peran yang ditentukan artinya peran-peran yang
bukan merupakan hasil prestasi dirinya atau berkat usahanya, melainkan semata-mata
karena pemberian orang lain. Contohnya gelar Raden, Raden Mas, Raden Ayu, Ida Bagus,
Cokorda, Gusti, Nyoman, dan sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan “peran yang
diperjuangkan” (achived) merupakan peran yang betul-betul hasil jerih payah atas
usaha/prestasinya sendiri. Seseorang meraih gelar akademis tertentu, menjadi seorang
professional, dan sebagainya.
3. Norma
Suatu ‘norma’ adalah suatu standard atau kode yang memandu perilaku masyarakat..
Norma-norma tersebut mengajarkan kepada kita agar peri-laku kita itu benar, layak atau
pantas.. Dalam kehidupan masyarakat kita, orang-orang sering diharapkan untuk berpakaian
dan berbicara yang sesuai dengan tuntutan dan kondisinya. Seseorang yang akan menghadiri
pesta pernikahan, jelas akan berpakaian lain dibanding ia akan berolahraga. Begitu juga
kebiasaan untuk anak-anak sering diharapkan untuk bertindak, berbicara dan berprilaku,
sopan sesuai dengan kehendak orang dewasa. Sebaliknya juga pada orang dewasa itu sendiri
biasanya diharapkan untuk bisa bertindak sopan ataupun hormat jika ia bertamu ke rumah
orang lain.
Secara umum menurut Ciadini (2000: 709) bentuk norma itu terdiri dari dua bentuk
dasar. Norma jenis pertama merujuk pada perbuatan yang bersifat umum atau biasa. Norma
yang semacam ini bisa disebut norma deskriptif; karena menggambarkan apa yang dilakukan
kebanyakan orang. Norma jenis kedua, adalah norma yang mengacu kepada harapanharapan
bersama dalam suatu masyarakat, organisasi atau kelompok mengenai perbuatan
tertentu yang diharapkan, serta aturan-aturan moral yang kita setujui untuk dilaksanakan.
Norma semacam ini merefleksikan apa yang disetujuai oleh sebagian besar orang. Normanorma
tersebut dapat memotivasi perilaku kita dengan cara menjanjikan ganjaran atau
hukuman sosial informal atas perilaku tersebut.
4. Sanksi
‘Sanksi’ adalah suatu rangsangan untuk mlakukan atau tidak melakukan sesuatu
perbuatan (Soekanto, 1993: 446). Begitu juga hal yang serupa dikemukakan K. Daniel
O’Leary dan Susan G. O’Leary dalam Classroom Management: The Successful Use of
Behavior Modification mengemukakan bahwa sanksi merupakan upaya dengan suatu
konsekensi yang diduga dapat mengurangi atau menurunkan kemungkinan untuk
melakukan perbuatan melanggar untuk masa yang akan datang O’Leary dan O’Leary, 1977:
110).
41
Pemberian ‘sanksi’ bagi siapa-pun termasuk anak didik di sekolah adalah penting,
namun semuanya itu hanya diberikan dalam kerangka ‘mendidik’, dan bukan oleh faktorfaktor
emosional. Pandangan-pandangan pentingnya sanksi dalam suatu tertib organisasi
diawali oleh pandangan-pandangan terapi psikologi belajar behavioristik. Ciri-ciri terapi
behavioristik yang dominan adalah terfokus pada “tingkah-laku yang spesifik apa yang
yang ingin diubah, dan tingkah-laku baru yang bagaimana yang ingin dikembangkan?”
Dengan demikian dalam pembelajaran yang dilandasi pandangan-pandangan behavioristik
tersebut menaruh banyak harapan bahwa pada dasarnya melalui pengembangan teknik
modifikasi-modifikasi perilaku dapat dihasilkan dan dibentuk perilaku-perilaku yang
diharapkan. Apakah hanya pandangan behavioristik yang memiliki pentingan pemberian
sanksi tersebut?. Tentu saja tidak, karena semua aliran psikologi belar dan pembelajaran
(termasuk terapi) pada hakikatnya hal itu adalah perlu sdsnys pemberian sanksi. Hanya saja
terdapat perbedaan pada strategi penanganannya antara psikologi belajar behavioristik
dengan lainnya. Dengan demikian mengenai pentingnya pemberian ‘sanksi’ bagi anak didik
bagi yang disruptive tidak sekedar penting bagi aliran behavioristik saja.
Sebagai contoh bagi pendukung psikologi belajar dan pembelajaran eksistensialismehumanistik,
mereka akan menempatkan siswa yang sangat berbeda dengan behavioristik. Di
mana siswa sebagai subyek dalam mengembangkan proses aktualisasi dirinya. Pandanganpandangan
psikologi belajar dan pembelajaran eksistesial-humanistik yang digagas Carl
Rogers (1961) dan Abraham H. Maslow (1968) tersebut, lebih menekankan kepada aspek
mengembangkan tanggung-jawab dan potensi-potensi diri dalam hubungan sosial yang lebih
bermakna untuk mencapai aktualisasi diri.(Raffini, 1980: 147).
5. Interaksi Sosial
‘Interaksi sosial’ adalah proses sosial yang menyangkut hubungan timbal-balik antar
pribadi, kelompok, maupun pribadi dengan kelompok. (Poponoe, 1983: 104; Soekanto: 1993:
247). Interaksi sosial tersebut merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial.
Mengingat dalam interaksi sosial tersebut di samping ruang-lingkupnya sangat luas dan
bentuknya yang dinamis (Gillin dan Gillin, 489).
Bagi siswa di kelas konsep ‘interaksi sosial’ merupakan konsep penting uuntuk
dipahami, karena sesuangguhnyalah tidak ada orang hidup dalam keterisolasian dan
keteransingan yang terus-menerus. Sebagai mahluk sosial manusia selalu mengembangkan
interaksi sosialnya sebagai manifestasi interdependensi antar sesamanya. Begitu juga siswa
yang berada di sekolah, ⎯ pada dasarnya merupakan pola miniatur masyarakat ⎯ aktivitas
sehari-harinya tidak lepas dari interaksi sosial, baik interaksi dengan guru maupun petugas
perpustakaan, maupun sesama teman.
Menurut Soekanto (1986: 52-53) berlangsungnya suatu proses interaksi didasarkan
oleh empat faktor, antara lain faktor; (1) imitasi, (2) sugesti, (3) indentifikasi, dan (4)
simpati. Faktor imitasi sebagaimana dikemukakan sebelumnya oleh Gabriel Tarde (1842-
1904) bahwa hubungan sosial itu berkisar dala proses imitasi, bahkan semua pergaulan antar
manusia itu pada dasarnya tidak lepas dari proses imitasi (Gerungan, 2000: 31). Dalam sisi
positif imitasi dapat mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah atau normanorma.
Sedangkan dalam sisi negatif, imitasi yang meniru model tindakan-tindakan
menyimpang, maka tindakan peniru tersebut juga bisa menimbulkan tindakan yang
menyimpang (Bandura, 1973).
Faktor sugesti berlangsung apabila seseorang memberi suatu pandangan atau sesuatu
sikap tertentu yang diterima tanpa sikap kritis karena adanya hambatan emosional yang
kurang rasional. Contoh konkritnya adalah seorang pemimpin yang kharismatik bisa
mempengaruhi perilaku masyarakat dalam menggetarkan gelora politik konfrontasi terhadap
suatu negara tertentu. Atau seorang bintang film ternama mampu menggiring kaula muda
untuk menyukai pakaian yang menurut kita “compang-camping”. Faktor identifikasi
merupakan kecenderungan-kecenderungan keinginan-keinginan dalam dirinya untuk
menjadi sama dengan orang lain. Contohnya seorang anak laki-laki suka memakai sepatu
ayahnya. Sedangkan yang merupakan faktor simpati, adalah proses seseorang meras tertarik
kepada orang lain, terutama untuk memahami, merasakan, maupun bekerjasama.
42
Contohnya seorang siswa merasa simpatik kepada perjuangan rekannya yang telah menjadi
juara I dalam Olympiade Fisika.
6. Konflik Sosial
Konflik sosial adalah merupakan pertentangan sosial yang bertujuan untuk
menguasai atau menghancurkan fihak lain. Konflik sosial juga bisa berupa kegiatan dari
suatu kelompok yang menghalangi atau menghancurkan kelompok lain, walaupun hal itu
tidak menjadi tujuan utama aktivitas kelompok tersebut (Soekanto, 1993: 101). Dalam
wujudnya konflik sosial itu bisa tersembunyi tersebunyi (covert) maupun terbuka.
Konflik sosial merupakan salah satu bentuk interaksi sosial di mana ekstrem yang
satu mengarah ke integrasi sosial yang sudah menjadi suatu general agreements yang
memiliki daya mengatasi perbedaan-perbedaan pendapat dan kepentingan, dan yang lain ke
konflik sosial. Tercapainya ‘tata tertib’ dan ‘konflik’ adalah dua kenyataan yang melekat
bersama dalam setiap sistem sosial. Sebab tumbuhnya tata tertib sosial atau sistem nilai yang
disepakati bersama oleh para anggota masyarakatnya, sama sekali tidak berarti lenyapnya
konflik dalam masyarakat. Justru sebaliknya, tumbuhnya tata tertib sosial mencerminkan
adanya konflik yang bersifat potensial dalam masyarakat. Dengan demikian jika kita
berbicara tentang ‘stabilitas’ dan ‘instabilitas’ dari suatu sistem sosial, maka yang di kita
maksudkan adalah tidak lebih dari menyatakan derajat keberhasilan atau kegagalan dari
suatu tertib normative dalam mengatur kepentingan yang saling berkonflik (Lockwood, 1965:
285).
Pentingnya pembelajaran tentang konsep ‘konflik’ bagi siswa bukan dilihat sekedar
aspek negatif yang menyertainya melainkan dalam perspektif yang lebih luas baik itu
maknanya maupun kehadirannya yang selalu ada dalam interaksi sosial. Sebab terminologi
‘konflik’ sering dipelintir untuk mendeskreditkan aliran tertentu yang hampir “tidak
mungkin dan tidak boleh berkembang”. Padahal dalam teori-teori konflik non-Marxis seperti
Ralf Dahrendorf sosilog Jerman yang menulis Class and Class Conflict in Industrial (1929)
bahwa sekalipun dengan penggunaan otoritas yang sah dan mereka tunduk terhadapnya,
maka sesungguhnya di situlah terdapat konflik yang saling melekat. Karena itu menurut
Dahrendorf bentuk konflik meliputi bentuk kepentingan laten (latent interest) dan
kepentingan kelas yang disadari sebagai tujuan yang disebut “kepentingan manifest”
(manifest interest).
Berbeda juga dengan pendapat Lewis Coser dalam The Functions of Social Conflict
(1956), bahwa fungsi konflik eksternal adalah untuk memperkuat kekompakan internal dan
meningkatkan moral kelompok yang memegang peranan demikian pentingnya. Tidak sedikit
penciptaan antagonisme dengan kelompok-kelompok luar untuk mempertahankan dan
meningkatkan solidaritas internal. Karena itu menurutnya konflik tidak harus selalu
merusak atau bersifat disfungsional untuk suatu sistem, melainkan mempunyai fungsi positif
dan menguntungkan sistem tersebut, namun tidak berarti berimplikasi baik pula secara
moral (Johnson, 1986: 196).
7. Perubahan Sosial
‘Perbahan sosial’ mengacu pada variasi hubungan antar individu, kelompok,
organisasi, kultur dan masyarakat pada waktu tertentu (Ritzer, 1987: 560). Kemudian
sosiolog lain mengemukakan bahwa perubahan sosial adalah modifikasi atau transformasi
dalam pengorganisasian masyarakat (Persel, 1987: 586). Dari dua pernyataan tersebut dapat
disimpulkan bahwa perubahan sosial segala transformasi pada individu, kelompok,
masyarakat, dan lembaga-lembaga sosial yang mempengaruhi sistem sosialnya termasuk di
dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perikelakuan di antara kelompok-kelompok
dalam masyarakat.
Seperti yang sudah dikemukakan sebelumnya, bahwa di dunia ini tidak ada yang
abadi, kecuali peubahan itu sendiri yang abadi. Artinya perubahan itu terus terjadi
sebagaimana dikatakan seoprang futuris Amerika ternama Alvin Toffler (1970: 28-29) bahwa
perubahan tidak hanya penting bagi kehidupan, tetapi perubahan itu sendiri adalah
kehidupan. Masyarakat juga terus berproses dalam tujuan yang tidak kita ketahui.
43
Konsep ‘perubahan sosial’ itu penting disimak peserta didik, agar mereka memahami
bahwa masyarakat itu senantiasa berobah di semua tingkat kompleksitas internal dan
eksternalnya. Di tingkat mikro terjadi perubahan interaksi dan perilaku individual. Di tingkat
mezzo terjadi perubahan kelompok, komunitas, dan organisasi. Sedangkan di tingkat makro
terjadi perubahan ekonomi, politik, dan kultur yang berskala internasional (Stompka, 2004:
65).
Dalam wujudnya perubahan sosial itu terjadi melalui berbagai bentuk perubahan,
dari evulusi sosial universal seperti yang dikemukakan oleh Hebert Spencer (1820-1903)
dalam motto-nya “the survival of the fittest” , yaitu daya tahan dari jenis atau individu yang
mempunyai cirri-ciri yang paling cocok (paling pandai, paling kuat, paling berkuasa) dengan
lingkungannya. Bahwa tidak ada kekuatan yang mampu menolak evolusi sosial (baik yang
berwujud nonorganis, organis, maupun superorganis), karena didorong oleh kekuatan yang
disebutnya evolusi universal (Laeyendecker, 1991: 207). Kemudian perubahan sosial
berdasarkan siklus seperti yang dikemukakan Pitirim Sorokin (1889-1968) yang tertuang
dalam karyanya Social and Cultural Dynamics (1937). Namun sebelumnya juga terdapat
suatu pendekatan berdasarkan siklus yang menggunakan pendekatan spiral yang menaik
dipelopori oleh seorang filosof sejarah Italia yakni Vico yang hidup pada zaman abad
Pencerahan dalam karyanya The New Science (1725). Menurutnya gerak perubahan sosial
itu. Kemudian berkembang faham gerak sosial (sejarah) itu secara progresif semakin maju.
Inilah yang disebut aliran ‘developmentalisme” (yang di dalamnya meliputi Evolusionisme
maupun Marxisme), yakni suatu pendekatan yang beranggpapan bahwa kualitas dan
keteraturan proses sejarah ditentukan oleh oleh logikanya sendiri atau oleh kekuatan dari
dalam (Sztompka, 2004: 211). Namun akhirnya pendapat developmentalisme itu sekarang
hampir mengalami kematian setelah Karl R.Popper, Robert Nisbet, Charles Tilly, dan
Immanuel Wallerstein mengkritik pandangan developmentalisme tersebut.
Popper merumuskan kritiknya terhadap apa yang disebutnya ‘historisisme’. Dalam
bukunya yang berjudul The Poverty of Historisism (1957), kemudian diulang dalam Logic of
Scientific Discovery (1961), ia mengemukakan bahwa “Keyakinan terhadap nasib sejarah
adalah takhayul belaka dan perjalanan sejarah manusia tidak dapat diramalkan oleh ilmu
pengetahuan atau oleh metode rasional mana-pun” (1964:v). Dengan demikian baginya
perubahan sosial atau pergerakan sejarah adalah bergerak menurut kekuatannya sendiri. Hal
ini bisa dipahami karena gerak suatu perubahan sejarah adalah tidak memiliki hukum
universal (1964: 115).
8. Permasalahan sosial
Istilah ”permasalahan sosial” merujuk kepada suatu kondsi yang tidak dinginkan,
tidak adail, berbahaya, ofensif, dan dalam pengertian tertentu mengancam kehidupan
masyarakat.. Dalam pendekatannya, studi tentang permasalahan sosial dapat dibagi menjadi
dua kelompok yakni pendekatan; (1) realis dan obyektif, (2) pendekatan pendekatan
konstruksionisme sosial. (Pawluch, 2000: 995). Perhatian utama kelompok yang memakai
pendekatan realis dan obyektif mengidentifikasi berbagai kondisi dan kekuatan dasar yang
menjadi sebab dari permasalahan tersebut, seringkali dengan sebuah pandangan yang
mengutamakan tindakan amelioratif (peningkatan nilai makna dari makna biasa mapun
buruk menjadi makin baik). Sedangkan pendekatan konstruksionisme sosial, tidak
memusatkan pada perhatian kondisi-kondisi obyektif, tetapi mengarahkan pada suatu
definisi proses sosial di mana kondisi tersebut muncul sebagai permasalahan
Dalam kajian yang kedua tersebut, mereka mendefinisikan permasalahan sosial
sebagai tindakan kelompok yang yang mengekspresikan kedudukan dan menyatakan klaim
tentang putative conditins (kondisi-kondisi yang diduga). Menurutnya tugas para sosiolog
permasalahan sosial bukan untuk mengevaluasi atau menilai klaim-kliam seperti itu, tetapi
mencari penjelasan kegiatan-kegiatan pembuatan klaim dan hasil-hasilnya. Bahkan agar
tidak jatuh pada ke dalam analisis kondisi, Sector dan Kitsuse (1977) mendesak bahwa
seluruh asumsi tentanag kondisi kondisi obyektif , termasuk asumsi tentang keberadaannya,
ditunda. Sampai pada tingkat, di mana para ahli sosiologi menghadirkan kondisi-kondisi itu
44
sendiri, mereka menjadi partisipan ⎯ bukannya para analis ⎯ dalam proses-proses yang
seharusnya mereka pelajari.
Dengan munculnya perspektif konstruksionis sosial, telah merevitalisasi kajian
permasalahan sosial. Perspektif tersebut membangkitkan banyak karya empiris yang
menyelidiki usaha-usaha pembuatan klaim di seputar isu-isu prostitusi, anak hilang, perokok
kronis, pelecehan seksual, dan lingkungan kerja yang beracun, homoseksualitas, AID, minum
minuman keras, pemanjaan anak yang berlebihan, dan pnganiayaan anak (Pawluch, 2000:
994). Bahkan belakangan ini telah muncul permasalahan sosial dalam konteks ”silangbudaya”.
Sebagai contoh sejak awal tahun 1980-an adanya ”medikalisasi” yang makin
meningkat dalam permasalahan sosial. Medikalisasi merujuk pada tendensi untuk melihat
kondisi dan perilaku yangf tidak dikehendaki sebagai permasalahan medis atau berusaha
mendapatkan solusi atau kontrol medis (Conrad dan Schneider, 1980). Di sinilah kaum
konstruksionis sosial telah meneliti medikalisasi dari kondisi-kondisi seperti alkoholisme,
kecanduan obat, aborsi di kalangan remaja, transeksualisme, serta ketidakcakapan dokter.
9. Penyimpangan
Istilah ”penyimpangan” atau deviance sebenarnya dalam sosiologi telah lama ada
sejak awal kelahiran ilmu tersebut. Akan tetapi makna sosiologisnya baru muncul
belakangan. Para sosiolog dan kriminolog mengartikan sebagai perilaku yang terlarang, perlu
dibatasi, disensor, diancam hukuman, atau label lain yang dianggap buruk sehingga istilah
tersebut sering dipandankan dengan ”pelanggaran aturan” (Rock, 2000: 227-228).
Namun demikian istilah ”penyimpangan” tersebut tetap lebih luas daripada kriminalitas
karena yang menyimpang itu tidak sepenuhnya melanggar secara kriminal.
Dalam sosiologi, istilah ”pemnyimpangan” memang selalu tidak jelas bagi para
sosiolog. Oleh karena itu setiap sosiolog punya punya pemahaman sendiri (bersifat adhoc)
atas istilah tersebut. Namun dmikian bagi kaum sosiolog untuk mengkaji beberapa perilaku
yang dianggap ”aneh” dapat memenuhi kebutuhan untuk memuaskan rasa ingintahu,
memahami hal-hal aneh, merupakan alasan yang sahih bagi sosiologi untuk mengadakan
kajaian ilmiah atas istilah tersebut.
Beberapa sosiolog dapat dikemukakan pendapatnya yang beragam tersebut. Matza
dalam bukunya Becoming Deviant (1967) ia mengaitkan penyimpangan dengan ”evaluasi
majemuk, pergeseran standard penilaian, dan ambivalensi moral”.Kemudian Garfingkel
dalam bukunya Studies in Etnometodology (1967), dan Goffman dalam Stigma (1963) bahwa
penyimpangan sebagai cerminan upaya penyesuaian diri sebagian anggota masyarakat dalam
mengatasi persoalannya, yang tidak jarang berbenturan dengan stardard-standard umum.
Berbeda dengan Scot dan Douglas dalam karyanya Theoretical Perspectives on Deviance
(1972) yang terpenting ”ciri penyimpangan terletak pada penilaian pihak lain yang
menggapnya aneh”.
Dengan demikian istilah penyimpangan makna yang terpenting adalah makna
konotatifnya, bukan makna denotatifnya. Dan, dampak perkembangan bidang baru sosiologi
penyimpangan itu cukup besar, sebab mereka turut menyegarkan kriminologi ortodoks serta
memperbaiki unsur-unsur analitis dan empirisnya (Roc, 2000: 230). Namun di sisi lain ilmu
ini juga kian banyak mendapat pengaruh dari disiplin lain mengingat aspek yang dicakupnya
juga sangat luas. Sebagai implikasinya perbedaan antara kriminologi dengan sosiologi
penyimpangan semakin kabur.
10. Globalisasi
Istilah ”globalisasi” merujuk pada implikasi tidak berartinya lagi jarak nasional,
regional, maupun teritorial, sehingga apapun yang terjadi dan berlangsung di satu tempat,
bukan jaminan bahwa kejadian atau peristiwa tersebut tidak membawa pengaruh di tempat
lain (2002: Ohmae, 3-30). Runtuhnya suatu ekonomi, politik, dan sosial budaya suatu
negara, bisa jadi negara lain juga ikut merasakan dampaknya. Suasana chaos di satu negarabangsa,
sangat berimbas ke negara lain. Begitu juga budaya ”meyimpang” yang tumbuh
subur di satu negara, tidak menutup kemungkinan cepat ”menular” ke negara lain. Ibarat
dunia yang semakin tidak terbatas lagi, globalisasi dapat dimetaforakan sebagai kamar yang
45
tanpa sekat, di mana ratusan negara-bangsa seolah menyatu, seakan-akan berada dalam satu
keluarga.
Globalisasi bisa terjadi karena berdirinya jaringan-jaringan informasi dari
komunikasi global. Jaringan-jaringan telekomunikasi dan komputer mengatasi hambatan
waktu dan ruang. Dengan menggunakan sistem setelit dan kabel baru, saluran-saluran
seperti CNN dan MTV telah mulai membentuk pasar dan pemirsa televisi yang benar-benar
global(melalui hal ini pula makin disadari perlunya kepekaan terhadap perbedaanperbedaan
setempat). Komunikasi yang instan dan mendunia memberi substansi dari
gagasan Marshal McLuhan yang pertama kali diutarakan dalam pada tahun 1980-an, bahwa
dunia akan menjadi sebuah desa global (global village).
Kita bisa melihat setidaknya ada dua kemungkinan-kemungkinan. Kemungkinan
pertama, adalah terbukanya kesempatan-kesempatan baru oleh adanya jaringan komunikasi,
transportasi, dan produk-produk gloabal. Negara-bangsa yang mampu dengan cepat
menyesuaikan diri dalam perubahan (fast adjuster), dan melakukan reforms yang berani
sebagai layaknya yang bersikap optimis, memeinjam istilah sejarawan Amerika kontemporer
Paul Kenedy, dia-lah yang akan menjadi the winners. Sebaliknya bagi negara-bangsa yang
slow adusters, sebagai akibat respons yang didasarkan kepada cara pandang yang pesimis,
bahkan bersikap apocalyptic atau alarmistis, dia-lah yang akan menjadi the losers (Kennedy,
1995: 287-340).
Globalisasi dapat dianalisis secara kultural, ekonomi, politik/institusional. Menurut
Ritzer (2004: 588-590). Dalam masing-masing kasusu perbedaan kuncinya adalah; apakah
seseorang melihat meningkatnya homogenitas atau heterogenitas. Pada titik ekstrim,
globalisasi kultur dapat dilihat sebagai ekspansi trannasional dari kode dan praktik bersama
(homogenitas), atau sebagai proses di mana banyak input kultural lokal dan global saling
berinteraksi untuk menciptakan semacam pencangkokan kultur atau heterogenitas. Pada
kajian ekonomi, globalisasi mereka umumnya melihatnya sebagai penyebaran ekonomi pasar
ke seluruh dunia yang berbeda-beda dengan menekankan pendekatan ”one-size-fits-all”
dengan tidak memandang perbedaan ekonomi nasional. Dalam bidang politik/institusional,
lebih memfokuskan pada penyebaran model nation-state di seluruh dunia, dan munculnya
bentuk-bentuk isomorfis dari tata pemerintahana yang serupa.
11 Patronase
Istilah ”patronase” dalam istilah ilmu-ilmu sosial lebih banyak dikaitkan dengan
birokrasi sehingga dikenal ”birokrasi patrimonial”. Dalam birokrasi patrimonial ini serupa
dengan lembaga ”perkawulaan”, di mana ”patron” adalah ”gusti” atau ”juragan”, dan klien
adalah ”kawula”. Hubungan antara gusti dan kawula tersebut bersifat ikatan pribadi, implisit
dianggap mengikat seluruh hidup, seumur hidup, dengan loyalitas primordial sebagai dasar
tali perhubungan (Kuntjoro-Jakti, 1980: 6). Pendapat tersebut diperkuat oleh Gianfranco
Pasquino guru besar Gianfranco Pasquino dari University of Bologna, bahwa
Patronase biasanya didefinisikan sebagai suatu kekuasaan untuk
memberikan berbagai tugas pada mesin birokrasi di semua tingkatan. Tap,
dalam pengertian yang lebih khusus, patronase berarti pendistribusian
berbagai sumber daya yang berharga: pensiun, lisensi atau kontrak publik
berdfasarkan kriteria politik. Ada patron yang memiliki kekuasaan dan ingin
mempertahankannya, dan di sisi lain ada klien yang berada pada posisi
subordinat, meski tidak berarti tanpa daya sepenuhnya atau kekurangan
sumber daya (Pasquito, 2000: 736).
Kajian tentang patronase, sudah dimulai sejak Max Weber, menulis buku The Theory
of Social and Economic Organization yaitu tentang ”birokrasi patrimonial”, di mana jabatan
dan perilaku dalam keseluruhan hirarki birokrasi lebih didasarkan pada hubungan familier,
hubungan pribadi, dan hubungan ”baoak anak-buah” (patron-client). Menurut Weber ada
tiga otoritas tradisional yakni (1) gerontokrasi, (2) patriarkalisme, dan (3) patrimonial. Jika
dalam gerontokrasi otoritas pada orang-orang tua, pada patriarkalisme pada tangan suatu
kekerabatan atau rumah tangga. Sedangkan dalam otoritas patrimonial terdapat suatu staf
administratif di mana orang-orang mempunyai hubungan pribadi dengan pemimpinnya.
46
Atau, patrimonialisme terutama bahwa pegawai-pegawai pemerintah lahir di dalam
administrasi rumah-tangga si pemimpin. Para administrator pemerintah sebenarnya
merupakan pelayan-pelayan pribadi dan wakil-wakil si pemimpin itu.
Menurut Pasquino (2000: 737), patronase seringkali menimbulkan korupsi. Sumbersumber
publik dipakai sebagai sumber penyuapan. Individu-individu yang berhutang karir
dan posisi kepada patron mereka akan dipaksa untuk melaksanakan tindakan-tindakan
ilegal. Hak-hak warganegara diletakkan di bawah hak istimewa para klien. Hal ini tertunya
berbeda dengan birokrasi di Eropa Barat yang lebih cenderung tipe birokrasinya birokrasi
yang rasional.
12. Kelompok
Konsep ”kelompok” atau ”group” secara umum dapat didefinisikan sebagai
sekumpulan orang yang disatukan oleh suatu prinsip, dengan pola rekrutmen, hak dan
kewajiban tertentu. (Holy, 2000: 421). Konsep ini sangat dominan dalam kajian soiologi
karena dalam kajian ”kelompok” tersebut difahami berbagai interaksi yang bersifat
kebiasaan (habitual), melembaga, atau bertahan dalam waktu relatif lama, yang biasanya
terjalin antar kelompok..
Dalam studi ”kelompok” menurut Holy (2000: 421) terdapat beberapa jenis tentang
kelompok. Pertama, kategori sosial (social category), adalah sekumpulan individu yang
secara konseptual mengelompok atas dasar karakteristik tertentu (Usia, jenis kelamin,,
pekerjaan, aagama, kesamaan asal-usul, kekerabatan, dan sebagainya). Kediua, kelompok
sosial (social group), terdiri dari individu-individu yang sengaja mengelompok dan terikat
dalam suatu jaringan interaksi baku yang membagi mereka pada sejumlah peran (ekonomi,
politik, ritual, bidang pekerjaan). Di sini keanggotaan tidak bersifat otomatis, melainkan
harus melewati prosedur tertentu. Kelompok ini terbagi lagi menjadi kelompok primer, yang
anggotanya berinteraksi secara tatap muka (keluarga atau rumah tangga). Kelompok
sekunder yang para anggotanya tidak hanya harus berinteraksi secara tatap muka (kelompok
politik atau atau asosiasi profesi). Di samping itu ada kelompok khusus, yakni perusahaan,
yakni kelompok-kelompok yang memiliki yang menerapkan aturan tentang pembagian kerja
dan kepemilika, baik yang bersifat materi maupun non-materi. Pada sisi ekstrim lainnya,
terdapat pula kelompok aksi atau gugus tugas (task force) yang terdiri dari para individu
yang mengorganisasikan diri untuk menjalankan suatu tugas atau kegiatan secara bersamasama.
Namun keberadaan kelompok gugus tugas (task force) ini relatif lebih terbatas.
13. Patriarki
Secara harfiah ”patriarki” berarti aturan dari pihak ayah. Istilah ini memiliki
penggunaan yang cukup luas namun umumnya memiliki kecenderungan untuk
mendeskripsikan kondisi superioritas laki-laki atas perempuan (Cannel, 2000: 734). Dalam
sejarah modern istilah tersebut muncul oleh Henry Maine dengan karyanya Ancient Law
(1861). Dalam buku tersebut dikemukakan bahwa keluarga patriarkal merupakan dasar dan
unit universal dari masyarakat (Coward, 1983: 18), yang berasumsi bahwa organisasi
manusia sepenuhnya bersifat sosial sejak awal. Pendapat tersebut tentu saja mendapat kritik
keras dari alairan-aliran evolusi keluarga dan masyarakat, seperti Bachoven (1861,
McLennan (1865), dan Morgan (1877), karena bagi mereka bahwa terciptanya masyarakat
modern melalui berbagai tahapan budaya.
Dalam perkembangannya, ide ”patriarki” merupakan suatu tahap penting yang
mendapat tempat dalam teori sosial Marx, Engels, dan Weber, bahkan dalam psikoanalisis
Freud. Dalam pendekatan Marxis, berpendapat bahwa struktur material menentukan
hubungan laki-laki dan perempuan, sedangkan kaum feminis radikalmembalikkan
persamaan tersebut. Bagi mereka struktur hubungan nilai-nilai patrirkal antar gender dan
ketidaksejajaran gender menjadi paradigma bagi semua ketidakseimbangan sosial serta tidak
bisa direduksi untuk kasus-kasus lain. Tulisan Engels (1884) menyoroti hubungan antara
pemilikan swasta, keluarga patrriarkal dan asal mula penindasan atas wanita. Kepala rumahtangga
yang bersifat patriarkal menontrol dan mengarahkan wanita sebagai penghasil
keturunan.
47
Pertanyaan yang selalu muncul dalam perdebatan tersebut bahwa, apakah
penindasan terhadap perempuan itu bersifat natural ataukah universal? Sebab dalam
perpektif lintas butas budaya, sosiologi-antropologi senantiasa memiliki kritik atas asumsi
bahwa hubungan antara pria dan wanita di manapun sama. Namunsejak tahun 1970-an
kajian disiplin tersebut mulai dilirik oleh penyokong feminis (misalnya Otner, Reiter,
Rosaldo, dan Lamphere) yang mulai mengubah fokusnya dari hubungan kekerabatan dekat
ke arah gender. Dengan memaparkan bukti-bukti etnografis dari luar Eropa, para ahli
Sosiologi-antropologi semakin gencar memberikan pendapat bahwa perbedaan-perbedaan
biologis antara pria dan wanita tidak harus memperhitungkan atau menjelaskan secara
langsung tentang banyaknya cara menguraikan berbagai hubungan antar jenis kelamin.
Masyarakat non-barat tidak harus membuat suatu pembedaan biologi yang jelas antara pria
dan wanita, juga tidsak harus mempertentangkan alam dengan budaya.
14. Hirarki
Konsep ”hirarki” merujuk kepada suatu jenjang atau tatanan atau peringkat
kekuatan, prestise atau otoritas. Ditinjau dari historisnya secara umum konsep hirarki
diserap oleh ilmu-ilmu sosial pada mulanya hanya mengacu kepada gereja, pemerintahan
pendeta, dan bisanya Gereja Katolik Roma. Dalam pengertian yang lebih luas merujuk pada
organisasi bertingkat dari para pendeta atau paderi (Halsey, 2000: 433)..
Berbeda dengan pemahaman ”hirarki” dalam ilmu-ilmu sosial modern menurut
Dommant (1970) hirarki didefinisikan sebagai ”jenjang komando yang diterima anak tangga
yang lebih bawah dari jenjang di atasnya secara berurutan” (1970). Jadi definisi Dummont
tersebut mengembangkan analisis yang terpadu mengenai sistem kasta sebagai sebuah
susunan peringkat. Dengan demikian hirarki memperoleh tempat sebagai suatu bentuk
khusus dari apa yang digolongkan oleh sosiologi dan antropologi dengan label stratifikasi
sosial.
J. Generalisasi-generalisasi Sosiologi
Para ahli sosiologi mengasumsikan bahwa tingkah laku manusia adalah sistematis
dan terpolakan, dan sudah menetapkan sebagai tujuan utama untuk penemuan dalil-dalil
mereka seperti proposi-proposisi mereka yang dapat berperan untuk membangun teori yang
dapat digunakan untuk menjelaskan, meramalkan, dan mengendalikan tingkah laku
manusia. Para ahli sosiologi tidak seperti halnya dengan kaum sejarawan, mereka merasa
tidak perlu tertarik akan kasus tunggal, peristiwa, ataupun fenomena. Sedangkan seorang
sejarawan mungkin menulis suatu biografi dari suatu individu yang telah dicatat sehariharinya
oleh seorang pemimpin.
Kita menandai lebih awal sosiologi ditandai oleh suatu kelangkaan tentang teori
empiris, dan beberapa usulan pertimbangan mungkin untuk status teori sosiologi yang
sekarang. Teori terdiri dari pernyataan empiris yang disebut generalisasi atau dalil. Kadangkadang
generalisasi disebut prinsip atau hukum, tetapi istilah ini pada umumnya disediakan
untuk generalisasi dengan penerapan yang paling luas ( Zetterberg, 1966: 14). Karena
hampir tiap-tiap pernyataan digeneralisasikan dalam sosiologi terbatas dalam beberapa
contoh dalil empiris dalam sosiologi tidaklah sering disebut hukum. Generalisasi sosiologi
sering memecahkan/ berubah ke bawah situasi dan kondisi-kondisi tertentu, atau
kekurangan banyak pendukungan empiris. Bagaimanapun, sedikitnya beberapa hukum
sosiologi ada, tetap ada konsensus sedikit tentang berapa banyak ada sebab para ahli
sosiologi tidak setuju pada apa yang terdapat pada suatu hukum (Zetterberg, 1966: 13).
1. Masyarakat
Pada hakikatnya masyarakat itu dapat diibaratkan sebuah sistem, di mana di dalamnya
terdiri atas beberapa unsur atau elemen (lembaga-lembaga sosial) yang memiliki fungsinya
masing-masing dan saling memiliki keterkaiatan antar unsur/eleman tersebut, dalam
berproses untuk mencapai suatu tujuan.
48
2. Peran
Di era globalisasi ini peran negara-bangsa dalam mengontrol ataupun mengendalikan
iformasi sudah demikian jauh berbeda. Berbagai tantangan baru yang beroperasi serentak
dalam suatu waktu di tingkat planet, mengindikasikan semakin ”sirnanya” batas-batas
kadaulatan dan otonomi politik, budaya, dan ekonomi, yang dapat mengikis integritas dan
otonomi suatu negara-bangsa.
3. Norma
Sebagai konsekuaensi adanya perubahan sosial, para pendukung aliran evulusi beranggapan
bahwa norma-norma sosial-pun ikut berubah atau berevolusi. Bahkan menurut Herbert
Spencer (1820-1903), seluruh alam itu baik yang berwujud nonorganis, organis, maupun
superorganis (kebudayaan) semuanya berevolusi karena didorong oleh kekuatan mutlak
yang disebut evolusi universal.
4. Sanksi
Sanksi yang merupakan suatu rangsangan untuk melakukan/tidak melakukan perbuatan
tertentu, meruapakan kaidah hukum dalam yang selalu ada pada setiap masyarakat, bangsa,
dan negara. Untuk mencapai ketertiban sosial. Apakah seseorang pelanggar hukum akan
dikenakan sanksi represif ataukah kuratif, yang terpenting adalah masyarakat dan
pemerintah harus menyediakan langkah restitutif yang komprehensif dalam mengembalikan
nama baik dan kedudukan seseorang yang menyangkut hari depan dan kehormatannya.
5. Interaksi Sosial
Sebagai mahluk sosial, manusia selalu berinteraksi baik secara individual maupun kelompok.
Interaksi sosial itu bisa terjadi melalui proses-proses sugesti, identifikasi, simpati dan
imitasi.
6. Konflik Sosial
Manusia hidup selalu berkelompok dari dua individu atau lebih, di mana dalam kelompok
tersebut saling berinteraksi dan tolong-menolong untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam
interaksinya manusia itu pula selalu selalu terkandung benih-benih konflik sosial baik itu
yang rasional maupun irasional. Konflik-konflik sosial yang rasional yang kecenderungannya
dapat dikelola secara positif, bisa dikategorikan sebagai bagian integral dalam dinamika
sosial, sedangkan konflik-konflik irasional merupakan tipe konflik yang bersifat
disfungsional.
7. Perubahan Sosial
Perubahan sosial yang menunjuk pada kepada perubahan fenomena sosial baik individu
maupun kelompok pada struktur maupun proses sosial, pada hakikatnya dapat dipelajari
baik itu tentang sebab-sebab terjadinya, bagaimana proses perubahan itu terjadi, maupun
pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan oleh perubahan sosial tersebut
8. Organisasi Sosial
Organisasi sosial pada hakikatnya merupakan artikulasi sosial dari bagian-bagian yang
merupakan satu kesatuan fungsional. Suatu organisasi sosial jika salah satu unsur atau
komponennya itu tersumbat, dapat menimbulkan disorganisasi sosial. Sebagai contoh, jika
lembaga yudikatiff tidak mampu mengemban tugasnya sebagai lembaga ”peradilan” maka
yang terjadi bukan sekedar partisipasi politik mereka menjadi menurun, melainkan dapat
terjadi suatu bentuk masyarakat yang anarkhis.
9. Penyimpangan
Munculnya penyimpangan yang sering dikaitkan dengan perilaku yang ”berbeda dan aneh”
tidak disebabkan oleh satu faktor penyebab; bisa karena faktor ketidaktahuan/ kurang
49
wawasan, pergeseran standar, ambivalensi moral, dinamika sosial, inkonsistensi tindakan
dan sebagainya.
10. Globalisasi
Era globalisasi ditandai oleh ”menipisnya” batas-batas negara-bangsa secara politik,
ekonomi, budaya. Sebab pada era globalisasi tersebut pengaruh aspek teknologi informasi
khususnya sedemikian cepat meluas dan mudahnya akses informasi-informasi kendatipun
hal itu terjadi di belahan bumi yang terpencil.
11. Patronase
Patronase seringkali menimbulkan korupsi . Sumber-sumber publik dipakai sebagai sumber
penyuapan. Individu-individu yang berhutang karir dan posisi kepada patron mereka akan
dipaksa untuk melaksanakan tindakan-tindakan ilegel. Hak-hak warga negara diletakkan di
bawah hak istimewa para klien (Pasquino, 2000: 737).
12. Kelompok
Dalam sosiologi sangat berkepentingan dengan studi tentang kelompok (groups) , sebab
melalui kajian tentang kelompok tersebut dapat mempelajari berbagai hubungan yang
bersifat kebiasaan (habitual), melembaga, atau yang bertahan lama, yang biasanya terjalin
antar kelompok. Dan, kelompok itu sendiri dipandang sebagai elemen penting dalam
struktur sosial (Holy, 2000: 421).
13. Patriarki
Dalam masyarakat modern sekarang ini, sistem masyarakat patriarki sering mendapat
reaksi dari kaum feminis radikal. Kaum feminis tersebut berasumsi bahwa perbedaanperbedaan
biologis antara pria dan wanita tidak harus diperhitungkan yang menyebabkan
banyaknya cara menguraikan berbagai hubungan antar jenis kelamin. Begitu juga
masyarakat non Barat tidak harus membuat suatu pembedaan dikotomi biologi yang jelas
antara pria dan wanita, juga antara alam dengan budaya (Atkinson dan Errington, 1990;
MacCormac dan Strathern, 1980).
14. Hirarki
Bagi seseorang anggota militer, semestinya memahami hirarki kepangkatan dan jenjang
komnado yang berlaku dalam kesatuannya. Hal ini akan berbeda dengan sistem masyakat
sipil yang menekankan prinsip-prinsip egaliter dan kesetaraan lainnya yang lebih
demokratis.
K. Teori-teori Sosiologi
Dalam kebanyakan ilmu pengetahuan yang lebih tua, seperti ilmu-ilmu phisik dan
kimia, kebanyakan dari bidang ilmu pengetahuan tersebut diterangkan oleh sejumlah Grand
Theory yang sangat komplementer dan saling berhubungan yang diterima oleh semua
spesialis dalam disiplin itu. Grand Theory adalah seluruh abstrak dan termasuk teori yang
menjelaskan kebanyakan dari fakta dalam suatu disiplin dan menempatkan kebanyakan dari
prinsip dan peraturan umum ke dalam suatu sistem terpadu. Contoh grand theory yang
populer adalah teori tindakan sosial dan teori sistem sosial.
1. Teori Tindakan Sosial dan Sistem Sosial dari Parsons
Teori ‘tindakan sosial’ Parsons, sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran
sosiolog sebelumnya seperti; Alfred Marshall, Vilfredo Pareto, Emile Durkheim, dan Max
Weber, yang dituangkan dalam karyanya “The Stucture of Social Action”.(1937). Inti
argumennya adalah bahwa: “keempat tokoh teoretisi tersebut akhirnya sampai pada suatu
titik temu dengan elemen-elemen dasar untuk suatu teori tindakan sosial yang bersifat
voluntaristik, walaupun mereka berbeda dalam titik tolaknya”. Kemudian dalam analisisnya
Parsons menggunakan kerangka alat-tujuan (means-ends framework), yang intinya: (a)
tindakan itu diarahkan pada tujuannya atau memiliki suatu tujuan; (b) tindakan terjadi
dalam suatu situasi, di mana beberapa elemennya sudah pasti, sedangan elemen-elemen
50
lainnya digunakan oleh yang bertindak sebagai alat untuk menmcapai tujuan tersebut; (3)
secara normative tindakan itu diatur sehubungan dengan penentuan alat dan tujuan. Dalam
arti bahwa tindakan itu dilihat sebagai satuan kenyataan sosial yang paling kecil dan paling
fundamental. Elemen-elemen dasar dari suatu tindakan adalah; tujuan, alat, kondisi dan
norma (Johnson, 1986, 106). Antara alat dan kondisi itu berbeda dalam hal di mana orang
yang bertindak itu mampu menggunakan alat dalam usahanya mencapai tujuan; sedangkan
kondisi merupakan aspek situasi yang dapat dikontrol oleh yang bertindak tersebut.
Sedangkan untuk teori sistem sosial, Parsons melihatnya bahwa kenyataan sosial dari
suatu perspektif yang sangat luas, yang tidak terbatas pada tingkat struktur sosial saja.
Berulang kali ia menunjuk pendekatannya sebagai suatu teori mengenai tindakan yang
bersifat umum sebagaimana ia ungkapkan ide-idenya tersebut dalam karyanya Toward A
General Theory of Action (1951a) bersama Edward A. Shils, dan The Social System (1951b) .
Sistem sosial hanyalah sasalh satu dari sistem-sistem yang termasuk dalam perspektif
keseluruhan; sistem kepribadian dan sistem budaya merupakan sistem-sistem yang secara
analitis dapat dibedakan, juga termasuk di dalamnya. Seperti hanlnya dengan organisme
perilaku. Dalam analisisnya lebih lanjut, sistem-sistem sosial terbentuk dari tindakantindakan
sosial individu.
Dalam teori sistem sosial tersebut Parsons dan rekan-rekanya mengembangkan
kerangka A-G-I-L (Adaptation, Goal Attainment, Integration, dan Latent Pattern
Maintenance) (Johnson, 1986: 129-131), sebagai empat persayarat-persyaratan fungsional
dalam semua sistem soail dikembangkan. Adaptation, memunjuk kepada keharusan bagi
sistem-sistem sosial untuk menghadapi lingkungannya baik itu yang bersifat ‘transformasi
aktif dari situasi’ yang pada umumnya segi-segi situasi yang dapat dimanipulasi sebagai alat
untuk mencapai tujuan, dan ‘inflexible’ suatu kondisi yang tidak dapat ataupun sukar diubah.
Goal Attainment, merupakan persyaratan fungsional yang berasumsi bahwa tindakan itu
selalu diarahkan pada tujuannya terutama pada tujuan bersama para anggota dalam sustu
sistem sosial. Integration, merupakan persyaratan yang berhubungan dengan interelasi
antara para anggota dalam suatu sistem sosial. Sedangkan Latent Pattern Maintenance,
menunjukkan pada berhentinya interaksi, baik itu karena letih ataupun jenuh, serta tunduk
pada sistem sosial di mana dia berada.
Keempat persyaratan fungsional tersebut dipandang Parsons sebagai suatu
keseluruhan yang juga terlibat dalam saling tukar lingkungannya. Lingkungan sistem sosial
itu terdiri atas; lingkungan fisik, sistem kepribadian, sistem budaya, dan organisme perilaku.
Pendekatan fungsionalisme structural sebagaimana yang telah dikembangkan oleh Parsons
dan para pengikutnya, dapat kita kaji melalui sejumlah anggapan dasar mereka sebagai
berikut:
(1) Masyarakat haruslah dilihat sebagai suatu sistem daripada bagian-bagian
yang saling berhubungan satu sama lain.
(2) Dengan demikian hubungan pengaruh mempengaruhi di antara bgianbagian
tersebut adalah bersifat ganda dan timbal-balik.
(3) Sekalipun integrasi sosial tidak pernah dapat dicapai dengan sempurna,
namun secara fundamental sistem sosial selalu cenderung bergerak ke
arah equilibrium yang bersifat dinamis: menanggapi perubahanperubahan
yang dating dari luar dengan kecenderungan memelihara
agar perubahan-perubahan yang terjadi di dalam sistem sebagai
akibatnya hanya akan mencapai derajat yang minimal.
(4) Sekalipun disfungsi, ketegangan-ketegangan dan penyimpanganpenyimpangan
senantiasa terjadi juga, akan tetapi di dalam jangka
panjang keadaan tersebut pada akhirnya akan teratasi dengan
sendirinya melalui penyesuaian-penyesuaian dan proses
institusionalisasi. Dengan perkataan lain, sekalipun integrasi sosial pada
tingkatnya yang sempurna tidak akan pernah tercapai, akan tetapi setiap
sistem sosial akan senantiasa berproses ke arah itu.
(5) Perubahan-perubahan di dalam sistem sosial pada umumnya terjadi
secara gradual, melalui penyesuaian-penyesuaian, dsn yidsk secara
revolusioner. Perubahan-perubahan yang terjadi secara secara drastic
51
pada umumnya hanya mengenai bentuknya luarnya saja, sedangkan
unsur-unsur sosial budaya yang menjadi bangunan dasarnya tidak
seberapa mengalami perubahan.
Namun untuk sosiologi, tidak sepenuhnya berlaku grand theory seperti itu, sebab
belakangan ini juga banyak terjadi perubahan-perubahan. Walaupun mulanya ketika bidang
sosiologi muncul, suatu pencarian untuk penjelasan tingkah laku manusia yang tunggal dan
sesuatu teori penekanannya yang non-empirik mendominasi bidang tersebut. Awal
kehadiran para ahli sosiologi, seperti Auguste Comte dan para pengikutnya, pada umumnya
mereka adalah orang-orang di belakang meja (“sarjana salon”) di mana mereka sebagai
sosiolog tidak melalakukan riset empiris.
Sebaliknya, dalam sejarah ringkas sosiologi di samping mempunyai ahli grand
theory, juga memiliki peneliti-peneliti yang bersifat empiris ternama khusunya pada generasi
kedua.. Seperti sarjana sosiologi George Homans, Paul F. Lazarsfeld, dan Robert K. Merton
adalah kedua-duanya ahli teori dan penganut aliran empirisme. Pada saat sekarang ini
semakin banyak ahli teori sosiologi yang melakukan penelitian empiris. Begitu juga tidak
menutup kemungkinan para ahli sosiologi akan mungkin bisa merumuskan perpaduan
grand theory dan empirisme sekali waktu di masa mendatang.
2. Teori Globalisasi ‘of Nothing’ dari George Ritzer
Dewasa ini kehadiran teori globalisasi begitu banyak menghiasi khasanah
keberagaman teori-teori sosiologi. Sebagai contoh teori globalisasi Kellner tentang Techno-
Capitalism, Anthony Giddens tentang Runaway Word Globalization, Zygmunt Bauman
tentang Konsekuensi Glbalisasi, George Ritzer tentang Globalization of Nothing, Arjun
Appadurai tentang teori Landscape dan lain-lain.
- Teori Globalisasi of Nothing dari George Ritzer
Dalam tulisannya yang berjudul The Globalization of Nothing (2004), Ritzer
mengemukakan bahwa:
1. Yang dimaksud ‘nothing’ oleh Rizer secara umum adalah bentuk yang dibayangkan dan
dikontrol secara sentral yang sebagian besar adalah kosong dari isi yang distingtif.
Dengan demikian ‘nothing’ berarti bukan sesuatu, yakni sesuatu bukan akibat dari
sesuatu yang lain., maka dari itu globalisasi cenderung menyebarkan nothing ke seluruh
dunia.
2. Sebaliknya, sesuatu (something) didefinisikan sebagai bentuk yang dibayangkan dan
dikontrol secara indigenous yang sebagian besar kaya dalam isi distingtif. Dengan
demikian lebih mudah untuk mengekspor bentuk-bentuk kosong ke seluruh dunia
daripada mengekspor bentuk-bentuk yang penuh dengan isi yang distingtif. Karena
bentuk-bentuk yang kosong lebih kecil kemungkinannya berkonflik dengan isi-isi lokal.
Selain itu bentuk-bentuk yang kosong karena minimalis, mereka mudah bereplikasi terus
menerus dan lebih menguntungkan karena reproduksinya relatif murah. Contohnya yang
mudah kita kenal adalah mall perbelanjaan, yang merupakan struktur yang sebagian
besar kosong dan mudah direplikasi ke seluruh dunia serta dapat diisi dengan barangbarang
yang spesifik tanpa batas atau diisi something..
3. Terdapat empat tipe nothing yang sebagian ataupun semuanya kosong dari isi yang yang
distingtif namun sedang mengglobal, yakni:
(a) non-places atau setting yang sebagian besar kosong dari isi, misalnya mall seperti
yang telah didiskusikan di atas;
(b) non-things, sepert kartu kredit, di mana tidak banyak berbeda dari kartu kredit
seseorang dengan jutaan kartu kredit orang lain;
(c) non-people, atau jenis karyawan yang diasosiasikan dengan misalnya telemarketer
dan berinteraksi dengan semua konsumen dengan cara yang hampir sama dengan
mengandalkan pada scripts;
(d) non-servis, misalnya yang disediakan oleh ATM di mana pelayanan yang disediakan
sama, konsumen mengerjakan sesuatu untuk mendapatkan layanannya, di mana hal
ini berbeda dengan karyawan teller bank.
52
4. Untuk membedakan nothing dengan something, non-places dengan places, non-peolple
dengan people, non-services dengan services, tersebut terdapat lima hal yang dapat
dilakukan. Dan, kutub sebelah kiri dari perbedaan ini adalah:ujung dari kontinum
“sesuatu” (something), sedangkan yang kanan adalah ujung “bukan sesuatu” (nothing)
(a) Unique ⎯ Generic, dan yang unik cenderung menjadi something. Misalnya Olden
burg (1989) telah menulis apa yang dinamakan “great good places” seperti kedai
dan kafe local. Hal-hal yang berhubungan dengan; makanan dan pelanggannya
berada pada ujung unik. Sedangkan gerai rantai fast-food jelas merupakan contoh
generic.
(b) Local-Ties ⎯ Lack of Local Ties. Ikatan terhadap komunitas local cenderung
diasosiasikan dengan something, sedangkan kurangnya ikatan semacam itu
diasosiasikan dengan nothing.
(c) Temporally Specific ⎯ Timeless. Seperti halnya yang terikat dengan ruang, hal-hal
yang teriakt dengan periode waktu tertentu cenderung menjadi something,
sedangkan yang tidak terikat dengan waktu tertentu cenderung menjadi nothing.
(d) Humanized ⎯ Dehumanized. Hal yang banyak memuat hubungan antar manusia
cenderung menjadikan something, sedangkan yang kurang berhubungan dengan
manusia itu cenderung nothing seperti konsep dehumanisasi.
(e) Enchanted ⎯ Disenchanted. Kontinum ini cenderung mengumpulkan semua yang
sudah ada. Yang merupakan something cenderung mempunyai kualitas dan daya
“magis” yang memikat, sedangkan yang nothing lebih memungkinkan bersifat tidak
begitu memikat ataupun magis. Dengan demikian makanan yang diberikan kepada
kita dari Domino dan dalam paket yang dapat dimasak dalam microwave untuk
makan malam, tampaknya sedikit kemungkinannya untuk membuat kita terpesona
pada makanan itu. Sebaliknya makanan yang dibuat sendiri oleh ahlinya,
memungkinkan akan lebih diminati dan menarik
3. Teori Evolusi Sosial Spencer
Dalam bukunya yang berjudul Principles of Sociology (1876-1896) Spencer, seorang
sosiolog Inggeris yang banyak menggunakan bahan etnogafi secara luas dan sistematis
mengemukakan teorinya sebagai berikut:
a. Masyarakat yang merupakan suatu organisme, berevolusi menurut pertumbuhan manusia,
seperti tubuh yang hidup, masyarakat bermula seperti kuman, berasal dari massa yang
dalam segala hal dapat dibandingkan dengan massa itu sebagian di antaranya akhirnya
dapat didekati. (Spencer dalam Lauer, 2003: 80).
b. Suku primitif berkembang melalui peningkatan jumlah anggotanya, perkembangan itu
mencapai suatu titik di mana suatu suku terpisah menjadi beberapa suku yang secara
bertahap timbul beberapa perbedaan satu sama lain. Perkembangan ini bisa terjadi
seperti pengulangan maupun terbentuk dalam proses yang lebih luas dalam penyatuan
beberapa suku. Penyatuan ini terjadi tanpa melenyapkan pembagian yang sebelumnya
disebabkan oleh pemisahan
c. Pertmbuhan masyarakat tidak sekedar menyebabkan perbanyakan dan penyatuan
kelompok, tetapi juga meningkatkan kepadatan penduduk atau meningkatkan
solidaritas, bahkan memejukan massa yang lebih akrab.
d. Dalam tahapan masyarakat yang belum beradab (un-civilised) itu bersifat homogen,
karena mereka terdiri dari kumpulan manusia yang memiliki kewenangan, kekuasaan,
dan fungsi yang relatif sama, terkecuali masalah jenis kelamin.
e. Suku nomaden memiliki ikatan, karena dipersatukan oleh oleh ketundukan kepada
pemimpin suku. Ikatan ini mengikat hingga mencapai masyarakat beradab yang cukup
diintegrasikan bersama ”selama 1000 tahun lebih”.
f. Jenis kelamin pria, diidentikkan dengan simbol-simbol yang menuntut kekuatan fisik
seperti; keprajuritan, pemburu, nelayan, dan lain-lain.
g. Kepemimpinan muncul sebagai konsekuensi munculnya keluarga yang sifatnya tidak
tetap atau nomaden.
53
h. Wewenang dan kekuasaan seseorang ditentukan oleh kekuatan fisik, kecerdikan
seseorang dan selanjutnya kewenangan dan kekuasaan tersebut memiliki sifat yang
diwariskan dalam keluarga tertentu.
i. Peningkatan kapasitas juga menandai proses pertumbuhan masyarakat. Organisasiorganisasi
sosial yang mula-mula masih samar-samar, pertumbuhannya mulai mantap
secara perlahan-lahan, kemudian adat menjadi hukum, hukum menjadi semakin khusus
dan institusi sosial semakin terpisah berbeda-beda. ”Jadi dalam sebaga hal memenuhi
formula evolusi. Ada kemajuan menuju: ukuran, ikatan, keanekaragaman bentuk dan
kepastian, yang semakin besar (Spencer dalam Lauer, 2003: 81)
j. Perkembangan juga ditandai oleh adanya pemisahan unsur-unsur religius dan sekuler.
Begitu-pun sistem pemerintahan bertambah kompleks, dan diferensiasi juga timbul
dalam organisasi sosial termasuk tumbuhnya kelas-kelas sosial dalam masyarakat yang
ditandai oleh suatu pembagian kerja.
4. Teori Teknologi dan Ketinggalan Budaya (Cultural Lag) dari Ogburn
William F. Ogburn yang mendapat pendidikan di Universitas Columbia dan
menghabiskan sebagian besar hidup akademisnya di Iniversitas Chicago, sumbangannya
yang apaling terkenal terhadap bidang sosiologi adalah konsepnya tentang ketinggalan
budaya (cultural lag). Konsep ini mengacu kepada kecenderungan dari kebiasaan-kebiasaan
sosial dan pola=pola organisasi sosial yang tertinggal di belakang (lag behing) perubahanperubahan
dalam kebudayaan materiil. Akibatnya adalah bahwa perubahan sosial selalu
ditandai oleh ketegangan antara kebudayaan materil dan nonmaterial (Ogburn, 1964: 199-
280). Pemikiran-pemikiran Ogburn dapat digolongkan dalam pendekatan perilaku
(behaviorisme), oleh karena itu Ogburn dalam karyanaya Social Change with Resp[ect to
Culture and Original Nature, mengemukakan:
a. Perilaku manusia merupakan produk warisan sosial atau budaya, bukan , dan bukan
produk faktor-faktor bilogis yang diturunkan lewat keturunan.
b. Kenyataan sosial pada dasarnya terdiri atas pola-pola perilaku individu yang nyata dan
konsekuensi-konsekuensinya. Pola-pola perilaku nyata memperlihatkan suatu tingkat
keteraturan yang tinggi yang melahirkan penemuan-penemuan baru yang inovatif,
sedangkan konsekuensi-konsekuensinya adalah ketimpangan integrasi (malintegration)
atau ketegangan antara kebudayaan materi yang jauh lebih maju dengan kebudayaan
non-materi yang tertinggal.
c. Perubahan-perubahan kebudayaan materil terbentang dari mulai dari penemuan awal
seperti perkakas tangan sampai ke komputer yang beroperasi dengan cepat, dan satelitsatelit
komunikasi. Sedangkan kebudayaan non-materil seperti kebiasaan, tata cara
organisasi sosial, yang akhirnya berkonsekuensi harus menyesuaikan diri dengan
kebudayaan-kebudayaan materil. Namun karena adanya berbagai sumber yang menolak
perubahan, proses penyesuaian ini selalu ketinggalan di belakang perubahan-perubahan
budaya materil. Akibatnya adalah terjadinya ketimpangan integrasi (malintegration)
atau ketegangan budaya antara budaya materil dan non-materil.
d. Kebudayaan non-materil yang tidak mampu mengejar karena kecepatan perubahan
dalam kebudayaan materil terus-menerus melaju. Hasilnya adalah suatu ketegangan
yang terus-menerus meningkat antara budaya materil dengan non-materil akhirnya
selalu menimbulkan ketertinggalan budaya (cultur lag) khususnya budaya non-materil
DAFTAR PUSTAKA
Abdulsyani, (1987) Sosiologi Kriminalitas, Bandung: Remadja Karya.
54
Adler, J. (1979) Artist in Office: An Ethnography of an Academic Art Scene, New Brunswick, NJ:
Transaction Books.
Adorno, dan Horkheimer, (1949) Dialectic of Enlightenment, New York: The Seabury Press
Adorno, T., Frenkel-Brunswick, E., dan Levinson, D.J. (1950) The Authoritarian Personality, New
York, Longman.
Al-Sharqawi, Effat, (1986) Filsafat Kebudayaan Islam, Terjemahan Ahmad Rofi Usmani, Bandung:
Pustaka.
Amstrong, David, (2000) “Sosiologi Medis” dalam Kuper, Adam & Kuper, Jesica, (ed) (2000)
Ensiklopedi Ilmu-ilmu Sosial, Jilid I, Diterjemahkan Oleh Haris Munandar dkk, Jakarta: Raja
Grafindo Persada, hlmn. 643-646.
Bandura, Albert (1973) Aggression: A Social Learning Analysis, Englewood Cliffs, N.J: Prentice Hall.
Banks, James, A. (1970) Teaching the Black Experience: Methods and Materials, Belmont, Calif:
Fearon.
Banks, James A. (1977) Teaching Strategies for the Social Studies: Inquiry, Valuing, and Decision-
Making, Phippines,: Addison-Wesley Publishing Company.
Barthes, (1957) ada di 50 Tokoh Folsafat
Bauman, Zygmunt (2000) “Sosiologi” dalam dalam Kuper, Adam & Kuper, Jesica, (ed) (2000)
Ensiklopedi Ilmu-ilmu Sosial, Diterjemahkan Oleh Haris Munandar dkk, Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
Becker, Carl, L.(1932) The Heavenly City of the Eighteenth Century Philosophers, New Haven: Yale
University Press.
Becker, H. (1982) Art Words, Berkeley, CA: University of California Press.
Berlin, Isaiah (1956) “The Age of Enlightenment”, vol.iv dalam The Great Ages of Western Philosophy,
Boston: Houghton Mifflin.
Braudel, Fernand. (1979) Civilization and Capitalism, 3 jilid; terjemahan Bahasa Inggris, London,
1980-1982.
Braudel, Fernand (1966) The Mediterranean and the Mediterranean World in the Age of Philip II,
second edition, Terjemahan Bahasa Inggeris, London.
Cannell, Fenella, (2000) “Patriarki” dalam Kuper, Adam & Kuper, Jesica, (ed) (2000) Ensiklopedi
Ilmu-ilmu Sosial, Jilid I, Diterjemahkan Oleh Haris Munandar dkk, Jakarta: Raja Grafindo
Persada, hlmn. 734-736..
Capaldi, Nicholas (ed) (1967) The Enlightenment-The Proper Study of Mankind, New York:
G.P.Putnam’s Sons.
Chamblisss, Rollin (1954) Social Thought, New York: Dryden.
Cialdini, Robert. B. (2000) “Norma” dalam Kuper, Adam & Kuper, Jesica, (ed) (2000) Ensiklopedi
Ilmu-ilmu Sosial, Jilid 2, Diterjemahkan Oleh Haris Munandar dkk, Jakarta: Raja Grafindo
Persada, halm. 708-709.
Cockburn, C. (1983) Brothers, London: Routledge & Kegan Paul
Collins, Randall, (1975) Conflict Sociology: Toward an Explanatory Science, New York: Academic
Press.
Comte, Auguste, (1958) The Positive Philosophy of Auguste Comte, Terjemahan Harriet Martineau,
New York: Calvin Blancahard.
Conrad, P. dan Schneider, J.W. (1980) Deviance and Medicalization: From Badness to Sickness,
St.Louis MO.
Coser, Lewis, A. (1956) The Function of Social Conflict, Glencoe, III,: Free Press.
Coward, R. (1983) Patriarchal Precedents: Sexuality and Social Relations, London. :
Dahrendorf, Ralf, (1959) Class and Class Conflict in Industrial Society, Stanford University Press.
Deegan, M. (1988) Jane Addams and the Men of the Chicago School: 1892-1918, New Brunswick,
N.J.: Transaction Books.
55
Douglas M. (1980) Constructive Drinking, Cambridge/Paris
Durkheim, Emile (1964a) The Division of Labour in Society, Terjemahan George Simpson, New York:
Free Press.
Durkheim, Emile (1966) Suicide, Diterjemahkan oleh John A. Spaulding and George Simpson, George
Simpson (ed), New York: Free Press.
Durkheim, Emile (1964b) The Rules of Sociological Method, Terjemahan Sarah A. Solovay dan John
H. Mueller, dan George E.G. Catlin (ed), New York.
Dummont, L. (1970) Homo Hierarchicus, London: Routledge & Kegan Paul
Faris, Robert E.L. (1964) “The Discipline of Sociology” In Robert E.L. Faris, ed. Handbook of Modern
Sociology, Chicago: Rand McNally.
Fichter, Joseph.H. (1957) Sociology, Chicago: University of Chicago Press.
Foucault, Michel (1973) The Archeology of Knowledge, Diterjemahkan oleh A.M. Sheridan-Smith,
London: Tavistock.
Foucault, Michel (1967) The Order Things: An Arkheology of Human Science, Terjemahan dari
bahasa Prancis, New York: Vintage.
Fraenkel, Jack, R. dan Wallen Norman,F. (1993) How to Design and Evaluate Research in Education,
New York: McGraw-Hill.Inc.
Friedson, E. (1970) Prfesion of Medicine, New York: Oxxford University Press.
Gadamer, H.G. (1975 [1960]} Truth and Method, London. (Edisi Asli: Wartheit und Methode,
Tubingen).
Garfinkel, Harold (1967) Studies in Ethnomethodology, Englewood Cliffs, N.J: Prentice-Hall.
Gerungan, W.A. (2000) Psikologi Sosial, Bandung: Refika Aditama.
Gibbs, Jack.P. ed. (1968) Suicide, New York: Harper & Row.
Giddens, Anthony (1976) New Rules of Sociological Methods: A Positive Critique of Interpretative
Sociology, London.
Gillin, John Lewis dan Gillin, John Philip (1954) Cultural Sociology, Cetakan Ketia, New York: The
MacMillan Company.
Gie, The Liang (1999) Pengantar Filsafat Ilmu, Edisi Kedua (Diperbaharui) Yogyakarta: Penerbit
Liberty.
Gordon, Milton, M. (1964) Assimilation in American Life, New York: Oxford University Press.
Reprinted with permission.
Grint, Keith (2000) “Sosiologi Industri” dalam Kuper, Adam & Kuper, Jesica, (ed) (2000) Ensiklopedi
Ilmu-ilmu Sosial, Jilid 2, Diterjemahkan Oleh Haris Munandar dkk, Jakarta: Raja Grafindo
Persada, halm. 487-489.
Grint, Keith, dan Woolgar, S.(1994) Deus ex Mahcina, Camridge, UK.
Hall, S. (1992) “The Question Cultural Identity” dalam S. Hall,D., Held, dan A, McGrew, (eds)
Modernity and its Futures, Cambridge, UK.
Halsey, A.H. (2000) “Hirarki” dalam Kuper, Adam & Kuper, Jesica, (ed) (2000) Ensiklopedi Ilmuilmu
Sosial, Jilid 2, Diterjemahkan Oleh Haris Munandar dkk, Jakarta: Raja Grafindo
Persada, halm. 433-435.
Hempel, Carl, G. (1965) Aspects of Scientific Explanation, New York: Free, Press.
Hempel, Carl, G. (1952) “Methods of Concept Formation in Science”, dalam International
Encyclopedia of Unified Science, Chicago: University of Chicago Press.
Hightower, J. (1973) Hard Tomatoes, Hard Times, Camridge, MA
Homans, George,C. (1974) Social Behavior: Its Elementary Forms, New York: Brace and Jovanovich.
Homans, Gerge, C. (1961) Sentimens and Activities, New York: Free Press Glencoe.
Holy, Ladislav (2000) “Kelompok” dalam Kuper, Adam & Kuper, Jesica, (ed) (2000) Ensiklopedi
Ilmu-ilmu Sosial, Jilid I, Diterjemahkan Oleh Haris Munandar dkk, Jakarta: Raja Grafindo
Persada, hlmn. 421.
56
Horton, Paul, B. dan Hunt, Chester,L. (1991) Sosiologi Jilid 1, Alih Bahasa Aminuddin Ram dan Tita
Sobari, jakarta: Erlangga.
Inkeles, Alex (1965) What is Sociology? An Introduction to the Discipline and Profession., Englewood
Cliffs, N.J. Prentice-Hall.
Johnson, Doyle Paul, (1986) Teori Sosiologi: Klasik dan Modern, Jilid 1,, Diindonesikan Oleh; Robert
M.Z. Lawang, Jakarta: PT Gramedia.
Johnson, Doyle Paul (1986b) Teori Sosiologi: Klasik dan Modrn, Jilid 2, Diindonesikan Oleh; Robert
M.Z. Lawang, Jakarta: PT Gramedia.
Kaplan, Abraham (1964) The Conduct of Inquiry, San Francisco: Chandler Publishing Company.
Kennedy, Paul (1995), Menyiapkan Diri Menghadapi Abad Ke-21, Penerjemah Yayasan Obor
Indonesia (Maimoen S), Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Khaldun, Ibnu (1284 H) Al-Muqqadimah, Kairo: al-Maktabah al-Tijariyyah al-Kubra.
Kumar, Krishan, (2000) Masyarakat Sipil atau Madani dalam Kuper, Adam & Kuper, Jesica, (ed)
(2000) Ensiklopedi Ilmu-ilmu Sosial, Jilid I, Diterjemahkan Oleh Haris Munandar dkk,
Jakarta: Raja Grafindo Persada, halaman 113-115.
Kamerman, JB. Dan Martore;;a, R. (eds) (1983) Performers and Performances, New York: Free Press.
Kuntjoro-Jakti, Dorodjatun (1980) “Birokrasi di Dunia Ketiga, dalam Prisma, No.10 Oktober 1980
TahunIX, Jakarta:LP3ES, hlm. 3-8.
Kun, Thomas.S. (1970) The Structure of Sientific Revolutin, 2nd edition, Chicago: University of Chicago
Press.
Laeyendecker, L. (1991) Tata, Perubahan, dan Ketimpangan: Suatu Pengantar Sejarah Sosiologi,
Penerjemah Samekto SS, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Lauer, Robert H. (2001) Perspektif Tentang Perubahan Sosial, Alih BahasaAlimandan S.U., Jakarta:
Rineka Cipta.
Levi-Strauss, C. (1963) Structural Anthropology, New York.
Levi-Strauss, C. (1977) Structural Antrophology, Vol.II, London.
Lockwood, David (1965) Some Remarks on The Social System, dalam N.J. Demerath III et.al. eds.
Long, Norman, (2000) “Sosiologi Pedesaan”, dalam Adam Kupper & Jessica Kupper, Ed. Ensiklopedi
Ilmu-ilmu Sosial, Diterjemahkan Haris Munandar dkk. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.,
hlmn. 941-944.
Long, Norman, (1977) Introduction to the Sociology of Rural Development, London: Longman
Magnis-Suseno, Franz (1999) Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan
Revisionisme, Jakarta: PT Gramedia.
Martindale, Don, (1960) The Nature and Types of Sociological Theory, Boston: Houghton Mifflin.
Marx, Karl (1971) Economy, Class, and Social Revolution, diedit dan uraian pendahuluan oleh Z. A.
Jordan, London: Michael Joseph.
Marx, Karl da. Engels, F. (1970) Manifesto of the Communist Party, Peking: Foreign Language Press.
Marx, Karl (1955) The Communist Manifesto, New York: Appleton-Century-Crofts.
Merton, Robert. K. (1967) On Theoretical Sociology, New York: The Free Press.
Mead, George Herbert, (1934) Mind, Self, and Society, Kata Pengantar dan editor oleh Charls W.
Morris, Chicago: University of Chicago Press.
Moleong, Lexy. J. (1998) Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nagel, Ernest (1967) :”The Nature and Aim of Science” dalam Sidney Morgenbesser,: Philosophy of
Science Today, New York: Basic Books, 3-13.
Nagel, Ernest (1960) “Measurement” dalam Arthur Danto dan Sidney Morgenbesser Philosophy of
Science, Cleveland: World Publishing, Co.
Nagel , Ernest (1961) The Structure of Science, New York: Harcourt, Brace and World, Inc.
Newby, H. (1980) “Rural Sociology: a trend report”, Current Sociology, 28
57
Nisbet, Robert.A. (1966) The Sosiological Tradition, New York: Basics Books.
Ohmae, Kenichi (2002) Hancurnya Negara-Bangsa, Bangkitnya Negara Kawasan dan Geliat
Ekonomi Regional di Dunia tak Terbatas, Penerjemah Ruslani, Yogyakarta: Qalam
Ogburn, W.F. & Nimkoff, M.F. (1959) A Hanbook of Sociology, London: Routledge & Kegan Paul,Ltd.
Ogburn, William,F. (1964) Social Change with Respect to Culture and Original Nature, Gloucester,
Mass: Peter Smith.
O’Leary K.D. dan O’Leary.S.G. (1977) Classroom Management: The Succesful Use of Behavior
Modification, New York: Pergamon Press, Inc.
Ollenburger, Jane C., dan Moore, Helen, A., (1996) Sosiologi Wanita, Penerjemah: Budi Sucahyono
dan Yan Sumaryana, Jakarta: Rineka Cipta.
Parsons, Talcott (1964) “Introduction” to Weber, The Theory of Social and Economic Organization,
New York: Free Press.
Parsons, Talcott dan Shils, Edward.A., (1951a) Toward A General Theory of Action, New York: Harper
& Row.
Pawluch, Dorothy (2000) “Permasalahan Sosial” dalam Kuper, Adam & Kuper, Jesica, (ed) (2000)
Ensiklopedi Ilmu-ilmu Sosial, Jilid I, Diterjemahkan Oleh Haris Munandar dkk, Jakarta: Raja
Grafindo Persada, hlmn. 993-995.
Pahl, R. (1966) “The Rural-Urban Continum” Sociologia Ruralis, 6.
Parsons, Talcott (1951b) The Social System, New York: Free Press.
Patton, Michael, Quinn, (1980) Qualitative Evaluation Methods, Baverly Hills: Sage Publications.
Pasquino, Gianfranco, (2000) “Patronase” dalam Kuper, Adam & Kuper, Jesica, (ed) (2000)
Ensiklopedi Ilmu-ilmu Sosial, Jilid I, Diterjemahkan Oleh Haris Munandar dkk, Jakarta: Raja
Grafindo Persada, hlmn. 736-737.
Popenoe, David, (1983) Sociology, Fifth Edition, Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Popper, Karl, R. (1968) The Logic of Scientific Discovery, New York: Science Editions.
Popper, Karl, R. (1964) The Open Society and Its Enemies, London: Routledge & Kegan Paul
Ricoeur, P. (1981) Hermeneutics and the Human Science: Essay on Language, Action and
Interpretation, ed. Terjemahan oleh J.B.Thomson, Cambridge, UK.
Raffini, James. P. (1980) Discipline: Negotiating Conflicts With Today’s Kid’s, Englewood, New
Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Ritzer, George (2004) Globalization of Nothing; Why So Many Make So Much Out of So Little,
Thousand Oaks, Calif: Pine Forge Press.
Ritzer, George, (1970) Sociology: A Multiparadigm Science, Boston: Allyin and Bacon.
Rosenberg, Max, (1955) Introduction to Philosophy, New York: Philosophical Library.
Rosenblum, B. (1978) Photographers at Work: A Sociology of Photographic Styles, NY: Basic Books.
Roucekj dan Waren (1962) Sociology, An Introduction, Peterson, New Jersey; Littlefield, Adam & Co.
Samuelson, Paul,A. dan Nordhaus, William,D. (1990) Ekonomi, Jilid 1, Diterjemahkan Oleh Jaka
Wasana, Jakarta: Erlangga.
Sanderson, Stephen, K. (1995) Sosilogi Makro: Sebuah Pendekatan Terhadap Realitas Sosial,
Diterjehkan Oleh Farid Wajidi dan S.Meno, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Schneider, J.W. dan Kitsuse, J.I. (eds) (1984) Studies in the Sociology of Social Problem, Norwood,
N.J.
Schutz, Alfred (1982) Lief Forms and Meaning Structure, London.
Shadily, Hasan (1952) Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia. Djakarta: PT. Pembangunan.
Shadily, Hasan (1986) Ensiklopedia Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka
Sharqawi, Effat (1986) Filsafat Kebudayaan Islam, Penerjemah: Achmad Rofi Usmani, Bandung:
Pustaka.
58
Simmel, George, (1968) The Coflict in Modern Culture and Other Essay, translated with an
introduction by K. Peter Etzkorn, New York: Teacher College.
Soekanto, Soerjono, (1984) Teori Sosiologi Tentang Perubahan Sosial, Jakarta: Ghalia Indonesia.
Soekanto, Soerjono, (1986) Sosiologi: Suatu Pengantar, Jakarta: Penerbit CV.Rajawali Press.
Soemardjan, Selo (1965) “Perkembangan Ilmu Sosiologi di Indonesia dari 1945 sampai 1065”, dalam
Research di Indonesia 1945-1965, Jilid IV, Bidang Ekonomi, Sosial dan Budaya, Departemen
Urusan Reseach Nasional Republik Indonesia.
Soemardjan, Selo (1972) Peranan Ilmu-ilmu Sosial di dalam Pembagunan, Pidato Ilmiah pada Dies
Natalis U.I. ke XXII, Jakarta: Universitas Indonesia.
Soemardjan, Selo, (1975) Komunikasi dan Pembangunan Masyarakat, Fakultas Ilmu-ilmu Sosial U.I.
Jakarta.
Sorokin, Pitirim (1957) Social and Cultural Dynamic, 1-Volume Edition, Boston: Porter Sargent.
Spencer, Herbert, (1967) Principle of Sociology, edited and with an introduction by Robert L.
Carneiro, Chicago: University of Chicago Press.
Spencer, Metta dan Inkeles Alex, (1982) Foundations of Modern Sociology, Englewood Cliffs, New
Jersey: Prentice Hall, Inc.
Stouffer, S.A. (1949) The American Soldier, Pricenton, N.J: Pricenton University Press.
Supardan, Dadang (2000) Kreativitas Guru Sejarah dalam Pembelajaran Sejarah (Studi Deskriptif-
Analitik terhadap Guru dan Implikasinya untuk Program Pengembangan Kreativitas Guru
Sejarah Sekolah Menengah Umum di Kota Bandung, Tesis Untuk Memperoleh Gelar
Magister Pendidikan, Program Pascasarjana UPI Bandung.
Supardan, Dadang, (2004) Pembelajaran Sejarah Berbasis Pendekatan Multikultural dan Perspektif
Sejarah Lokal, Nasional, Global, Untuk Integrasi Bangsa (Studi Kuasi Eksperimentl
Terhadap Siswa SMU di Kota Bandung), Disertasi Doktor, UPI Bandung.
Tonnies, Ferdinand (1963) Community and Society, edited and translated by charles P. Loomis, New
York; Harper & Row.
Van den Berghe, Piere L. (1967) “Dialectic and Functionalism: Toward aSynthesis”, dalam N.J.
Demerath III et al.eds. System Change, and Conflict, New York: The Free Press.
Von Bredow, Wilfried, (2000) “Sosiologi Militer” dalam Kuper, Adam & Kuper, Jesica, (ed) (2000)
Ensiklopedi Ilmu-ilmu Sosial, Jilid I, Diterjemahkan Oleh Haris Munandar dkk, Jakarta: Raja
Grafindo Persada, hlmn. 664-665..
Wajcman, J. (1991) Feminism Confronts Technology, Cambridge: UK.
Warttofsky, Marx,W. (1968) Conceptual Foundations of Scientific Thought: An Introduction to
Philosophy of Science, New York: McMillan.
Weber, Max, (1949) The Methodology of Social Sciences, diterjemahkan dan disunting oleh Edward A.
Shils dan Henry A.Finch, New York: The Free Press.
Wolff, Janet, (2000) “Sosiologi Seni” dalam Kuper, Adam & Kuper, Jesica, (ed) (2000) Ensiklopedi
Ilmu-ilmu Sosial, Jilid I, Diterjemahkan Oleh Haris Munandar dkk, Jakarta: Raja Grafindo
Persada, hlmn.41-42.
Zeitlin, Irving, M. (1995) Memahami Kembali Sosiologi, Kritik Terhadap Teori Sosiologi
Kontemporer, Penerjemah: Anshori dan Juhanda, Yogyakarta: Gajam Mada University Press.
Zetterberg, Hans, L. (1966), On Theory and Verification in Sociology, Totowa, N.J..: Bedminster,
Press.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar